Malam tahun baru, malam yang biasanya penuh perayaan. Ratusan kembang api meledak dengan indah di angkasa, menemani bulan dan bintang yang tengah bersinar. Sayangnya, bulan hanya bersinar separuh. Namun tetap indah dipandang, karena bintang melengkapi keindahan itu. Asap mengepul dari bakaran jagung ataupun daging. Pesta kecil hingga besar banyak digelar di berbagai tempat, memenuhi pelosok bumi. Namun, malam yang seharusnya dirayakan dengan suka cita itu, malah diisi dengan kesedihan oleh Raka.
Pemuda itu hanya terdiam, menatap teman-temannya yang ribut karena berebut kembang api di lapangan bola yang tidak jauh dari rumahnya, bersiap menyambut pergantian tahun. Ini kali pertama Raka merayakan tahun baru bersama teman-temannya. Itupun karena paksaan dari Beni—salah satu teman dekatnya. Pemuda itu tidak tega melihat Raka selalu dirundung kesedihan karena kepergian adiknya. Namun usaha Beni sia-sia, Raka sama sekali tidak menikmati perayaan ini.
Ia merindukan Kejora. Tak terasa sudah lima bulan waktu yang telah berlalu semenjak kepergian gadis itu. Waktu yang dilalui Raka dengan perasaan kosong, hampa.
Pemuda itu termenung. Mengingat kembali masalalu. Biasanya, setiap tahun baru, ia memilih merayakannya di Malang, bersama adiknya. Meskipun Kejora selalu bersikap ketus padanya, itu tidak menjadi masalah besar. Raka tetap senang. Melihat bagaimana binar bahagia adiknya ketika menatap ledakan kembang api itu ikut tertular pada dirinya, hatinya merasa tenang sekaligus bahagia.
Ketika mendengar Kejora akan kembali ke Jakarta dan akan berkumpul bersama keluarganya lagi seperti dulu, Raka merasa sangat senang. Banyak rencana yang sudah disusunnya. Ia ingin mengajak Kejora keliling kota malam-malam, menyaksikan pesta kembang api ketika tahun baru, menjadi tour guide adiknya ketika di kampus, mengabadikan fotonya bersama Kejora ketika ia wisuda, atau sekedar duduk di di depan jendela kamar yang ada di lantai dua, menatap bintang dan bulan yang tengah bersinar, berharap hubungannya dengan Kejora akan membaik. Namun harapan dan rencana itu pupus begitu saja ketika mendapat pesan singkat dari Kejora, pesan yang menjelaskan bahwa gadis itu memilih pergi, menjauh dari semuanya.
Raka baru saja membangun pondasi untuk membangun hubungannya dengan Kejora yang sudah lama runtuh, berniat memperbaiki semuanya seperti dulu, namun tiba-tiba ada badai besar yang memporak-porandakan segalanya, termasuk hatinya.
Tak ada satu haripun yang di lewatinya tanpa kesedihan, kecemasan, dan rasa bersalah semenjak kepergian Kejora. Skripsinya berantakan, ia tidak akan bisa lulus cepat seperti yang diimpikannya. Jangankan untuk memikirkan skripsi, makan saja ia kadang lupa. Berat badannya menurun drastis. Lingkar hitam terbentuk di bawah matanya karena kurang tidur. Raka selalu mencemaskan keadaan Kejora, tanpa memperdulikan keadaannya sendiri.
Beni saja sampai miris melihat perubahan Raka, dari fisik sampai psikisnya. Pemuda itu nampak sangat berantakan. Kepergian Kejora membawa dampak besar pada hidup Raka.
Raka mendongak, menatap bintang-bintang yang sesekali ditutupi percikan kembang api, ia mendesah panjang. Hampir seluruh daerah di Jakarta ini sudah ia jelajahi, namun sosok adiknya tak juga di temukan. Pemuda itu juga sesekali berkunjung ke Malang, mencoba peruntungan untuk mencari disana. Namun hasilnya sama saja, nihil. Keberadaan Kejora belum diketahuinya hingga kini.
"Mas harus cari kamu kemana lagi, Jora. Berhenti bikin Mas khawatir." bisiknya pada angin, berharap hembusannya mampu menyampaikan kalimat itu pada sang adik.