Starlight di Bulan April

ardiin
Chapter #13

13. Tentang penyesalan

Mati-matian, Kejora menahan tawanya saat melihat Rean tengah mengeluarkan seluruh isi perutnya. Setelah turun dari bianglala, pemuda itu langsung berlari menjauh, menuju tempat yang lebih sepi. Kejora mengikutinya dari belakang, masih tak mengerti karena Rean tadi tidak menjawab pertanyaannya. 

Gadis itu terkejut saat mendengar suara Rean yang tengah muntah-muntah. Tawa Kejora kontan ingin meledak, namun ia berusaha untuk menahannya. 

Setelah merasa puas, pemuda itu jatuh lunglai di rumput. Wajahnya pias, keringat masih membanjiri keningnya. Rean mendongak, ia mendengus kesal ketika melihat Kejora tengah merapatkan bibirnya, menahan tawa. 

"Awas aja kalo ketawa."

Bukannya menurut, tawa gadis itu malah pecah saat itu juga. Ia sampai memegangi perutnya, merasa geli. Masih terngiang di kepalanya bagaimana wajah ketakutan Rean saat naik bianglala dan Rean yang lari terbirit-birit karena menahan gejolak di perutnya. 

Pemuda itu kembali mendengus. Ia berusaha berdiri, lantas menarik tangan Kejora menjauhi tempat itu. Image kerennya sudah hilang di mata Kejora, membuatnya sangat kesal. 

"Mau kemana?" tanya Kejora. Tawanya sudah hilang ditelan rasa bingung. 

"Ke KUA."

"Hah? Mau ngapain?"

"Nikahin kamu lah."

Kedua bola mata Kejora kontan mendelik. Ia memukul lengan Rean menggunakan sebelah tangannya yang tidak di genggam pemuda itu. Rean hanya mengaduh tanpa menoleh. Pemuda itu tetap melanjutkan perjalanan, menuju tempat parkir. 

Setelah sampai di samping motornya, Rean melepas genggamannya, mengambil helm kemudian memasangkannya di kepala Kejora. Tanpa tahu jantung gadis itu sudah berdetak tak karuan. 

"Mau kemana sih? Pulang? Baru juga sebentar disini." kesal gadis itu menatap Rean yang tengah memakai helmnya sendiri. 

"Mau cari makan. Badanku lemes butuh asupan."

Dahi Kejora mengeryit, ia lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling pasar malam. Banyak penjual makanan yang membuka kedai disana. Ia kembali menatap Rean yang sudah menaiki kendaraan roda dua itu. 

"Ayo." ajak Rean menoleh kearah Kejora. 

"Disini kan banyak yang jual makanan, Re."

"Kita ke tempat langgananku aja. Deket kampus. Nggak jauh dari sini."

Kejora menghela nafas. Ia memilih ikut. Lagipula perutnya juga sudah merasa lapar. Terakhir makan, saat siang tadi. Setelah itu, belum ada secuilpun makanan yang masuk ke perutnya. 

Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling begitu kendaraan roda dua itu melaju, menghafal jalanan kota Jogja yang belum pernah ia lalui ini. 

Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyum kecil. Lucu, ia merasa selingkuh secara terang-terangan. Jalan bersama pacar orang sudah di kategorikan selingkuh kan?

Tapi jelas, Anna tak akan mempermasalahkannya. Gadis itu saja tak memiliki rasa lebih pada Rean. Pemuda itu hanya pelampiasannya dari rasa takut kehilangan. Bahkan kini, Anna tengah dekat dengan salah satu teman SMPnya dulu. Tak jarang mereka pergi berdua, tanpa sepengetahuan Rean tentunya. 

Kejora sering memperingati, takutnya Rean tahu. Namun kata Anna mereka hanya sebatas teman. Dan Anna masih dalam tahap tertarik pada pemuda yang Kejora tahu bernama Bimo itu. 

Kedua bola mata Kejora sontak berbinar ketika Rean menghentikan laju motornya di pelataran kedai bakso. Makanan berbentuk bulat itu merupakan makanan favorit Kejora. Tak ada kata kenyang dalam kamus Kejora jika menyangkut bakso. 

Gadis itu jalan bersisihan memasuki kedai dengan wajah sumringah. Rean yang melihatnya langsung menarik sedikit kedua sudut bibirnya. Mudah sekali membuat mood Kejora berubah-ubah. Tak salah ia mengajak gadis itu mengunjungi kedai bakso langganannya ini. 

"Mang Udin, bakso biasanya dua ya sama es teh manisnya." pesan Rean pada sang penjual. 

Kejora yang tengah memperhatikan sekelilingnya itu langsung menoleh penuh protes. "Kok biasa? Yang besar, Re."

"Hah?"

"Aku mau bakso yang besar. Ada kan?" gemas Kejora lantaran Rean lama berfikir. 

Rean mengangguk pelan. Ia lantas menoleh kearah Mang Udin. "Mang, yang biasa satu yang beranak satu ya." ralat Rean pada sang penjual.

"Siap, Re." balas Mang Udin. 

"Beranak?" sebelah alis Kejora terangkat. 

"Iya, bakso yang besar disini adanya bakso beranak."

Lihat selengkapnya