"Aneh ya orang kayak gitu, bukannya cepet ditolongin malah di foto-foto gitu." komentar Anna begitu Rean menunjukkan berita orang kecelakaan yang tengah ramai di perbincangkan di facebook. Ia merasa miris dengan kejadian itu, bukannya menolong korban dan membawanya kerumah sakit, ini malah di foto-foto terlebih dahulu dan mengunggahnya di laman media sosial. Mempertontonkan musibah yang menimpa orang lain di depan masyarakat luas.
Gadis itu bergidik ngeri, merasa ngilu melihat darah yang berceceran dimana-mana, terutama dari tubuh sang korban. Wajahnya saja tidak terlihat jelas karena sebagian tertutupi darah.
"Semalem nih kejadiannya, di Jakarta." ujar Rean begitu membaca komentar di bawah postingan itu.
"Masih hidup nggak?"
"Bentar," Rean terus menggulir layar ponselnya, membaca setiap komentar. Jarinya berhenti bergerak ketika menemukan informasi yang ditanyakan Anna. "Waktu di bawa kerumah sakit sih masih hidup, tapi nggak tahu sekarang. Orang-orang yang ada disitu udah ngira nggak bakal selamat. Kondisinya parah. Salah dia juga sih, menurut saksi mata, dia kebut-kebutan di jalan nggak pake helm, udah gitu nerobos lampu merah lagi."
"Sok tahu tuh orang. Hidup mati seseorang kan ditangan Tuhan." sahut Anna kesal. Seharusnya mereka mendoakan agar orang itu baik-baik saja, bukannya malah mengira-ngira seperti itu. Jika seperti ini, ia jadi teringat Mia.
Dulu saat adiknya itu dibawa ke rumah sakit karena demam berdarah, para tetangganya memperkirakan Mia akan pergi sebentar lagi, mengingat bagaimana parahnya kondisi Mia saat itu. Anna sungguh kesal sekaligus sedih mendengarnya, meskipun apa yang mereka perkirakan itu memang benar. Beberapa jam setelah di rawat, Mia menghembuskan nafas terakhirnya di depan matanya sendiri.
Semenjak saat itu, Anna hilang respect pada tetangganya. Ia mengabaikan mereka yang mengucapkan ungkapan bela sungkawa. Matanya hanya menatap lurus kedepan, dimana tubuh kaku Mia akan di kebumikan.
Anna semakin miris ketika melihat beberapa komentar yang ada di bawah postingan itu. Banyak yang menjadikannya sebagai bahan candaan. Malah ada juga yang mengujat korban, mengatakan itu pantas di terimanya, salah sendiri tidak mematuhi aturan berkendara. Hey, tak sepatutnya mereka menghujat seperti itu. Korban memang salah, tapi ia pasti memiliki alasan. Bukankah setiap tindakan manusia itu selalu ada alasan yang menjadi dasarnya?
"Pagi-pagi udah ngegosip." sembur Kejora yang baru saja keluar kamar. Gadis itu lantas mengambil duduk di hadapan keduanya, tak memperdulikan tatapan kesal dari Anna dan Rean.
"Kita nggak ngegosip tau. Ini lagi ngomongin berita kecelakaan semalem, mau lihat nggak?" tawar Rean.
Kejora langsung menolak mentah-mentah. Ia enggan melihatnya. Yang ia tidak tahu, berita yang tengah di bahas Rean adalah berita kecelakaan kakaknya semalam.
"Lagi rame di Facebook, kejadiannya di Jakarta."
Kejora hanya terdiam. Mendengar Rean menyebut kota Jakarta, ia kembali teringat Raka. Resah itu masih menggelayutinya. Ditambah semalam ia memimpikan Raka.
Dalam mimpinya, pemuda itu menghampirinya yang tengah duduk di pinggir danau. Kejora sudah ingin pergi, namun Raka menahannya, mengajaknya kembali duduk di tempat semula. Wajah pemuda itu bercahaya. Senyum manis terus terpantri di bibirnya, membuat lesung pipinya mencuat dalam.
Raka mengajaknya mengenang masalalu. Kenangan indah yang sudah mereka lewati selama ini. Dari mereka kecil hingga sebesar ini. Kejora ikut tersenyum ketika mengenang masa kecilnya yang begitu menyenangkan, masa dimana rasa iri dan dengki belum mengambil alih kewarasannya.
Pemuda itu mengutarakan kasih sayangnya yang teramat besar untuk Kejora. Raka juga menyuruhnya untuk pulang. Lidah gadis itu terasa kelu untuk menjawab. Alhasil, Kejora hanya diam.
Terakhir, Raka menanyakan apakah Kejora benar membencinya. Gadis itu bisa melihat binar mata Raka yang semakin meredup. Sebelum Kejora menjawab, ia sudah terbangun dengan peluh membanjiri wajah dan lehernya. Gadis itu tidak tahu apa arti mimpinya. Namun yang jelas, ia semakin tidak tenang.
"Semalem aku mimpiin Mas Raka." ujar Kejora tiba-tiba, berhasil menarik perhatian dua sejoli itu.
"Raka siapa lagi? Kemaren deketin dokter Nala, sekarang bahas Raka. Punya cita-cita jadi fuckgirl apa?" komentar Rean yang terdengar menyebalkan.
Kejora memutar bola mata malas, enggan meladeni. Sedang Anna mendengus, memilih menjawab.
"Raka itu Masnya Kejora, ganteng tau."
"Sama aku ganteng siapa?"
"Ya ganteng Mas Raka lah, adiknya aja cantik gitu. Mas Raka juga punya lesung pipi, ganteng banget pokoknya." jawab Anna langsung tanpa pikir panjang.
Kejora tertawa melihat raut kesal Rean. Alis tebalnya menukik tajam. Jelas pemuda itu kesal, pacarnya sendiri mengatakan dirinya kalah tampan dengan Raka. Seharusnya Anna memilihnya, mengatakan bahwa ia lebih tampan, meskipun bohong.
Anna tak menghiraukan Rean yang tengah merajuk. Ia memilih memusatkan atensinya pada Kejora.
"Mimpi gimana?"
Kejora menghela nafas. Ia lalu menceritakan prihal mimpinya pada Anna. Rean ikut mendengarkan meskipun pura-pura sibuk dengan ponselnya.