Kami memutuskan untuk mendatangi perpustakaan sekolah. Hujan belum reda ketika kami tiba di halaman sekolah yang bangunannya tampak jauh lebih kecil dibanding yang pernah kuingat. Cat temboknya mulai mengelupas, dan lapangan upacara masih seperti dulu dipenuhi genangan air. Hanya saja pohon ketapang yang dulu menaungi halaman kini tumbuh jauh lebih besar.
Aku memandangi gerbang sekolah itu cukup lama, setelah sekian lama tak pernah mengunjunginya lagi. Semua kenangan berkelebat, aroma petrichor terasa memenuhi udara. Bau debu yang terperangkap butiran hujan.
"Aneh." gumamku.
"Apa?" tanya Lia.
"Aku sudah berkali-kali datang ke sini setelah Mahesa meninggal."
"Tapi aku tidak pernah merasa ada sesuatu yang disembunyikan."
Surya tersenyum, senyum yang artinya bahwa begitu rapatnya rahasia tersembunyi selama ini.
"Itulah tujuan sebuah tempat persembunyian."
"Bukan membuat orang tidak bisa menemukannya."
"Tetapi membuat orang tidak merasa perlu mencarinya."
Perpustakaan sekolah berada di bangunan paling belakang, masih sama seperti dulu. Jendelanya lebar, atap sengnya sudah mulai berkarat dan di pintunya tergantung papan kayu bertuliskan: PERPUSTAKAAN yang huruf-hurufnya mulai pudar.
Aku melangkah mendekat, dan setiap langkah terasa membawa kembali kenangan yang lama terkubur. Di ruangan inilah Mahesa pertama kali mengajariku mengeja, di meja dekat jendela itulah aku menulis cerpen pertamaku dan di rak sebelah timur aku pernah menangis karena tidak menemukan akhir sebuah buku yang rusak.
Tempat ini telah membentuk sebagian besar masa kecilku, tapi hari ini rasanya berbeda karena aku tidak datang sebagai murid, melainkan sebagai seseorang yang sedang mencari jawaban.
Pintu perpustakaan terkunci, aku mengeluarkan kunci kuningan pemberian Dr. Ratih. Bentuknya tidak cocok dengan lubang kunci pintu, aku mencoba sekali lagi tapi tetap tidak bisa.
"Berarti bukan pintu depan." kataku.
Surya mengangguk.
"Mahesa tidak pernah memakai jalan yang paling mudah."
Jadi kami mulai memeriksa seluruh ruangan dari luar, dan tidak ada yang aneh, sampai Lia berhenti di bawah jendela sisi utara.
"Vel..." Aku menghampirinya.
"Ada apa?"
Ia menunjuk kusen jendela yang catnya mulai mengelupas, di balik lapisan cat itu tampak ukiran kecil seekor burung bangau sangat biasa sehingga nyaris tidak terlihat.
Aku menyentuh ukiran itu, tepat di bawahnya terdapat lubang kecil. yang ukurannya persis sebesar kepala kunci kuningan. Lalu aku memasukkan kunci itu.