“Berikan laporannya!” Delta masuk ke ruangan taktikal dengan terburu-buru.
Ruang taktikal berisikan beberapa peralatan komputer dan elektronik lain yang berjejer dan melingkar membentuk huruf U, dengan sebuah meja besar berbentuk bundar yang permukaannya berkilau seperti kaca yang menjadi pusat dari ruangan. Di sekelilingnya terlihat beberapa orang yang sibuk dan berbicara dengan terburu-buru pada headset mereka, mereka yang berada di dalam ruangan ini adalah garis depan yang selalu melakukan persiapan pertahanan dan penyerangan jika ada ancaman terhadap GMO.
“Lapor, ada laporan penyerangan di salah satu pabrik GMO, Pak.” Salah satu orang berhidung tajam yang sedang mengoperasikan komputer langsung menjawab.
“Kita tahu siapa yang melakukannya, Provsky?” Delta bertanya kepadanya.
“Ya, Pak. Alarm keamanan berbunyi setelah kamera keamanan pintu masuk dirusak mereka.” Jawab Provsky sigap.
“Bagaimana dengan keamanan yang berjaga di sana? Harusnya ada yang berjaga kan.”
“Memang ada, tapi….”
Provsky yang kurus, jangkung itu langsung mengetik sesuatu sambil melihat layar hologram dan tak lama kemudian, meja bundar yang berada di tengah ruangan mulai menyala dan menampilkan beberapa gambar bersamaan–peta digital, gambar video dan beberapa data tulisan yang menjelaskan gambar foto dan profil dari orang yang berada dalam video tersebut.
Delta melihat video dan memperhatikan orang-orang yang berusaha menembus penjagaan pintu depan pabrik tersebut. Mereka tidak menggunakan peralatan profesional, melawan penjaga hanya dengan kekuatan fisik semata–kekuatan fisik yang memang jauh melebihi para penjaga. Beberapa pendobrak itu bisa diatasi dengan senjata tapi setelah ada yang masuk dalam jangkauan serangan tangan kosong para penjahat itu, habislah para penjaga itu. Beberapa terlihat terlempar jauh sampai ke tembok saat didorong oleh para penyusup tersebut.
“Animarxis?!” Delta langsung tahu fraksi yang bertanggung jawab atas penyerangan itu. “Berapa jumlah mereka?”
“Dari yang terlihat...” Provsky memicingkan matanya saat menghitung detail yang ada pada layar. “...sekitar dua puluhan terkonfirmasi.”
“Remy! Pergi ke sana bersama tim respon cepat, hentikan mereka!” Delta langsung berteriak memerintahkan salah satu prajurit berambut cepak yang ada di sampingnya.
“Segera, Pak.” Remy mengangguk dan langsung berlari keluar ruangan.
“Provsky!” Delta menengok lagi kepada pria jangkung itu.
“Ya Pak?!”
“Akses modul keamanan, kurung mereka.” Delta memerintah dengan cepat. “Kunci semua lantai dan ruangan yang bisa kita kendalikan dari sini dan cari tahu apa yang menjadi target mereka di sana!”
“Siap, Pak!” Provsky langsung mulai mengetikkan jarinya dengan cepat.
Dari meja taktik di tengah ruangan, Delta memperhatikan satu per satu semua kamera yang bisa di akses. Dengan serius Delta melihat proses penguncian pabrik tersebut, hampir di setiap titik penting yang terpantau kamera memiliki pintu darurat yang bisa dikendalikan dari ruang taktikal ini. Terlihat di kamera, kepanikan beberapa orang penyusup terlihat saat pintu baja di dekatnya menutup dengan kencang. Mereka mengetahui dirinya telah terjebak di dalam pabrik tersebut. Ada yang dengan cepat berusaha keluar saat pintu mulai menutup, ada yang terlihat kesal memukuli pintu baja yang telah menutup tanpa celah, dan ada pula yang terjepit di antara pintu yang menutup–bisa terlihat orang itu berteriak kesakitan sebelum akhirnya ia terbelah dua karena gencetan pintu besar tersebut.
“Bagus.” Dengan datar Delta berkata, “Provsky, sambungkan aku dengan Tim Respon.”
“Segera, Pak.” Provsky langsung menekan beberapa tombol di depan kanannya dan suara pemimpin Tim Respon terdengar menggema di seluruh ruangan.
“Ya Komandan?!” Suara Remy dari ujung satunya menjawab.
“Penyusup sudah dikarantina, mereka takkan bisa keluar.” Delta berbicara lantang, “lumpuhkan mereka satu per satu. Jangan pakai senjata mematikan kecuali mereka melawan.”
“Siap, Komandan! Kami sudah mengudara dan akan sampai dalam estimasi 3 menit.”
“Tunggu.” Delta diam sejenak dan berkata dengan pelan tapi menakutkan. “Tangkap pemimpinnya hidup-hidup dan bawa padaku!”
