STAR LEGACY

Ebie
Chapter #1

01 - CADET ROSELYN

PROLOGUE


Tahun 2075, seorang ilmuwan jenius dan nyentrik yang memiliki sebuah laboratorium rahasia nan canggih yang terletak di tengah-tengah pegunungan dalam pedalaman hutan lebat di Indonesia, telah berhasil menemukan mesin anti-gravitasi. Ilmuwan tersebut dikenal dengan nama Profesor Murdiman Star, yang selanjutnya diberikan gelar sebagai Sang Bapak Mesin Anti-Gravitasi. Temuannya ini membuat gebrakan karena ketidak-bergantungannya pada bahan bakar fosil, Profesor Murdiman telah mengubah cara hidup orang Indonesia –bahkan dunia—dengan drastis.

Beliau mendirikan perusahaan dengan biaya sendiri yang dinamakan Starcorp, sebuah perusahaan multi-nasional yang mengembangkan MA-G (mesin anti-gravitasi) secara khusus. MA-G langsung mengubah total cara hidup manusia pada umumnya, mulai dari penggantian mobil roda empat menjadi mobil tanpa roda, pengangkutan alat berat sampai pembangunan kota kecil yang melayang di atas langit. Indonesia dalam sekejap menjadi pusat perhatian dari seluruh dunia karena kemajuannya yang sangat pesat.

Profesor Murdiman sangat patriotik dan ingin temuannya ini tetap dikembangkan oleh Indonesia, tapi kepatriotannya itu harus dibayar dengan harga yang mahal. Selain harus melawan musuh dari dalam negeri seperti perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang tenaga fosil, ia juga harus melawan ancaman dari luar. Banyak negara lain yang berusaha merebut teknologi tersebut, ada yang berusaha membelinya dengan harga yang sangat mahal dan ada pula yang ingin mengambil teknologi tersebut dengan paksa. Sang Profesor, teman-teman, dan bahkan keluarga menjadi sasaran kejahatan orang-orang yang menginginkan teknologi anti-gravitasi tersebut. Starcorp diserang bertubi-tubi secara fisik maupun secara finansial, tapi dengan perlindungan penuh dari pemerintah–serangan tersebut selalu bisa diatasi.

Karena penyerangan yang terus dilakukan tak pernah menuai hasil yang baik, sebuah negara nekat menginvansi Indonesia secara besar-besaran–dengan alasan penyimpanan senjata rahasia pemusnah masal yang dikaitkan dengan sistem anti-gravitasi penemuan Prof. Murdiman. Tindakan ini dinilai sangat biadab oleh Presiden Indonesia, dengan tidak gentar sang Presiden menyuarakan semangat perang untuk melawan penjajah yang berusaha merebut api kecemerlangan dari Indonesia. Peperangan pecah di berbagai penjuru Indonesia, peperangan melawan negara penginvasi yang ingin merebut rahasia mesin anti-gravitasi.

Negara penginvasi tersebut mendapatkan bantuan dari negara-negara sekutunya, peperanganpun mulai tak imbang–rakyat mulai terpukul mundur melawan jumlah mereka yang terus bertambah. Tapi ternyata banyak negara tetangga dan negara-negara lain yang merasa terpanggil dan membantu Indonesia untuk bertahan melawan penjajahan tersebut. Situasi ini membuat kekacauan di seluruh dunia, dari peperangan untuk mempertahankan kedaulatan dalam negeri yang telah difitnah karena mengembangkan senjata pemusnah masal hingga berlanjut sampai pecahnya Perang Dunia Ketiga.

Setelah melewati waktu yang berkepanjangan hingga hampir tujuh tahun lamanya, Perang Dunia Ketiga pun berakhir. Kekacauan terbesar sepanjang sejarah manusia modern ini meninggalkan luka yang amat dalam bagi seluruh penduduk dunia, dengan kesadaran akan pentingnya perdamaian dunia–negara-negara yang telah berhasil menghentikan perang akhirnya membentuk aliansi perdamaian dunia: The Gaia Alliance. Di bawah kepemimpinan The Gaia Alliance banyak terjadi penyatuan negara-negara, proses pemersatuan negara ini berlangsung dengan aman dan mendapat dukungan dari rakyat, bahkan para pemimpin negara yang bersangkutan–tanpa peperangan yang mengatas-namakan demokrasi.

