Starlight di Bulan April

ardiin
Chapter #6

6. Dokter Nala

Tidak ada yang spesial dari hari-hari berikutnya. Hanya rutinitas dan tempat tinggalnya saja yang berbeda. Berangkat pagi, pulang sehabis mahgrib. Selalu bersama Anna, karena sekarang ia tinggal bersama gadis itu. Tidak perlu lagi menahan lapar setiap malam. 

Tak ada masalah yang serius, mungkin hanya sekedar bertengkar dengan Rean yang semakin di kenal ternyata semakin menyebalkan. Kejora semakin dekat dengan Anna, meskipun kadang suka berdebat karena perbedaan pendapat. Tapi bukankah itu wajarkan?

Kejora seperti menemukan kehidupan barunya. Merasakan kasih sayang dari kakak perempuan. Tak lagi sendiri memandang langit malam, ada Anna yang menemani. Kadang sama-sama diam, kadang juga Anna merecokinya dengan berbagai pertanyaan, Kejora ringan menjawab. Tak merasa terganggu. 

Dengan Bu Nani juga ia makin akrab. Kadang membantu beliau belanja di pasar, menjahili anak bungsu Bu Nani yang masih SMP, atau sekedar berbincang hangat dengannya selepas isya'. Kejora baru tahu bahwa Bu Nani membangun usaha rumah makan itu sendiri, tidak ada karyawan, hanya dua anaknya yang membantu. Rumah makan masakan Padang, itu namanya. Letak rumah makan milik Bu Nani berada di depan sebuah rumah sakit swasta yang ada di kota itu. Kejora dan Anna sering mampir, seperti malam itu. Sepulang kerja, mereka membeli makan disana. 

Saat memasuki tempat itu, mereka berpapasan dengan seorang pemuda yang mengenakan kemeja biru. Terlihat ramah, ia bahkan menarik sedikit kedua sudut bibirnya saat matanya bertubrukan dengan kedua mata gadis itu. 

Anna menyenggol tangannya, berbisik. Mengatakan jika pemuda itu memiliki paras yang tampan. Kejora hanya menyeringai, tidak menanggapi. 

Kejora langsung melesat mencari kursi untuk tempat duduk mereka, sedang Anna menghampiri Bu Nani untuk memesan. 

Kejora yang akan duduk urung ketika melihat sebuah ponsel mewah tergeletak begitu saja diatas meja yang akan ditempatinya. "Bu, ini ponsel siapa?" 

Bu Nani menoleh, menatap Kejora yang menunjuk ponsel itu. 

"Eh, itu kayaknya punya dokter Nala deh, tadi dia duduk di situ. Tolong tanyain, Jora. Orangnya juga belum jauh dari sini kayaknya."

Dahi Kejora mengerut, menatap bingung kearah Bu Nani, ia tidak kenal dengan orang yang dimaksudnya tadi. "Dokter Nala?"

"Laki-laki yang pake kemeja biru, terus lengan kemejanya digulung sampe siku, orangnya tinggi, hidungnya mancung, alisnya tebal, baru keluar kok orangnya." ujar Bu Nani menyebutkan ciri-ciri dokter Nala. 

"Yang papasan sama kita tadi Jora," sahut Anna memberi tahu, gadis itu lalu mengalihkan pandangan kearah Bu Nani. "Ganteng kan ya, Bu?"

Bu Nani tersenyum mengiyakan. Ia lantas kembali menyampaikan permintaan tolongnya pada Kejora. 

Kejora menghela nafas sejenak, tidak bisa menolak. Ia hanya mengangguk kemudian meraih ponsel tersebut. 

Gadis itu beranjak keluar, celingak-celinguk, mencari pemuda dengan ciri-ciri yang sama seperti yang disebutkan Bu Nani. Senyumnya merekah ketika melihat pemuda itu tengah berjalan kearah rumah sakit. 

Tanpa membuang-buang waktu, Kejora melesat menyebrangi jalan lalu berlari kecil untuk menyusulnya. Namun ketika jaraknya tinggal beberapa meter lagi, gadis itu menggaruk tengkuknya. Ia menggigit bibir bawah, bingung harus memanggil bagaimana. 

Kejora menatap pemuda itu dari belakang. Tinggal beberapa langkah lagi, mereka akan memasuki area rumah sakit. Menarik nafas sejenak, Kejora memilih memanggil seperti bagaimana Bu Nani memanggilnya. 

"Dokter," cicit Kejora pelan. 

Ia kembali menggigit bibir, seharusnya dokter Nala mendengarnya, namun ia sama sekali tak menoleh. Dipercobaan kedua dan ketiga, sama saja. Pemuda itu masih berjalan dengan tenang. Kejora mendengus, kesal karena diabaikan.

"Dokter Nala?" 

Kali ini, pemuda itu baru menghentikan langkah kemudian menoleh. Menatap Kejora bingung, namun tetap mengulas senyum. 

"Iya?"

Kejora mendekat, mengangkat ponsel di tangannya. "Ini punya dokter Nala?"

"Eh, iya. Kok bisa di kamu?" tanya pemuda itu sembari menerima uluran ponsel dari Kejora. 

"Tadi ketinggalan di tempat Bu Nani." Kejora menjawab pendek.

"Yaudah kalo gitu, saya mau balik kesana lagi." pamit Kejora sembari menarik sedikit sudut bibirnya, memamerkan lubang di kedua pipinya. 

"Makasih ya," 

Lihat selengkapnya