Kejora menjatuhkan dirinya di kursi yang ada di ruang tamu. Ia baru saja pulang kerja. Sedang Anna langsung memasuki kamar, meletakkan tasnya dan mengambil handuk, bersiap untuk mandi.
Gadis itu memijit pelipisnya. Ia memejamkan mata lantaran pandangannya serasa berputar-putar, kepalanya terasa pusing. Ini akibat karena ia terlalu memikirkan tentang kuliahnya. Uang hasil kerjanya tidak akan cukup untuk membiayai kuliahnya. Biaya kedokteran mahal. Belum lagi untuk membayar sewa kontrakan dan kehidupan sehari-harinya. Ditambah, jika ia kuliah nanti, dirinya tidak akan bekerja penuh waktu seperti sekarang. Dan otomatis gajinya akan berkurang.
Tidak mungkin Kejora mengambil waktu setahun lagi untuk bekerja dan mendaftar kuliah tahun depan. Kejora sudah amat merindukan keluarganya. Ia ingin pulang, namun gensi. Gadis itu tidak ingin mengingkari janjinya untuk pulang setelah ia wisuda. Kejora juga takut di marahi Ayahnya. Jika ia pulang membawa gelar, Ayahnya itu tidak akan punya alasan lagi untuk marah. Jalan satu-satunya, ia harus segera kuliah dan menjadi sarjana.
Namun harus kemana ia mencari tambahan uang? Lagipula ia sudah menghabiskan waktu seharian untuk bekerja di toko kue. Itupun badannya sudah terasa sangat lelah. Jika memaksa untuk mencari pekerjaan lain setelah pulang kerja, Kejora tak yakin dirinya akan kuat.
Gadis itu mendesah panjang. Kejora kira, kabur dari kehidupan keluarganya ia akan lebih bahagia lantaran dirinya akan bebas melakukan apa saja. Namun nyatanya ia salah. Hidupnya jauh lebih sengsara. Kejora harus merasakan lelahnya mencari uang hanya untuk sesuap nasi. Belum lagi masalah-masalah yang di hadapinya. Untung selama ini belum ada masalah besar yang menyandung langkahnya, hanya masalah-masalah kecil yang menghadangnya selama ini.
Kejora senang tinggal bersama Anna. Tapi jauh lebih senang ketika tinggal bersama neneknya di Malang. Ada sang nenek yang selalu memotivasinya. Keinginannya untuk menjadi dokter hebat itu tumbuh dari cerita-cerita neneknya. Ya, dulu neneknya adalah seorang dokter umum. Ia selalu menceritakan pengalamannya selama ia bekerja, bagaimana menyenangkannya ketika ia berhasil menyelamatkan nyawa orang lain. Cerita-cerita yang membuat keinginan untuk menjadi dokter itu tumbuh dalam diri Kejora. Gadis itu ingin menjadi dokter seperti neneknya.
Sayangnya, sang Ayah melarang dirinya untuk menjadi dokter. Hal itu didasari dari trauma masa kecilnya. Rumah tangga Neneknya hancur lantaran neneknya yang sibuk bekerja sampai lalai dalam tugasnya sebagai seorang istri dan juga Ibu. Ayahnya bahkan sering ditinggal sendiri di rumah ketika malam hari. Pahitnya kehidupan seorang anak broken home di rasakannya sejak kecil.
Niat Ayahnya baik, ia tak ingin anak-anak Kejora nanti mengalami nasib yang sama seperti dirinya. Ia tak ingin keluarga Kejora hancur nantinya. Ayahnya lebih setuju jika Kejora mengambil jurusan Manajemen, agar ia bisa mengembangkan toko kue milik keluarga mereka.
Dan sebenarnya, Kejora jauh lebih bahagia saat tinggal bersama orangtuanya. Meskipun keduanya sibuk bekerja, masih ada Raka yang memberinya kasih sayang yang tulus. Mengantar jemputnya kemanapun ia mau pergi.
Jika boleh jujur, Kejora amat sangat merindukan Raka, sejak dulu, sejak saat ia pindah ke Malang. Rasa rindu itu kian membuncah ketika Kejora sama sekali tak tahu kabar kakaknya itu semenjak ia kabur. Kejora rindu jalan-jalan berdua naik motor bersama Raka, ia rindu melihat langit malam berdua dari jendela kamar, ia rindu saat tidur di pelukan kakaknya sembari mendengar detak jantung pemuda itu ketika Kejora ketakutan karena petir. Ya, Kejora sungguh takut mendengar suara petir. Dan ketika hal itu terjadi, Kejora pasti akan datang ke kamar kakaknya. Raka pasti akan langsung memeluknya, menenggelamkan kepala gadis itu ke dada bidangnya, membiarkan Kejora mendengarkan suara detak jantungnya sampai tertidur.
Suara detak jantung Raka seperti lagu penghantar tidur untuk Kejora. Suara itu mampu membuatnya tenang meskipun petir diluaran sana tengah menggelegar. Namun semenjak ia pindah ke Malang, Kejora harus bisa mengatasi rasa takutnya sendiri. Tak ada lagi Raka yang memeluknya. Bahkan ketika pemuda itu tengah berlibur ke Malang, Kejora gengsi hanya untuk sekedar meminta Raka untuk memeluknya ketika suara petir mulai menggelegar. Jika seperti itu, Raka biasanya akan menerobos masuk kamarnya, lalu mengurungnya dalam dekapan tanpa sepatah katapun sampai Kejora benar-benar terlelap.
Raka memang berperan sebagai kakak yang baik. Namun Kejora sudah dibutakan rasa iri dan bencinya. Membuatnya salah mengartikan sikap Raka sebagai pencitraan saja.
Gadis itu tersadar dari lamunannya ketika ponsel dalam tasnya berbunyi. Dengan malas, ia membuka mata, mengambil benda pipih itu. Keningnya mengerut saat melihat nama Rean tertera di layar ponselnya sebagai penelpon. Tanpa membuang waktu, ia langsung mengangkat panggilan itu.
Bibir Kejora sudah terbuka untuk menanyakan alasan pemuda itu menelpon dirinya, namun suara Rean lebih lebih dulu mengintrupsi.
"Bukain pintunya dong."
Kedua bola mata Kejora kontan membulat. Ia beranjak dari duduknya untuk membuka pintu kontrakan. Kejora mendesis kesal ketika melihat Rean yang tengah menyengir lebar dengan ponsel yang ia tempelkan di telinga kanannya.
"Udah dulu ya, Jora." pamitnya berbicara lewat telpon. Padahal gadis yang tengah tersambung dengannya itu kini ada di hadapannya.
"Kurang kerjaan banget. Bukannya di ketuk pintunya, ini malah nelpon." gerutu Kejora kesal.
Rean tertawa melihat wajah kesal Kejora. Pemuda itu langsung masuk sebelum di persilahkan, menjatuhkan dirinya di kursi tempat Kejora duduk tadi. Gadis itu mengikuti, duduk di sebelah Rean.
"Anna mana?"