Starlight di Bulan April

ardiin
Chapter #4

4. Jogja

Pukul empat sore kurang, kereta berhenti di stasiun Yogyakarta. Gadis itu mengucek matanya. Selama perjalanan ia tertidur. Kejora memperhatikan orang-orang yang berdesakkan untuk keluar. Gadis itu menunggu. Enggan untuk ikut berdesak-desakan.

Setelah desakan itu berkurang, barulah ia ikut turun. Menginjakkan kaki di stasiun itu. Ia menghela nafas. Memejamkam matanya sejenak. Dalam hati bergumam menyambut kebebasan yang nyata. Tak akan ada lagi yang mengekangnya, tak perlu lagi membantah siapapun. 

Namun disamping itu, ia gelisah. Memikirkan kemana kakinya ini akan melangkah. Kejora tidak tahu daerah ini. Ia hanya modal nekat. Kejora menghela nafas panjang, menarik kopernya pergi. Berjalan di sekitaran stasiun. Gadis itu menggigit bibir. Melihat sebagian orang yang baru saja turun dari kereta di sambut hangat oleh keluarga atau sanak saudaranya, bercengkarama dengan akrab, menghadirkan rasa iri dalam hati Kejora. Pemandangan yang sungguh membuat dadanya sesak. Harusnya tadi sekitar pukul sepuluh, Kejora juga merasakan itu, sambutan dari keluarganya. Namun ia memilih jalan lain, pergi menjauh.

Kejora mendesah panjang. Sedikit rasa sesal tumbuh dalam hatinya. Memikirkan bagaimana perasaan Bundanya ketika mengetahui ia pergi. Iya, hanya Bundanya. Kejora tidak peduli bagaimana perasaan Ayah dan Kakaknya. Mereka juga sepertinya tidak peduli akan kepergiannya. Ia mencemaskan Bundanya. Wanita itu pastilah bersedih. Kejora menggumamkan kata maaf dalam hati berkali-kali untuk sang Bunda. Ia sudah membuat hati malaikatnya terluka. 

Tapi Kejora tidak bisa kembali. Nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah pergi sejauh ini. Pesan yang ia kirimkan pastilah sudah di baca Kakaknya. Apa kata Ayahnya nanti jika ia pulang. Tidak. Kejora akan menepati ucapannya. Ia akan kembali jika sudah menjadi Sarjana. Gadis itu meneguhkan tekatnya. Ia memutuskan untuk mencari kamar kontrakan di sekitaran stasiun saja. Berjalan, menyusuri jalanan kota Jogja yang ramai dipayungi langit sore. 

Sedang di lain tempat, pemuda itu masih menatap lurus kedepan, ke kerumunan orang yang ada di dalam stasiun. Pandangannya kosong, otaknya blank. Hatinya sakit, perasaannya kacau. Rasa takut dan cemas masih menghantuinya. Sang Bunda yang duduk di sebelahnya mengusap lembut bahu lebarnya. Menenangkan pemuda itu. Ia juga ikut merasakan apa yang Raka rasakan. 

Ayahnya kembali setelah kesana-kemari mengubrak-abrik isi stasiun mencari anak bungsunya, namun tak ia temukan. Pria itu menghela nafas, menatap Raka yang terlihat menyedihkan. Pemuda itu tak lagi menangis, ia yang melarangnya untuk kembali menangis. Laki-laki harus kuat, tak boleh terlihat lemah. 

Pria itu kembali menghela nafas, tak menyangka putrinya memiliki pemikiran untuk kabur. Ia merasa sangat khawatir, namun berusaha untuk terlihat biasa saja.

"Ayo pulang." ajaknya pada anak dan istrinya.

Raka menggeleng pelan. "Raka masih mau nunggu Jora, Yah."

"Ini udah sore Raka. Jora nggak ada disini. Besok kita cari lagi ke sekitaran Jakarta sini. Ayah juga udah minta tolong sama Elan dan Ayahnya untuk bantu nyari Jora di Malang. Anak pembangkang yang bisanya cuma nyusahin itu nggak akan pergi jauh. Kita pasti bisa nemuin dia."

Raka mendongak, menatap wajah letih Ayahnya dengan sorot terluka. Tak terima dengan kalimat Ayahnya itu. "Jora bukan pembangkang, Yah. Jora cuma mau diliat dengan usaha sendiri, bukan dari apa yang Ayah suruh. Jora pergi karena Raka, dia benci sama Raka dan nggak mau ketemu Raka lagi. Dia benci waktu Ayah banding-bandingin dia sama Raka. Jora muak sama segala tuntutan Ayah yang nyuruh Jora untuk kayak Raka."

Nafas pemuda itu memburu. Untuk pertama kalinya ia berani menjawab ucapan Ayahnya. Bundanya hanya mengelus punggungnya, menyuruhnya untuk sabar. Raka berdiri, matanya masih terus menyorot terluka. "Kalo emang menurut Ayah Jora nyusahin, berhenti cari dia, Yah. Biar Raka sendiri yang cari Jora."

Raka langsung pergi, mengabaikan suara Bundanya yang terus memanggil-manggil namanya. Ia ingin menenangkan diri dulu. Pikirannya sedang kalut.

★★★

Lihat selengkapnya