Stalker Misterius KOZMIC BLUES

Hans Wysiwyg
Chapter #37

Orang Pertama yang Memanggilku Velaren#37 Kozmic Blues

Aku membaca kalimat di atas amplop itu berulang kali. Bagaimana pesan itu bisa muncul, padahal amplop itu masih tersegel rapat.

Jangan dibuka sebelum kamu mengetahui siapa yang memanggilmu Velaren untuk pertama kalinya.

Tanganku perlahan mengepal, kesal karena begitu banyak temuan tapi tetap saja menyimpan teka-teki jawaban. Apalagi kali ini pertanyaannya bukan siapa aku, melainkan kapan aku menjadi Velaren.

Selama ini aku selalu menganggap nama itu lahir ketika aku memutuskan menggunakan nama pena, jadi kalau surat ini benar, berarti seseorang telah memanggilku dengan nama itu jauh sebelum aku sendiri memakainya.

Aku mengangkat kepala.

"Dr. Ratih."

Perempuan itu menatapku.

"Siapa orang pertama yang memanggilku Velaren?"

Ia tidak menjawab, aku yakin bukan karena tidak tahu, tapi bisa jadi karena sedang menimbang sesuatu. Akhirnya ia berkata pelan,

"Jawaban itu tidak ada padaku."

"Lalu pada siapa?"

Ia memandang Surya, dan langsung dijawab dengan gelengan kepala.

"Bukan padaku."

Aku mulai kehilangan kesabaran.

"Setiap kali aku bertanya, kalian selalu saling melempar jawaban."

"Kali ini tidak."

Surya menarik napas panjang.

"Kali ini memang tidak ada satu pun dari kami yang mendengarnya."

Aku mengernyit.

"Maksudnya?"

Dr. Ratih berkata pelan,

"Orang yang pertama kali memanggilmu Velaren sudah meninggal."

Keheningan menggantung di antara kami, aku mencoba menyusun kemungkinan-kemungkinan.

Mahesa?

Bukan.

Maya?

Kalau benar surat itu ditulis olehnya, ia pasti tidak akan membuat teka-teki yang jawabannya adalah dirinya sendiri.

Aira?

Tidak mungkin, usianya tidak masuk akal. Lalu siapa?

Tiba-tiba aku teringat sesuatu, dalam surat Aira terdapat satu kalimat yang sejak awal menggangguku.

"Aku mengenal namamu jauh sebelum mengenal ceritamu."

Saat itu aku mengira yang dimaksud adalah nama penaku, bagaimana kalau bukan?

Bagaimana kalau nama Velaren memang sudah ada sejak awal?

"Ayah."

Aku menoleh kepada Ayah.

"Apakah Mahesa pernah menyebut nama itu ketika aku masih kecil?"

Beliau tampak berpikir keras, cukup lama tapi kemudian menggeleng.

"Tidak."

"Yakin?"

Lihat selengkapnya