Sesudah laki-laki itu pergi, kabar baru itu menjadi kejutan yang membuat teka-teki bertambah rumit. Tidak ada yang berbicara, semua bergelut dengan pikirannya sendiri.
Kalimat terakhir Dr. Ratih terus bergema di kepalaku.
"...rak itu disiapkan bahkan sebelum kamu lahir."
Aku menatapnya lama.
"Lalu, siapa yang menyiapkannya?"
"Mahesa, dan Maya."
"Tapi kenapa?"
"Karena mereka yakin suatu hari akan ada seorang anak yang tidak bisa diselamatkan dengan cara biasa."
Aku menggeleng karena bingung dengan banyaknya informasi yang saling menimpa.
"Aku tidak mengerti."
"Bukan kamu."
Dr. Ratih mengoreksi dengan tenang.
"Yang mereka siapkan bukan untuk Velaren."
"Lalu?"
"Untuk siapa pun yang kelak harus memikul semua ini."
Aku mengernyit.
"Maksudnya?"
Surya melangkah mendekat.
"Mahesa percaya satu hal."
"Kalau semua bukti dikumpulkan pada satu orang, maka hanya orang itu akan diburu."
"Kalau bukti disembunyikan di banyak tempat, kebenaran akan hilang."
"Lalu?"
"Ia memilih cara ketiga."
"Cerita."
Aku menatap Surya tanpa berkedip.
"Cerita?"
"Ia menyembunyikan bukti di dalam cerita."
Dadaku berdegup kencang. Cerita, novel, catatan, surat atau buku?, apakah tujuannya untuk mengecoh si pemburu?, Dan inikah pilihan yang akan bisa menyelamatkan seseorang kelak jika kemungkinan terburuk terjadi?
Tiba-tiba semua kebiasaan Mahesa terasa masuk akal, ia selalu memintaku membaca. Bukan sekadar agar aku pintar, tetapi ternyata agar aku mampu mengenali pola.
"Ayah pernah berkata..."
Aku bergumam pelan.
"'Manusia bisa lupa tanggal, tapi bisa mengingat kisah.'"