Indonesia sebagai salah satu pendiri aliansi tersebut mengungkapkan visi dan misi dari sang profesor penemu mesin anti-gravitasi di depan khalayak umum, pada saat upacara perdamaian berlangsung. Di depan mata penduduk dunia, Prof. Murdiman Star mengungkapkan mimpinya untuk membuat penjelajah antariksa yang dibuat bersama-sama oleh berbagai negara. Ia menamakan proyek penjelajahan luar angkasa ini sebagai The Great Comodo project, para peserta bersorak sorai menyatakan tanda setuju. Beliau pun memperkenalkan anaknya yang akan menjadi penerusnya jika suatu saat dia tak bisa lagi melanjutkan proyek ini. Anaknya yang juga jenius itu bernama Halibie Star.

Sayangnya, lima belas tahun setelah wafatnya Prof. Murdiman, di tengah-tengah pengerjaan proyek Comodo—Halibie dibunuh secara misterius di laboratoriumnya sendiri.

==END OF PROLOGUE==

 

*         *         *

 

Bintang-bintang bertabur indah menghiasi malam sunyi, menemani bulan sabit yang terlihat hanya diam mengawang-awang di langit. Sinar rembulan yang lembut menyinari hamparan padang rumput jauh di permukaan bumi. Rangkaian rumput liar yang tumbuh tinggi di area lapang tersebut seakan menari karena tertiup angin dingin yang lembut menerpa mereka. Sesosok siluet perempuan terlihat sedang tiduran di antara rerumputan itu dengan santai sambil menggoyangkan kaki kanannya yang ditumpukan pada kaki satunya lagi.

Kedua tangannya menekuk dan menumpu kepalanya, rambut hitam terlihat berkilau di gelapnya malam. Rambut panjangnya dikepang dan sengaja dibiarkan menjuntai di sekitar dadanya yang tertutupi jaket hitam kuning. Matanya yang coklat, menatap ke arah langit yang indah. Dia terlihat tersenyum saat memandangi keindahan malam hasil karya tak tertandingi dari sang alam.

Sesekali ia menutup matanya dan menghirup nafas panjang saat merasakan hembusan angin yang datang menerpanya–dingin tapi menyegarkan. Perempuan itu semakin senang saat hembusan angin bertambah kencang, semakin kencang anginnya semakin lebar senyum di mulutnya.

Tiba-tiba sebuah suara tinggi mengagetkannya, ia langsung membuka mata dan menaikkan badannya. Dalam posisi satu tangan menahan badannya sambil tetap terduduk, ia melihat ke arah suara yang mengganggunya. Suara yang bernada tetap dan berulang-ulang itu tidak jauh, hanya beberapa meter darinya terlihat kelap kelip lampu berwarna merah.

“Oh tidak lagi.” Ujarnya sambil berdiri menghampiri sumber lampu tersebut.

Dia berjalan sambil menyingsingkan lengan kiri jaketnya, dia mengetuk layar jam tangannya dan layarnya menunjukkan pukul 23:14, 18 Agustus 2218. “Yah, ini pasti sebuah rekor.“ Dia menggerutu dengan suara halusnya, “ada apa mereka menelpon malam-malam begini?”

Perempuan itu menghampiri –apa yang terlihat seperti— sebuah motor tanpa roda, dengan bagian tengah setang kemudinya yang mengeluarkan cahaya kelap-kelip berwarna merah. Dia menekan tangannya pada sebuah layar yang terletak di tengah setang kemudi motor tersebut, lampu merah yang berkelap kelip pada layarpun menghikang dan muncul garis cahaya vertikal yang bergerak dari kiri ke kanan memindai telapak tangannya. Dia mengangkat tangannya dan melihat tulisan di layar:

EMILY ROSELYN

VERIFIKASI SELESAI

Sinar berwarna oranye berpendar ke atas dari layar tersebut, awalnya terlihat hanya seperti gangguan statik –tak lama kemudian muncul sebuah sosok seorang pria berkumis mengenakan topi tentara dalam bentuk hologram tiga dimensi.

