Semua kejadian itu berlangsung begitu cepat. Bahkan rasanya aneh hanya untuk sebuah urusan seperti itu, mereka sampai harus mendatangkan helikopter. Jika benar mereka datang dari Badan Arsip Nasional, rasanya semua itu sangat berlebihan. Semua itu semakin membuatku dipenuhi rasa penasaran, apa sebenarnya semua ini.
Aku menatap map cokelat yang kini berada di dekat kakiku itu tanpa berkedip. Angin dari baling-baling helikopter membalik sampulnya, di dalamnya memang terdapat sebuah akta kelahiran lengkap, ada stempel, nomor registrasi, tanda tangan. Semuanya tampak resmi.
Nama anak:
Velaren Mahesa Pradana.
Nama ayah:
Mahesa Pradana.
Nama ibu:
Maya Pramesti.
Dadaku terasa sesak, karena selama ini aku percaya Mahesa hanyalah orang yang menemukanku, yang mengajariku membaca, menulis, berpikir kritis, bukannya...
Aku bahkan tidak sanggup menyelesaikan pikiran itu.
"Ambil." Suara perempuan dari helikopter terdengar tenang.
"Itu hakmu." Aku membungkuk mengambil map tersebut, kertasnya masih baru. Aku membuka halaman kedua, lalu berhenti karena ada sesuatu yang janggal menurutku. Tanggal penerbitannya 18 Februari 2008.
Aku langsung mengangkat kepala.
"Mustahil."
Semua orang memandangku.
"Ada apa?" tanya Surya.
Aku memperlihatkan tanggal itu.
"Kalau aku lahir tahun 2000, kenapa akta ini baru diterbitkan delapan tahun kemudian?"
Keheningan menyelimuti pemakaman, pria bermap menutup matanya sebentar, seolah ia tahu pertanyaan itu akan muncul.
"Akhirnya kamu melihatnya." Aku menatapnya tajam.
"Jadi ini palsu?"
"Tidak."
"Kalau bukan palsu, berarti identitasku diubah."
Ia tidak menjawab, namun diamnya sudah cukup buatku. Helikopter perlahan turun beberapa meter, kini aku dapat melihat perempuan itu lebih jelas. Usianya sekitar lima puluh tahun, dengan rambut pendek dan tatapan matanya tajam.
Ia mengenakan mantel panjang berwarna gelap, tidak tampak seperti aparat, tapi tidak juga seperti penjahat. Ia justru terlihat seperti dosen atau peneliti.
"Mahesa tidak pernah menjadi ayah kandungmu."
Kalimat itu membuatku terdiam.
"Tapi, dia memilih menjadi ayahmu."
Aku menoleh kepada Surya, pria tua itu mengangguk pelan.
"Itu benar."
Perempuan itu melanjutkan.
"Nama yang kamu pakai adalah nama yang dipinjam."
"Kenapa?"
"Karena nama aslimu tidak boleh muncul dalam dokumen negara."
Aku menggenggam map itu.