Lagi-lagi kami terdiam tak ada yang berbicara. Ponsel di tanganku terasa semakin berat, aku terus menatap foto batu nisan itu. Namanya, tahun, dan tulisan yang tertera di permukaannya itu, semuanya terlihat nyata. Namun justru itulah yang membuatku curiga.
"Ayah."
Beliau masih terduduk di kursi, tatapannya kosong.
"Apakah Ibu benar-benar dimakamkan di sana?"
Ayah mengangkat kepala perlahan.
"Aku... tidak tahu."
Jawaban itu membuatku mengernyit.
"Maksud Ayah?"
Beliau menarik napas panjang.
"Waktu itu, aku tidak pernah melihat jenazahnya."
Lia menatap Ayah tak percaya.
"Bagaimana mungkin?"
"Yang kuterima hanya kabar."
"Dari siapa?"
"Polisi."
"Apakah Ayah ikut ke pemakaman?"
Beliau menggeleng.
"Tidak ada pemakaman."
Aku langsung menatap foto di layar.
"Kalau begitu, batu nisan ini milik siapa?"
Tak seorang pun mampu menjawab, dan aku makin diliputi rasa penasaran, lalu aku memperbesar foto itu. Kualitasnya cukup baik, bahkan ukiran pada batu nisan terlihat jelas. Lalu sesuatu menarik perhatianku.
"Ayah."
"Lihat ini."
Aku menunjuk sudut kanan bawah foto, ada bayangan seseorang yang terlihat samar. Hanya sebagian tubuhnya yang tertangkap kamera, Raka segera mengambil ponselku. Ia memperbesar gambar beberapa kali.
"Ini bukan bayangan."
"Lalu?"
"Seseorang memang berdiri di sana."
"Bisakah dikenali?"
Raka menggeleng.
"Wajahnya terpotong."
"Tapi..."
"Tapi apa?"
"Dia memakai tongkat."