Aku terus menatap foto itu mencoba mengenali wajahnya. Seorang anak laki-laki, usianya sekitar lima tahun, sedang memegang buku bergambar burung bangau dan tersenyum ke arah kamera. Di kanan kirinya berdiri Mahesa dan Maya.
Kalau orang lain melihat foto itu, mereka mungkin hanya akan menganggapnya foto keluarga, namun bagiku foto itu menghancurkan semua yang selama ini kupercaya. Apalagi Mahesa menulis sendiri di balik foto itu.
Jangan cari Velaren. Cari anak ini.
Aku membalik foto itu lagi, berulang kali berharap ada nama, tanggal, tempat atau apa pun. Tetapi tidak ada, hanya kalimat itu yang ada sebagai informasi yang menjelaskannya.
"Lalu siapa dia?" Tidak ada yang menjawab.
Dr. Ratih bahkan tampak lebih bingung daripada aku.
"Itu tidak mungkin..." gumamnya.
"Apa?"
"Aku tidak pernah melihat foto ini."
Surya mengambil foto itu perlahan, tangannya bergetar.
"Aku juga."
"Kalian tidak pernah melihatnya?"
"Tidak."
"Tapi Mahesa menulis sendiri pesan itu."
Surya mengangguk.
"Itulah yang membuatku takut."
Aku memperhatikan kembali wajah anak itu, ada sesuatu yang menggangguku, bukan karena aku mengenalnya tapi karena posisi tangan kanannya. Ia menggenggam buku dengan cara yang aneh, jempolnya berada di dalam lipatan halaman. Seolah sengaja menandai sebuah halaman tertentu, aku memperbesar foto menggunakan ponsel. Halaman buku itu tampak sedikit terbuka, di sana terlihat angka.
13.
Aku langsung mengangkat kepala.
"Bab tiga belas..." gumamku tanpa sadar.
"Apa?" tanya Lia melalui sambungan telepon yang akhirnya berhasil tersambung.
Aku baru sadar sejak beberapa menit lalu panggilannya masih aktif, suara Lia terdengar putus-putus.
"Vel... kamu dengar?"
Aku menjauh sedikit dari keramaian.
"Lia, lihat foto yang baru kukirim."
Beberapa detik kemudian ia menjawab.
"Tunggu..."
"Halaman bukunya?"
"Iya."
"Kenapa angka tiga belas dilingkari?"
Aku terdiam.