Stalker Misterius KOZMIC BLUES

Hans Wysiwyg
Chapter #44

Orang yang Membuka Pintu #44 Kozmik Blues

Tak seorang pun bergerak, seperti tak bisa berkutik. Ikon Wi-Fi di sudut layar masih menyala hijau, dan suasana sunyi yang memenuhi ruangan terasa lebih berat daripada pemakaman. Raka menjadi orang pertama yang bereaksi, ia segera menutup layar laptop.

Klik. Ruangan kembali hening.

"Aku tidak menyalakan internet." katanya.

Lia menggeleng cepat.

"Aku juga."

Dr. Ratih mengeluarkan ponselnya, mode pesawat, Surya bahkan tidak membawa telepon pintar. Semua mata perlahan beralih kepadaku, aku menggeleng.

"Bukan aku."

Tidak ada lagi yang tersisa, dari siapapun mereka yang menggunakan jaringan internet atau Wi-Fi.

Kalau begitu, siapa?

Raka membuka kembali laptop itu, ikon Wi-Fi sudah mati, dan pesan tadi menghilang. Folder berisi tiga belas video muncul kembali, semua masih utuh, tak ada yang berubah. Lia mengembuskan napas panjang.

"Berarti tadi hanya peringatan."

"Bukan." Suara Surya terdengar lirih.

"Itu ucapan terima kasih."

Kami menoleh bersamaan.

"Maksudnya?"

Surya berjalan pelan menuju jendela, ia memandang halaman rumah yang mulai diguyur hujan tipis.

"Laptop itu tidak pernah benar-benar membutuhkan internet."

"Lalu?"

"Ia hanya menunggu seseorang membuka pintunya."

Aku mengernyit.

"Pintu?"

"Bukan pintu rumah."

"Bukan jaringan."

"Pintu ke langkah berikutnya."

Aku tidak memahami maksudnya, namun Mahesa memang selalu menyukai istilah-istilah semacam itu.

"Apa kita buka videonya?" tanya Lia.

Aku memandangi folder itu cukup lama, ada tiga belas video. Kalau kami langsung membuka video terakhir, mungkin kami akan memperoleh jawaban lebih cepat, tetapi, aku teringat tulisan Mahesa.

Urutan mengubah cara manusia memahami kebenaran.

Aku menggeleng.

"Kita mulai dari Penjaga 01." Raka mengangguk.

"Kalau begitu kita ikuti aturan Mahesa."

Aku mengklik video pertama, layar gelap beberapa detik, kemudian muncul gambar yang berguncang, seolah direkam menggunakan kamera sederhana.

Lihat selengkapnya