Baru saja membuka pintu ruang rawat Raka, kening pria itu mengerut ketika melihat seluruh tubuh putranya itu di tutupi selimut. Pandangannya lalu beralih kearah sofa, dimana istrinya sedang tertidur.
Pria itu beranjak, berjalan mendekati istrinya dengan langkah pelan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Ia lalu menggoyang tubuh istrinya, bermaksud membangunkan wanita itu. Tak lama, kedua kelopak mata istrinya terbuka, lalu mengerjap perlahan. Ia sudah ingin membuka suara, namun suaminya keburu meletakkan telunjuknya di depan bibir, menyuruhnya untuk diam.
Pandangan wanita itu mengikuti arah telunjuk suaminya yang mengarah pada bankar putranya. Keningnya kontan ikut berkerut. Ia lalu beranjak dari sofa, mendekati tubuh putranya yang seluruhnya di tutup selimut itu.
"Raka," panggilnya pelan sembari berusaha menarik selimut yang menutupi bagian wajah pemuda itu.
Namun Raka menggenggam ujung selimutnya erat, membuat Bundanya itu kesusahan menyingkirkan selimut tersebut dari wajahnya.
"Raka jangan gitu, nanti kamu nggak bisa nafas." wanita itu mulai cemas, namun Raka sama sekali tak menggubris.
"Raka, apa perlu Ayah yang narik selimutnya?" tanya Ayahnya tegas.
Akhirnya, Raka menyerah. Membiarkan Bundanya menyingkirkan selimut itu dari wajahnya. Begitu selimut tersebut terbuka, pemuda itu langsung memalingkan wajahnya, enggan menatap wajah sang Bunda.
Namun sudut matanya yang basah sudah menjelaskan segalanya. Wajah kedua orangtuanya melunak. Wanita itu menghela nafas. Sedang Ayahnya berjalan mendekat, mengulurkan tangannya untuk mengusap sudut mata Raka yang basah.
"Kenapa nangis lagi? Kan Ayah udah berkali-kali bilang kalo laki-laki itu nggak boleh keliatan lemah." ujar Ayahnya lembut.
Melihat Raka yang masih memalingkan wajah, membuat wanita itu berinisiatif menarik wajah pemuda itu untuk menatapnya. Ia lantas mengulas senyum menenangkan.
"Kenapa sayang? Masalah kakimu lagi?"
Raka menggeleng pelan, membuat wanita itu kembali menghela nafas. "Terus apa? Cerita sama Bunda."
Kali ini, Raka melirik Ayahnya. Melihat itu, sang Ayah mendengus, tahu apa yang dimaksud Raka. Pemuda itu tak mau bercerita jika ada dirinya, membuat Bundanya mengulas senyum geli.
Maka dari itu, ia memilih keluar dari ruang rawat Raka. Membiarkan putranya itu bebas bercerita. Toh nantinya wanita itu pasti menceritakan cerita Raka kembali padanya.
Setelah kepergian Ayahnya, pemuda itu berusaha untuk duduk. Sang Bunda membantunya, meletakkan bantal di belakang tubuh Raka agar ia merasa nyaman duduk bersandar ke belakang.
Kedua mata wanita itu tanpa sengaja melihat ponsel Raka yang ada di samping tubuh pemuda itu. Ia langsung meraihnya, menatap layarnya masih menyala, menampilkan kolom panggilan yang berderet atas nama Kejora. Sepertinya Raka masih berusaha menghubungi adiknya.
Bundanya itu mengangkat pandangan untuk menatap wajah Raka. Kedua bola mata pemuda itu sudah berkaca-kaca.
"Karena ini?" tanya Bundanya sembari menunjukkan layar ponsel pemuda itu.
Raka mengangguk pelan, "Nomor ponsel sama semua sosial medianya nggak aktif, dia niat banget buat kabur." pemuda itu terkekeh miris, bersamaan dengan air matanya yang menggulir di pipi mulusnya. Ia langsung menyekanya dengan kasar.
"Jora nggak sayang lagi sama Raka ya, Bun?" tanyanya sembari menatap wajah Bundanya dengan pandangan yang memburam karena air mata.
"Nggak mungkinlah, Jora pasti sayang sama Raka."
"Kalo sayang, kenapa dia nggak jengukin Raka? Udah hampir dua minggu Raka di rawat, segitu bencinya dia sama Raka?" pemuda itu menelan ludah, nafasnya tercekat. "Apa nunggu Raka mati dulu baru Jora dateng?"
Air mata Bundanya langsung merembes keluar. Hatinya serasa di remas kuat. Ia mengambil duduk dipinggir bankar, lantas menarik tubuh putranya itu untuk bersandar di bahunya.
"Jangan ngomong gitu, Bunda nggak suka." ujarnya parau. Ia memeluk Raka semakin erat. "Jora nggak mungkin kayak gitu. Dia nggak dateng karena mungkin nggak tau. Kamu inget kan kalo adikmu itu nggak suka nonton berita? Kalaupun Jora tau, dia pasti ada di sekitar kita, mantau kondisi kamu dari jauh, mungkin Jora masih belum mau pulang. Dia masih punya keinginan yang belum di capai."
"Jora udah nggak peduli sama Raka." gumam pemuda itu dengan air mata yang masih terus menetes.
Dadanya sesak mengatakan kalimat itu. Fakta yang membuat hatinya hancur. Ia tak mempercayai ucapan Bundanya. Raka tahu jika Kejora memang tidak menyukai menonton berita, namun kalaupun Kejora tahu prihal berita kecelakaannya, gadis itu pasti masih tetap tidak peduli.
Raka lelah menunggu adiknya datang untuk menjenguk. Namun ia tak bisa menahan hatinya yang terus berharap. Mengharapkan kehadiran sang adik yang mampu memberinya sedikit semangat, tidak seputus asa sekarang.
"Raka juga benci sama Jora?" tanya Bundanya parau.
Pemuda itu langsung menggeleng cepat. Mana mungkin ia bisa membenci adik kesayangannya itu.