“Kadet Roselyn?”

“Ya Pak!” Emmy menjawab dengan keras.

“Ada di mana kau?!” Pria di hologram tersebut setengah berteriak. “Kami menelpon ke apartemenmu dan tak ada jawaban!”

“Saya sedang, err, berjalan-jalan.” Emmy menjawab dengan ragu.

“GPS mengatakan kau sedang berada di padang rumput di pinggiran kota. Bisakah kau berangkat ke markas? Ada keadaan darurat di sini!”

Kalau sudah tahu tak usah bertanya dong, dalam hati Emmy kesal sendiri.

“Cepat kemari! Kau dengar?”

“Jelas Pak, saya akan ke sana secepatnya!” Jawabnya sambil memberi hormat.

“Baiklah, Delta keluar.” Dan hologram tersebut pun mati.

Emmy masih terdiam dalam posisi hormat setelah beberapa lama baru ia menurunkannya dan menghela nafas panjang. “Padahal baru saja aku mau bersantai.”

Emmy menaiki motor yang terlihat agak terlalu besar untuk ukuran tubuhnya, tapi dia dengan pasti memposisikan duduknya agar nyaman–kemudian menggeser-geserkan jarinya di layar dan menekan beberapa simbol untuk menyalakan mesin. Motornya pun mulai terdengar menyala, suara itu terdengar seperti mesin jet yang berputar pelan tapi lama-lama bertambah cepat putarannya dengan suara yang sangat halus. Lampu utama diaktifkan dan cahayanya menyinari hamparan padang rumput di depannya. Lampu-lampu kecil menyala di bagian samping badan motornya, berurutan membentuk satu garis yang bersinar bagian depan sampai ke buntut motornya. Sinar biru mulai bercahaya dari bawah motor yang tak terlihat bannya tersebut. Emmy mengangkat kakinya dari tanah, dan pelan-pelan motor tersebut mulai melayang di atas tanah. Rerumputan di sekitar terlihat merunduk karena tertekan oleh gaya naik saat motor Emmy melayang-layang di udara. Sebuah knalpot besar yang berada di bagian belakang bawah motor mulai berputar dan memendarkan cahaya biru muda di dalamnya.

“Menuju markas GMO.” Emmy berbicara pada layar motornya dan secara otomatis layarnya memperlihatkan peta perjalanan, mengkalkulasi jalur yang akan diambil dari tempatnya sekarang menuju ke lokasi.

“Markas GMO.” Suara wanita yang seperti robot mengkonfirmasi permintaan Emmy, “Lokasi terkunci, GPS aktif.”

Seiring Emmy memutar gagang gas pada setangnya, cahaya biru yang berpendar di knalpot motorpun mulai bertambah terang diiringi dengan garis-garis cahaya yang mulai berputar dalam silindernya. Cahaya itu semakin bertambah cepat putarannya. Sesudah cahaya seakan membakar keluar dari knalpot, diapun melesat dengan kencang melintasi padang rumput menuju ke arah kota yang terlihat siluetnya dari kejauhan.

 

*         *         *

 

Dengan gerbang masuk yang dilengkapi oleh kamera keamanan, lampu sorot terpasang lengkap dengan senjata mesin yang dapat bergerak otomatis mengikuti apapun yang mencurigakan serta penjagaan ketat oleh personil tentara yang membawa senjata laras panjang–Emmy yang setiap hari selalu bolak-balik ke tempat kerjanya ini pun masih merasa segan saat akan memasuki markas GMO. Kamera yang terasa jelas mengikuti terus ke mana dia bergerak, lampu yang menyorotnya dengan todongan senjata mesin dan personil yang berseragam lengkap dengan helm dan kacamata pelindung selama dua puluh empat jam penuh.

Lihat selengkapnya