* * *
Emmy berjalan di sepanjang lantai yang bergerak selayaknya conveyor, dia berada di terowongan bawah tanah khusus pejalan kaki yang menjadi penghubung antara gedung GMO menuju ke menara pengawas angkasa luar. Terowongan ini memiliki pencahayaan terang dengan garisan cahaya kuning lembut yang ditata secara horizontal dan vertikal di langit-langitnya, sebelah kiri-kanan dindingnya tertempel layar informasi yang seakan terbenam dan menjadi satu dengan tembok yang juga terlihat licin bagai kaca. Beberapa informasi mengenai GMO, berita penting yang sedang terjadi di dunia luar, memperlihatkan larangan selama berada di kawasan vital ini, gambar pemandangan yang hidup dan bisa juga menjadi berwarna seperti warna tembok itu sendiri saat tidak menayangkan sesuatu. Setiap beberapa puluh meter terdapat logo GMO yang di kelilingi garis hitam kuning, Emmy sudah tahu bahwa ini adalah pintu darurat yang dapat membuka jikalau ada suatu kejadian di bawah sini.
Setelah beberapa menit lamanya, tibalah Emmy di penghujung lantai berjalan. Dia melangkahkan kakinya keluar dari lantai berjalan ke karpet karet hitam di depannya, Emmy melihat ke sampingnya–tulisan timbul ‘MENARA PENGAWAS ANGKASA’ terukir di tembok. Dia terus berjalan mendekati dua pintu kaca tebal yang menutup dengan rapat dan saat dia berhenti beberapa langkah di depan pintu tersebut, lampu peringatan berwarna merah menyala.
Dengan sikap tenang Emmy mengeluarkan kartu identitasnya dan memperlihatkannya ke kamera pengawas yang berada tepat di samping pintu. Setelah kamera tersebut memindai kartu dan wajahnya, lampu peringatan pun memudar mati seiring dengan kedua pintu kaca bergeser ke samping dan membuka jalan masuk bagi Emmy.
“Ijin khusus satu hari diberikan. Selamat datang, kadet Roselyn.” Sebuah suara komputer wanita mempersilahkan Emmy masuk.
Setelah melewati pintu kaca, bisa terlihat Emmy berada di sebuah ruangan luas yang berbentuk lingkaran dengan sebuah pilar yang sepertinya berisikan sebuah lift agar bisa mencapai puncak menara di atasnya. Di sekeliling tempat lift itu terdapat banyak komputer dan operator yang terlihat sangat sibuk menjalankan tugasnya, mereka berbicara kepada headsetnya sekaligus mengetik sesuatu pada komputer mereka. Banyak orang yang berlalu lalang, salah satunya adalah Bobby.
“Bobby!” Teriak Emmy sambil mengangkat tangannya ke arah pria berkacamata itu.
Bobby yang mengangkat kepalanya mencari asal suara, akhirnya menengok ke samping saat dia mendengar teriakan wanita yang memanggil namanya lagi. Mata bulat hitam yang semakin bulat karena frame kacamatanya yang juga berbentuk bulat dan tebal, matanya semakin melotot saat melihat Emmy datang mendekatinya.
“Roselyn?” Dia mengernyitkan alisnya.
“Selamat malam, Pak!” Emmy memberi hormat kepada Bobby sambil tersenyum lebar. “Sedang apa di sini?”
“Harusnya saya yang berkata seperti itu.” Bobby membetulkan kacamatanya. “Sedang apa kau di sini?”
“Aku diperintahkan Komandan Delta kemari, katanya kado dari teman-teman harus minta ke Bapak!”
“Hah? Tapi dia bilang besok kan?” Bobby terlihat bingung.
“Sekarang pun tak apa-apa kan?” Emmy dengan wajah datar menunjuk ke jam digital besar di dinding bagian atas.
Bobby melirik sebentar ke arah jam tersebut dan menggumam, “satu lima belas pagi….”
“Berarti sudah besok kan?” Emmy tertawa kecil.
Bobby berpikir sebentar dan berbicara dengan nada rendah, “yah. Secara teknis memang sudah besok.” Bobby menggaruk kepalanya lalu tiba-tiba berteriak kencang, “TAPI KAU MENGGANGGU WAKTU KERJAKU!!”
Seketika seluruh ruangan terdiam, semua operator yang sedang sibuk bekerja langsung mengalihkan pandangan kepada Bobby. Bobby dan Emmy ikut terdiam, memperhatikan satu per satu pandangan mata yang tertuju pada mereka berdua.
“Errh, maaf?” Bobby meminta maaf dengan ragu ke seluruh penghuni ruangan. Yang tak lama setelah perkataan itu kembali menjadi ramai saat mereka melanjutkan tugasnya kembali.
Bobby segera mengajak Emmy keluar dari ruangan pengawas dan memasuki ruang santai para pegawai.
“Kenapa kau mau sekarang juga sih?” Tanya Bobby.
“Kupikir karena aku masih di sini, jadi sekalian saja aku ambil sekarang hadiahnya.” Jawab Emmy dengan polos.
“Tapi ini sudah malam sekali tau…” Bobby terlihat menggeretakkan giginya, “memang kau sudah tahu hadiahnya?”
“Belum.”
Keheningan beberapa saat, lalu Bobby menghela nafas sambil menaruh telapak tangannya dijidat dia sendiri. “Bisakah kau menunggu besok siang saja? Apa kau tidak istirahat?”
“Tidak.” Emmy langsung menjawab, “lagipula aku sedang sulit tidur belakangan ini.”