Stalker Misterius KOZMIC BLUES

Hans Wysiwyg
Chapter #34

Penjaga Janji.#34 Kozmic Blues

Tanganku tetap berada di samping tubuh, tidak ada ancaman yang membuat aku harus bersiaga jika akan terjadi sesuatu seperti kekuatiran teman-teman, karena aku memutuskan datang sendiri ke pemakaman ibuku.

Pria bertongkat itu pun tidak memaksaku, atau menunjukkan gelagat mencurigakan yang membuatku harus waspada. Ia hanya memegang amplop tersebut dengan tenang, seolah ia sudah menunggu momen ini selama bertahun-tahun.

"Kamu tidak ingin membacanya?" tanyanya.

"Aku ingin memastikan satu hal dulu."

"Apa?"

"Kalau tulisan itu memang tulisan ibuku, bagaimana bisa berada di tangan Anda?"

Senyumnya tidak berubah.

"Pertanyaan yang bagus."

"Tapi itu bukan pertanyaan pertama yang seharusnya kamu ajukan."

"Lalu apa?"

Pria itu mengangkat tongkatnya, menunjuk batu nisan di hadapan kami.

"Seharusnya kamu bertanya, siapa yang menguburkan seseorang yang tidak pernah dimakamkan."

Aku menoleh ke arah nisan itu, sekali lagi kubaca nama ibuku. Aku tiba-tiba kaget dan merasa ragu jika aku sekarang berada di makam yang salah.

MAYA PRAMESTI

Aku berjongkok, kali ini aku memperhatikan lebih teliti. Batu itu sudah tampak tua, tetapi tanah di sekitarnya berbeda, rumput tumbuh tidak merata. Beberapa bagian lebih gembur daripada yang lain, seolah-olah nisan itu pernah dipindahkan.

"Kamu menemukannya?."

Aku berdiri kembali setelah mengamati nisan itu untuk mencari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.

"Nisan ini bukan yang asli?."

"Bukan."

"Lalu kenapa ada di sini?"

"Karena seseorang ingin dunia percaya ibumu benar-benar mati."

Aku menatapnya tajam.

"Siapa?"

Pria itu tidak menjawab. Ia justru menyerahkan sebuah benda kecil, bukan amplop melainkan sekeping logam bundar sebesar uang logam. Di permukaannya terukir simbol yang sudah sangat kukenal, lingkaran hitam dengan angka Romawi XII di tengahnya.

"Simbol yang sama dengan yang ada di amplop."

Pria itu mengangguk.

"Ya."

"Artinya apa?"

"Itu bukan lambang organisasi."

"Bukan?"

"Itu lambang sumpah."

Aku mengernyit.

"Sumpah?"

"Dua belas orang."

"Dua belas janji."

"Dua belas penjaga."

Aku langsung teringat daftar Subjek Nara.

"Dua belas anak?"

Pria itu menggeleng.

"Bukan."

"Dua belas orang dewasa yang bersumpah melindungi dua belas anak."

Lihat selengkapnya