Tanganku masih berada di atas halaman pertama buku harian itu. Tidak ada tulisan lain, apapun selain hanya judul.
Perpustakaan Langit.
Penulis:
Velaren.
Aku membaca nama itu berulang kali, semakin lama kulihat, semakin terasa asing. Bukan karena nama itu bukan milikku, tetapi karena Mahesa menuliskannya bertahun-tahun sebelum aku memilih nama pena itu.
"Ini mustahil." bisikku.
"Tidak."
Suara Dr. Ratih terdengar pelan.
"Ini sangat mungkin."
Aku menatapnya.
"Bagaimana mungkin?"
"Aku sendiri belum mengenal nama Velaren saat itu."
Dr. Ratih tidak langsung menjawab, ia mengambil buku harian itu dengan sangat hati-hati, seolah memegang benda yang rapuh.
"Mahesa pernah mengatakan sesuatu kepadaku."
"Apa?"
"'Nama bukan sesuatu yang kita pilih.'"
"'Kadang nama adalah arah yang kita temukan.'"
Aku mengernyit.
"Aku tidak mengerti."
"Mahesa tidak memberimu nama."
"Ia memberimu tujuan."
Raka yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
"Vel..."
"Ada sesuatu yang aneh."
"Apa?"
"Kalau Mahesa benar-benar ingin kamu menulis buku ini, kenapa ia tidak meninggalkan drafnya?"
Pertanyaan itu membuat semua orang terdiam, benar juga. Mahesa justru meninggalkan surat, kaset, foto, catatan, tetapi tidak ada naskah, atau kerangka cerita. Bahkan tidak ada satu bab pun.
Kenapa? Surya tersenyum masygul, karena merasa keheranan.
"Karena Mahesa tidak ingin buku itu menjadi miliknya."
"Lalu?"
"Ia ingin buku itu menjadi milik orang yang berhasil menemukan kebenaran."
Aku kembali membuka halaman berikutnya, tak ada apapun didalamnya, kosong. Begitu juga dengan halaman ketiga, keempat dan kelima, semuanya kosong.
Sampai akhirnya di halaman ketujuh aku menemukan satu kalimat pendek dengan tinta hitam.
"Jangan menulis apa yang kamu dengar."
Aku membalik halaman, kalimat berikutnya muncul.
"Tulis apa yang berhasil kamu buktikan."
Aku menelan ludah.
Halaman berikutnya.
"Kalau ada satu bagian yang tidak kamu yakini..."