Starlight di Bulan April

ardiin
Chapter #5

5. Bercerita

Semburat jingga menghiasi angkasa. Matahari merangkak turun keperaduannya. Bulan bersiap menampakkan diri. Bintang gemintang mengiringi. Pemandangan senja yang indah dilihat. Memanjakan setiap mata yang menatapnya. Membuat sebagian orang rela meluangkan waktu sejenak, menyaksikan matahari yang akan tenggelam, senja yang menyimpan beribu makna. 

Sama halnya dengan gadis itu. Kejora termangu di depan jendela kamar kontrakannya. Menatap hampa kearah langit senja. Gadis itu tengah gundah. Sebulan sudah berlalu, namun sampai sekarang ia belum mendapat perkejaan. Uangnya semakin menipis. Kejora bahkan hanya makan satu kali dalam sehari, yaitu hanya saat siang. Menahan perih di perutnya saat malam hari, mengakibatkannya susah tertidur. Jika seperti itu, Kejora akan meminum air banyak-banyak, berusaha mengusir lapar. Sebenarnya Bu Nani dan Anna sering mengajaknya makan bersama, namun Kejora malu. Ia terlalu gengsi untuk menerima. Memilih menahan perih daripada harus bergabung bersama mereka. Egonya terlalu tinggi. 

Gadis itu mendesah panjang. Tak menyangka hidupnya akan sesengsara ini. Ia bisa mati kelaparan jika seperti ini terus. Belum lagi untuk membayar sewa kontrakan bulan depan. Kepalanya pusing. 

Semua ini gara-gara Raka. Jika saja pemuda itu tidak mencari perhatian kedua orang tua mereka, mungkin saja Ayahnya tidak akan membanding-bandingkan Kejora dengan Raka, Kejora juga tidak akan memilih jalan untuk kabur. Pemikiran itu semakin membuatnya membenci Raka.

Tak terasa sudah pukul tujuh malam. Sudah dua jam ia berdiri di depan jendela. Angin malam yang mulai menyapanya seolah tak membawa pengaruh apapun, sama sekali tak membuat Kejora kedinginan. Tubuhnya seolah mati rasa. 

Ia menoleh saat mendengar suara Anna. Gadis itu baru saja pulang bersama pacarnya, yang Kejora tahu bernama Rean. Anna pernah sesekali menceritakan soal pemuda itu padanya. Ia juga pernah di ajak berkenalan dengan Rean. Kejora menarik kedua sudut bibirnya ketika Anna melempar senyum, membuat lesung pipinya terlihat jelas, ia membalas lambaian tangan Anna. 

"Ikut makan yuk, Rean beli makanan banyak nih." ajak Anna sambil mengangkat kantung plastik yang dibawanya. 

Kejora tersenyum sopan, menggeleng pelan. "Aku udah makan, Mbak."

"Makan lagi nggak apa-apa, biar gendut." kali ini Rean ikut angkat suara. 

"Enggak deh, Mas. Aku udah kenyang."

"Jangan panggil Mas, ih. Aku ngerasa tua tau."

Kejora menipiskan bibirnya melihat raut cemberut Rean. Ia selalu menolak ketika Kejora memanggilnya Mas. Katanya merasa tua, padahal kenyataannya iya. Usia mereka terpaut dua tahun, sama dengan Anna. Rean kini kuliah Jurusan Psikologi semester lima. Itu yang Kejora tahu dari cerita Anna. 

"Mas Rean kan emang lebih tua dari aku."

"Milih panggil Rean aja atau pake embel-embel sayang? Rean sayang, gitu."

"Hah?" 

Kejora melongo tak percaya mendengar pilihan dari Rean. Ia tidak enak hati pada Anna. Gadis itu pacarnya, tapi Rean bisa berkata demikian pada wanita lain, di depan pacarnya pula. 

Namun diluar dugaan, Anna malah tertawa keras. Bahunya sampai berguncang. Sama sekali tak ada raut cemburu yang tergambar di wajah manisnya. Kejora merasa bingung. Kedua sejoli itu benar-benar aneh. 

Gadis itu menghentikan tawanya saat melihat raut bingung bercampur tidak enak hati milik Kejora. Ia menyeka sudut matanya yang berair. Menatap Kejora dengan sorot geli. 

"Rean emang suka gitu Jora,, jangan kaget."

