Aku membalik kartu anggota Perpustakaan Langit itu, di bagian belakang terdapat cap tanggal, 12 Oktober 2004. Artinya usia kartu itu sudah lebih dari dua puluh tahun. Sudut-sudut kartu mulai rapuh, tetapi satu kalimat di bagian bawah masih bisa kubaca dengan jelas.
Kartu ini tidak dapat dipindahtangankan.
Aku mengangkatnya ke arah cahaya, bekas tinta hitam yang mencoret nama pemiliknya mulai terlihat lebih tipis. Huruf-huruf yang semula hanya tampak seperti AIR... perlahan membentuk nama yang lebih utuh. Tapi ternyata bukan Aira, melainkan Airani.
Aku mengulang nama itu pelan.
"Airani..."
Dr. Ratih langsung memejamkan mata, Surya menundukkan kepala. Aku melihat gelagat itu sehigga tidak perlu bertanya, mereka pasti mengenalnya.
"Siapa dia?" Tidak ada jawaban.
"Ratih." Kali ini suaraku lebih tegas.
"Jangan ada lagi rahasia."
Dr. Ratih menarik napas panjang.
"Aira bukan nama sebenarnya."
Dadaku berdegup.
"Nama lengkapnya Airani Maheswari."
Aku mengernyit.
"Bukan anak Mahesa," kata Dr. Ratih cepat, seolah sudah menebak pikiranku.
"Maheswari adalah nama keluarganya." Aku mengangguk pelan.
"Lalu kenapa memakai nama Aira?"
"Karena itu nama yang diberikan Mahesa."
"Kalian bertemu ketika dia berusia sembilan belas tahun," lanjut Dr. Ratih.
"Ia datang ke Perpustakaan Langit sebagai relawan."
"Relawan?"
"Ia mahasiswa sastra."
Aku langsung teringat suratnya, cara ia memilih kata dan menyusun kalimat, semuanya terasa seperti tulisan seseorang yang sangat mencintai bahasa.
"Awalnya tugasnya sederhana."
"Apa?"
"Mengalihaksarakan arsip."
"Mengapa?"
"Karena banyak catatan lama ditulis tangan."
"Aira mengetiknya kembali."
Aku terdiam mencoba mencerna setiap potongan informasinya.
"Tapi..."
Dr. Ratih melanjutkan,
"Semakin lama bekerja ia mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres."
"Apa?"
"Beberapa arsip hilang."