Starlight di Bulan April

ardiin
Chapter #8

8. Malam tahun baru

Di waktu yang sama, beberapa ratus kilometer jauhnya dari tempat Raka berjuang antara hidup dan mati, seorang gadis tengah duduk di teras kontrakannya. Terdiam, mengabaikan suara berisik dari sebrang, suara yang berasal dari halaman rumah Ibu Nani. Ada pesta kecil-kecilan untuk menyambut pergantian tahun. Rean dan Anna ada disana, bersama Bu Nani dan juga anak-anaknya. 

Kejora memilih menyendiri. Ia mendongak, menatap langit malam. Malam ini, perasaannya tengah gundah. Entahlah. Gadis itu mengalihkan pandangannya kearah layar ponsel yang sedang ia pegang. Dilayar benda pipih itu, terpampang jelas potret dirinya dengan seorang pemuda yang tengah tersenyum manis, membuat lesung pipinya mencuat dalam. Pemuda yang malam ini memenuhi isi kepalanya. Siapa lagi kalau bukan Raka, kakak yang selama ini dibencinya. 

Ia menghela nafas sejenak. Bayang-bayang Raka kini tak lepas dari ingatannya. Setiap memori kebersamaan mereka terputar dengan sendirinya, membuat dadanya terasa sesak. Ia tidak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba mengenang kakaknya itu. Resah menggelayutinya. Rasa cemas hadir begitu saja tanpa sebab yang jelas. Rasa-rasanya, Kejora ingin melihat pemuda itu secara langsung, menatap senyum berlesung pipi milik Raka, atau sekedar menatap netra cokelatnya, netra yang selalu menatapnya dengan sorot meneduhkan, sorot yang selalu berhasil membuatnya tenang. 

Kedua mata Kejora memejam, berdoa dalam hati. Ia merasa ada yang tidak beres. Sebesar apapun kebenciannya pada Raka, ikatan batin antara kakak dan adik itu tak akan berkurang atau bahkan hilang. Kejora merasa telah terjadi sesuatu pada Raka. 

Perasaan ini juga pernah hadir sekitar tiga tahun lalu, ketika ia baru pindah ke Malang. Rasanya sama, resah dan gundah, juga khawatir. Selalu kepikiran Raka. Dan benar saja, Bundanya memberi tahu jika kakaknya tengah demam tinggi. Pemuda itu merindukan Kejora. Sejak kemarin, belum ada secuil makananpun yang masuk ke perut pemuda itu. Raka menolak untuk makan, pemuda itu malah terus menggumamkan ungkapan rindunya pada sang adik. Bundanya sampai jengah. Sang Bunda memintanya membujuk Raka untuk makan.

Meskipun malas mengobrol dengan pemuda itu, Kejora tetap menuruti permintaan sang Bunda. Jika boleh jujur, ia juga tidak tega. Takut kondisi pemuda itu makin parah. Akhirnya setelah dibujuk oleh Kejora, barulah Raka mau makan. Sejak dulu mengenal Raka, Kejora tahu bahwa pemuda itu akan sangat susah untuk makan ketika sakit. 

"Apa Mas Raka lagi sakit?" gumam gadis itu pelan. 

Kedua bola matanya berkaca-kaca saat kembali mengingat kenangan itu. Jika memang Raka sakit dan itu karena merindukannya seperti dulu, apa Raka juga susah makan? Tidak ada Kejora, lalu siapa yang akan membujuknya untuk makan? 

"Foto siapa?"

Kejora terlonjak kaget. Ia menoleh, mendapati Anna yang berdiri di belakangnya dengan senyum jahil. Entah sejak kapan gadis itu ada disana. Kejora cepat-cepat membalikkan ponselnya, membuat foto itu tak terlihat lagi oleh Anna. 

"Ih Jora, foto siapa?" gemas Anna karena Kejora hanya diam. 

Kejora menghela nafas. Menatap Anna kesal. Tapi ia memilih menjawabnya, daripada Anna terus merecokinya dengan pertanyaan itu. Bisa panjang urusannya jika Rean ikut-ikutan. 

"Fotonya Mas Raka." 

"Ganteng banget." puji Anna jujur. Kejora hanya melengos, tak merespon. "Katanya benci, kok diliatin fotonya?"

Gadis itu terdiam sejenak, menghela nafas panjang, lantas menatap sendu layar ponselnya yang masih menampakkan potretnya dengan Raka. 

"Tiba-tiba kepikiran Mas Raka."

"Kepikiran?"

Kejora mengangguk singkat. Kembali menatap langit malam di atas sana. Menatap bulan yang bersinar separuh. Ia mendesah panjang. Pikirannya kacau. Benar-benar kacau. Memikirkan orang yang jauh darinya. Orang yang di bencinya. Entahlah. Seharusnya ia tak perlu memikirkan sesuatu yang jelas tidak penting. Tapi ada suatu rasa yang menyelinap dalam hati. Rasa yang tak di mengertinya. Menyesakkan. Namun yang jelas, Kejora tahu ada yang tidak beres. 

Anna mendekat, mengusap bahu Kejora dengan perhatian. Raut wajah gadis itu terlihat gusar. Senyum tipis terulas di bibir mungil Anna. Ia tahu, gadis itu tengah rindu, namun tak pandai mengenali perasaannya sendiri. Yang ia tidak tahu, Kejora tengah mencemaskan keadaan Raka. 

"Gimana kalo telpon Mas Raka aja? Biar bisa tenang dikit." Saran Anna. Kejora sudah membuka mulut untuk menjawab, namun Anna lebih dulu memotong. "Cuma sekedar denger suara dia aja, setelah itu matiin. Pake ponselku aja gimana? Biar Mas Raka nggak tau kalo itu kamu. Nanti kalo dia nelpon balik, tinggal aku yang jawab kalo salah sambung."

Kejora menimbang, ia akhirnya setuju. Gadis itu menerima uluran ponsel dari Anna, menyalin nomor kakaknya di ponsel itu. 

Kejora hanya cukup mendengar sepatah kata dari Raka. Setelah itu sudah, Kejora akan mematikan sambungan telponnya. Iya, Kejora hanya cukup melakukan itu. Senyum kecilnya terbit. 

Setelah memantapkan hati, Kejora mulai menelponnya. Gadis itu menggigit bibir, harap-harap cemas. Namun sampai beberapa menit mencoba, nomor ponsel Raka tetap tidak aktif. Kejora mendesah kecewa. Ia menoleh pada Anna dengan senyum yang dipaksakan. Rasa khawatirnya semakin berkembang, beranak pinak. Membuat setetes air mata itu akhirnya lolos dari mata cantiknya. Kejora dengan cepat menyekanya. Namun Anna sudah melihatnya. 

Gadis itu kembali mengusap bahu Kejora, bermaksud menenangkan. Ia tahu bagaimana rasanya ketika rindu hadir tanpa ada obatnya. 

"Mungkin ponsel Mas Raka mati karena habis baterai." ujar Anna sembari menarik gadis itu dalam pelukannya. Air mata Kejora kembali menetes. Kali ini Anna yang menyekanya. 

"Aku takut Mas Raka kenapa-napa. Perasaanku nggak enak. Aku pernah ngerasain perasaan kayak gini, dan ternyata waktu itu Mas Raka lagi sakit. Sebenci apapun aku sama dia, dia tetep kakakku. Aku nggak akan tega kalo liat Mas Raka sakit."

"Iya, doain aja semoga Mas Raka nggak kenapa-napa. Udah, jangan nangis. Nanti di ejekin Rean."

Lihat selengkapnya