Starlight di Bulan April

ardiin
Chapter #14

14. Tak kuasa

Suasana taman di kompleks rumah Raka pada minggu sore ini cukup ramai. Dari anak-anak sampai orang dewasa mengunjungi taman itu, bermain bersama atau hanya sekedar bersantai ria, mengisi waktu luang atau hanya menemani anak bermain. 

Raka termangu, menatap anak-anak kecil yang tengah bermain tak jauh darinya. Sebenarnya, ia tak ingin pergi ke taman ini. Namun sepulang dari terapi tadi, Bundanya mengajak, katanya sekalian mencari Kejora di sekitaran sini. Lagipula, Raka juga harus merasakan udara luar, bukan hanya di rumah terus. Jika tidak karena Bundanya, Raka enggan. Ia malu. Seperti sekarang, beberapa tetangganya saling berbisik dengan sesekali menoleh kearahnya. Raka berusaha cuek, terus berdoa dalam hati semoga kedua orang tuanya cepat datang. Bundanya saat ini sedang membelikannya minum di minimarket dekat situ, sedang Ayahnya tengah mengisi bensin di pom. Raka tahu mereka tengah membicarakan keadaannya sekarang, mengasihaninya. 

Pemuda itu berusaha untuk tidak peduli, memilih memikirkan hal lain. Namun sosok Kejora lah yang kini muncul di kepalanya. Dulu, adik kecilnya itu sering mengajaknya main di taman ini. Berkeliling naik sepeda atau sekedar berkejar-kejaran sudah pernah mereka lakukan. Canda tawa yang menguar begitu menyenangkan saat itu, namun kini justru terasa menyakitkan. 

"Jora udah, jangan nangis lagi, nanti di marah Ayah. Kan Mas yang jatoh, kenapa kamu yang nangis?"

Bayang-bayang seorang anak laki-laki yang tengah menenangkan adiknya kini terlintas di benak Raka. Anak laki-laki yang tengah menahan rasa sakit di kakinya justru kelimpungan melihat adik kecilnya yang menangis kencang. Itu dirinya dan Kejora. 

Saat itu, usia Raka baru menginjak 9 tahun, sedang Kejora masih 5 tahun. Gadis kecil itu memintanya untuk memetik jambu di taman ini. Raka yang begitu menyayangi Kejora, tak sampai hati untuk menolak. Padahal jelas, ia tak bisa memanjat pohon. Dan akhirnya, ia terjatuh, kaki sebelah kanannya terkilir sampai tak bisa berjalan. Rasanya sangat sakit. 

Raka sudah ingin menangis, ia ingin meminta Kejora untuk memanggil Bundanya. Tetapi belum juga tangisnya pecah, Kejora sudah menangis terlebih dahulu. Raka masih ingat bagaimana nyaringnya suara Kejora saat menangis waktu itu. Bahkan beberapa orang yang ada ditaman itu, sampai menghampiri keduanya. Untungnya, ada salah seorang tetangganya yang berbaik hati mengantar mereka pulang. 

Sepanjang hari, Kejora terus menangis, meratapi kondisi kaki kakaknya. Gadis kecil itu terus di samping Raka, memperhatikan perban di kaki Raka dengan air mata yang terus berderai. Tangis Kejora akhirnya berhenti saat Ayahnya datang membawa bakso. Kejora dan bakso adalah dua hal yang sulit di pisahkan. 

Lamunan Raka buyar saat mendengar seruan anak-anak kecil yang memanggilnya. Ia menoleh, lantas mengikuti arah telunjuk mereka yang mengarah pada sesuatu di dekatnya. Ternyata, bola yang yang tadi digunakan mereka untuk bermain, menggelinding mendekati Raka. 

Pemuda itu tak bisa apa-apa saat anak-anak itu memintanya menendang bola itu agar mendekati mereka. Kedua kaki Raka masih tidak bisa di gerakkan. Ia hanya bisa diam. Menatap nanar bola yang ada di bawahnya itu. 

Akhirnya, salah seorang anak laki-laki mendekat. Usainya sekitar lima atau enam tahun. Ia mengambil bolanya lantas menatap Raka kesal.

"Kakak payah ih, suruh nendang bolanya aja nggak bisa." ujarnya sebelum berlalu. 

Kedua tangan Raka yang ada diatas pegangan kursi roda mengepal kuat. Matanya memanas. Merasa tertohok dengan kata-kata anak itu. 

Mati-matian ia tadi menahan rasa iri ketika melihat anak-anak itu berlarian menggunakan kedua kakinya, kini ucapan anak itu bak belati yang mengoyak hatinya, meninggalkan luka tak kasat mata yang menganga lebar. Sesak mengungkung dadanya. Anak sekecil itu saja paham jika dirinya payah, tidak berguna, hanya menyusahkan. 

Ingin rasanya Raka bertanya langsung pada Tuhan, apa salahnya sampai ia dihukum seberat ini. Raka selalu menjaga tutur katanya selama ini agar tak menyakiti hati orang lain. Semenjak sakit saja dirinya jadi cuek dengan perasaan orang ketika mendengar ucapannya. Raka juga selalu berbuat baik, membantu sesama. Lalu apa alasan Tuhan menghukumnya seperti ini? Apa karena ia telah menyakiti hati adiknya? Sumpah demi apapun, Raka tak pernah berniat melakukan itu. Jangankan menyakiti, melihat adiknya tersakiti oleh orang lain saja ia tak tega. 

Pemuda itu mendesah panjang. Ia mendongak, menatap langit sore seraya menanyakan ketidakadilan yang ia terima sekarang. Raka benar-benar tak sanggup. Semuanya terasa berat untuk di jalani. Adiknya pergi karena dirinya, kedua kakinya lumpuh, orangtuanya harus menggadaikan satu toko kuenya untuk biaya perawatan dan pengobatan, ia selalu menyusahkan, belum lagi omongan orang lain yang menyakiti hatinya. Raka benar-benar tak tahan. 

"Raka, ini minumnya."

Raka menoleh ketika mendengar suara Bundanya. Wanita itu berdiri di sampingnya sembari mengangsurkan sebotol air meneral. Bukannya menerima, pemuda itu malah melengos. 

"Raka mau pulang, Bun."

"Loh, tapi—"

Lihat selengkapnya