Setelah lima hari dengan kondisi antara hidup dan mati, akhirnya Raka bisa melewati masa kritisnya. Ia bahkan sudah sadar semalam.
Namun sejak tersadar, pemuda itu hanya diam sampai sekarang. Belum ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Ia hanya akan mengangguk atau menggeleng ketika di tanya. Senyum berlesung pipi itu juga belum terlihat.
Raka hanya menatap pintu ruang rawatnya dengan pandangan kosong, sejak pagi. Ia tengah menunggu seseorang, siapa lagi kalau bukan Kejora. Pemuda itu yakin berita kecelakaannya sudah dimuat di media masa atau media sosial, sama seperti berita kecelakaan-kecelakaan lain yang sering ia tonton di televisi. Dan kemungkinan besar, Kejora sudah melihatnya. Raka berharap gadis itu datang menjenguknya, sekedar melihat kondisinya sekarang.
Pemuda itu masih tak menyangka dirinya akan selamat setelah insiden kecelakaan itu. Raka kira, riwayatnya akan tamat malam itu. Bahkan, ketika kedua matanya perlahan memejam saat di lokasi kejadian, Raka sudah menggumamkan ucapan selamat tinggal dalam hati untuk orangtua dan adiknya. Pikiran-pikiran tentang kematian itulah yang membuat Raka menitikkan air mata malam itu. Pemuda itu sudah berfikir bahwa dirinya tak akan mungkin bertemu Kejora lagi. Dan mungkin adiknya itu akan menemuinya dengan kondisi yang sudah terbujur kaku tak bernyawa. Atau mungkin malah hanya bisa melihat gundukan tanah dengan nisan yang terukir namanya.
Ternyata, Tuhan masih berbaik hati, memberinya kesempatan untuk hidup lebih lama lagi. Merasakan pahitnya kehidupan yang fana ini.
"Raka, ngomong dong. Udah seminggu Bunda nggak denger suara kamu. Dari semalem kamu cuma diem aja." pinta Bundanya yang sebenarnya khawatir dengan pemuda itu. Ia sudah overthinking. Takut terjadi sesuatu pada pita suara Raka, atau Raka yang berubah jadi linglung.
Perlahan, Raka menoleh ke kiri. Ia mengalihkan pandangannya, menatap wajah sendu Bundanya dengan perasaan bersalah.
"Bunda mau Raka ngomong apa?" tanya pemuda itu dengan suara serak dan tak bertenaga.
Wanita itu mengulas senyum, ia menggenggam tangan Raka dengan erat. "Terserah kamu aja. Bunda udah seneng denger suara kamu. Oh ya, badannya masih sakit semua nggak?"
Raka terdiam, membalas genggaman Bundanya tak kalah erat, walau ia harus menahan perih di lengan kirinya yang sobek. Pemuda itu lantas menggeleng pelan. Ia terpaksa berbohong. Tak mau membuat Bundanya kembali cemas jika ia mengatakan sakit teramat sangat yang ia rasakan kini. Raka merasa seluruh tulangnya remuk. Meskipun sebenarnya semua baik-baik saja, hanya tengkorak kepalanya saja yang retak.
Ia seketika teringat dengan hoodie yang dipakainya saat kecelakaan. Hoodie bewarna hitam putih itu adalah kado dari Kejora saat ia berulang tahun tiga tahun lalu. Raka menatap wajah Bundanya ragu. Namun memilih menanyakannya.
"Hoodie yang Raka pake waktu kecelakaan mana, Bun?"
"Hoodie-nya sobek, terus kotor kena darah kamu. Nggak akan bisa di cuci dan dibenerin lagi, jadi Bunda buang. Emang kenapa?"
Raut wajah Raka berubah kecewa. Kado dari Kejora yang selalu ia pakai ketika merindukan gadis itu kini sudah tidak ada. Barang satu-satunya yang ia punya dari Kejora. Karena gadis itu tak pernah memberinya barang, Kejora hanya akan menyiapkan pesta kejutan atau mengajaknya mengabiskan waktu berdua ketika ia berulang tahun.
"Itu kado dari Jora." lirih Raka.
Bundanya teperangah. Raut wajahnya menyiratkan rasa bersalah. "Ya ampun sayang, maaf. Bunda nggak tau."
Ia benar-benar tidak tahu jika itu pemberian dari Kejora. Wanita itu berfikir jika hoodie-nya tidak akan bisa terpakai lagi, makanya ia buang. Raka memaksakan senyumnya. Ia mengatakan tidak apa-apa meskipun rasa-rasanya, ia ingin mencari kembali hoodie yang sudah di buang itu.
Senyum pemuda itu luntur seketika, Raka terhenyak. Terlalu memikirkan Kejora dan keajaiban yang diterimanya, ia baru sadar jika kedua kakinya tidak bisa di gerakkan. Raka amat ketakutan. Ia berusaha menggerakkan kedua kakinya, namun tak ada pergerakan sama sekali. Jantungnya berdebar kencang. Ia mendongak, menatap wajah Bundanya dengan pandangan memburam karena air mata.
"Bun, kenapa kaki Raka nggak bisa di gerakin?" tanyanya terbata-bata sembari terus mencoba menggerakkan kedua kakinya.
Wanita itu juga nampak panik. Ia menyingkap selimut Raka. Memperhatikan kedua kaki pemuda itu yang masih utuh, tak ada perban apapun. Hanya luka-luka kecil yang tersemat di sana.
Wanita itu bergegas memanggil dokter. Air matanya kembali menetes saat melihat kedua mata Raka yang berkaca-kaca. Ia terus merapal doa dalam hati, semoga tidak terjadi sesuatu pada kedua kaki putranya.
Pemuda itu serasa di sambar petir ketika dokter yang datang memeriksanya mengatakan jika kedua kakinya lumpuh. Belum di ketahui apakah itu permanen atau tidak. Dokter masih akan memeriksanya lebih lanjut. Namun tetap saja, mengetahui jika ia tidak akan bisa berjalan, membuat Raka merasa dunianya berhenti saat itu juga.
Sesak mengungkung dadanya. Serasa ada batu Pemuda ribuan ton yang memberatkan tiap tarikan nafasnya. Perasaannya mencelos. Air mata pemuda itu kembali merebak, mulai menggulir dari sudut matanya.
Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Lehernya serasa tercekik. Raka mengerjap perlahan, membuat air mata itu kembali menetes. Ia menatap kosong atap diatasnya. Tak memperdulikan sang Bunda yang kini menggenggam erat tangannya dengan air mata yang berderai. Bahkan ketika Bundanya tanpa sengaja menekan luka di lengannya, Raka tak bereaksi apa-apa. Tubuhnya seolah mati rasa.
Ada yang lebih sakit dari sekedar luka fisik itu, yaitu luka hatinya. Seperti ada bola panas yang menekan kuat-kuat hatinya, membuat rasa sakit itu kian menjadi, menimbulkan rasa perih yang tiada ujung.
Belum sembuh sakit hatinya akibat kebencian Kejora, belum hilang kesedihannya karena kepergian gadis itu, belum pulih fisiknya pasca kecelakaan yang menimpanya beberapa hari lalu, kini Tuhan malah mengambil fungsi kedua kakinya.
Rasa-rasanya, percuma ia selamat dari kecelakaan itu, jika di sisa hidupnya, ia tak bisa berjalan. Raka tak bisa membayangkan dirinya akan terus duduk di kursi roda selamanya. Ia akan terus menyusahkan kedua orangtuanya. Menjadi benalu di kehidupan mereka.