Kejora mengangguk mengerti. Rean sepertinya tipe orang yang suka bercanda. Namun wajahnya justru terlihat sangar. Alis tebal dan bulu mata lentik yang memayungi bola mata yang selalu menyorot tajam itu terlihat jauh dari kesan konyol. Melihat Rean, Kejora jadi percaya dengan pepatah yang mengatakan jangan menilai orang hanya dari luarnya saja. 

"Pilih mana? Aku nggak mau dipanggil Mas." Sungut Rean menuntut. 

"Rean aja deh." jawab Kejora cepat, membuat Rean menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman. 

Kejora menelan ludah. Pemuda itu terlihat sangat tampan saat tersenyum. Kedua matanya hanya tinggal segaris, memberi kesan menggemaskan, raut sangarnya entah hilang kemana. Gadis itu menggeleng pelan, menyadarkan diri. Rean sudah menjadi milik Anna, dirinya tidak boleh menyukai pemuda itu. Anna baik, tak sepatutnya Kejora menusuk gadis itu dari belakang. 

Kejora memilih untuk menutup jendela setelah berpamitan pada Anna dan Rean. Ia tak membiarkan pikirannya terus memikirkan pemuda itu. 

Gadis itu berbaring di kasurnya. Ditatapnya langit-langit kamarnya dengan hampa. Hanya kesunyian yang menemani. Berusaha mengalihkan pikiran dari Rean, kini bayang-bayang Raka yang menyelinap masuk dalam pikirannya. Pemuda itu sungguh menyayanginya, itu yang Kejora rasakan. Jika Kejora pergi seperti ini, entah bagaimana nasib Raka. Namun gadis itu yakin, Raka pasti kelimpungan mencarinya. Ia juga yakin mereka tidak akan pernah menemukannya. Siapa yang sangka gadis manja seperti dirinya bisa pergi sejauh ini? Tanpa bekal apapun pula. 

Kejora tersenyum kecut. Merasakan perutnya kembali perih karena lapar. Ia beringsut, mengambil gelas yang kemudian diisinya dengan air lalu meminumnya. Setelahnya, ia berusaha untuk tertidur. Mengenyahkan rasa lapar, berusaha masuk ke alam mimpi. Hari-harinya masih panjang. Tak perlu diisi dengan bayang-bayang masalalu yang justru memporak-porandakan hatinya. 

★★★

Entah apa yang di rencanakan semesta. Setelah empat minggu yang panjang karena tiap malamnya menahan lapar, gadis itu akhirnya di terima kerja di salah satu toko kue yang letaknya tak jauh dari kontrakannya, toko kue yang selama ini selalu ia lewati. Tapi entah dapat dorongan dari mana, siang ini hatinya bergerak untuk mampir, mencoba peruntungan untuk melamar kerja disitu. 

Entah harus senang atau sedih, ia diterima dan langsung bekerja hari itu juga, kondisi toko kue sedang ramai-ramainya. Karena bekerja di toko kue ini, Kejora jadi teringat kedua orang tuanya. Mereka juga memiliki dua toko kue di Jakarta, toko yang sudah direncanakan akan diwariskan untuk Raka dan Kejora. Itulah penyebab Ayahnya bersikeras untuk Raka dan Kejora menempuh pendidikan Manajemen. Keduanya di harapkan bisa mengembangkan toko kue itu. 

Namun kesedihan Kejora sedikit berkurang begitu mendapati Anna yang ternyata bekerja di toko kue itu juga. Gadis itu tak kalah senangnya ketika melihat Kejora. Bahkan ketika pulang kerja, Anna menghubungi Rean dan memberi tahu pemuda itu untuk tidak menjemputnya karena ia akan pulang bersama Kejora. 

Selama perjalanan pulang, senyum Anna tak juga luntur. Gadis itu memberondonginya dengan berbagai cerita. Kejora baru tahu jika rumah Anna tidak jauh dari kontrakan mereka. Keluarga Anna berantakan. Orangtuanya bercerai sejak Anna masih kecil. Ayahnya entah ada dimana sekarang, sedang Ibunya menjadi TKI di luar negeri. Anna sebenarnya memiliki adik perempuan, namanya Mia. Namun sayang Mia sudah meninggal dua tahun lalu karena demam berdarah. 

"Mia itu seumuran sama kamu, mirip juga, sama-sama punya lesung pipi. Itu kenapa aku suka liat kamu, apalagi kalo kamu senyum, bikin aku inget sama Mia." Ujar Anna tersenyum getir. Ia mengeratkan jaketnya, merasakan dinginnya malam yang menusuk kulit sampai ke tulang. 

Lihat selengkapnya