Debu masih beterbangan, begitu ledakan menggelegar, pecahan batu nisan berguling ke kakiku. Aku tidak lagi melihat orang-orang berpakaian hitam, tidak juga melihat Surya yang lenyap entah kemana. Kini tidak melihat jalan keluar, seluruh perhatianku tertuju pada kotak hijau yang perlahan muncul dari dalam tanah.
Kotak itu kecil, panjangnya sekitar tiga puluh sentimeter terbuat dari logam yang mulai berkarat. Di bagian atasnya terdapat lambang yang belum pernah kulihat sebelumnya, bukan lingkaran hitam atau angka Romawi XII, tapi gambar seekor burung bangau yang sedang mengepakkan sayap. Burung itu menggigit sebatang ranting. Entah mengapa lambang itu terasa begitu akrab, karena aku merasa pernah melihatnya saat kecil.
"Vel!"
Suara Surya membuyarkan lamunanku, karena tiba-tiba muncul kembali.
"Jangan bergerak!"
Empat pria berpakaian hitam sudah menyebar membentuk setengah lingkaran, mereka tidak mengeluarkan senjata, dan tidak mengancam atau berteriak meminta kami agar tidak bergerak. Mereka hanya berjalan pelan kearah kami seolah yakin tidak ada seorang pun yang mampu membawa kotak itu pergi karena mereka sudah mengepungnya.
Pria yang tadi memegang map berhenti sekitar lima meter di depanku, tatapannya datar.
"Serahkan kotaknya."
"Apa isinya?"
"Itu bukan urusanmu."
"Kalau bukan urusanku, kenapa kalian mencariku?"
Ia terdiam sesaat, kemudian menjawab,
"Karena hanya kamu yang bisa membukanya."
Jantungku berdetak lebih cepat.
"Aku bahkan belum pernah melihat kotak ini."
"Benar."
"Tapi kotak itu dibuat untukmu."
Surya tertawa lirih.
"Tidak."
Semua mata beralih kepadanya.
"Kotak itu tidak dibuat untuk Velaren."
"Lalu?"
"Velaren hanya pembawanya."
Pria bermap menghela napas pendek.
"Surya."
"Sudah cukup."