Wanita itu baru saja akan masuk kamarnya untuk mengajak sang suami makan malam ketika mendengar suara benda pecah dari kamar Raka, disusul suara Raka yang memaki dirinya sendiri. Tanpa pikir panjang ia langsung berlari menuju kamar pemuda itu.
"Raka, kamu nggak papa sayang?" tanyanya cemas sembari menarik turun handle pintu. Terkunci. Ia mencobanya beberapa kali, namun sama saja.
Ia semakin cemas. Mengetuknya berulang kali dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca. Ia takut terjadi sesuatu pada Raka.
"Bun,"
Wanita itu menoleh. Air matanya langsung turun saat melihat sang suami yang menghampiri dengan raut wajah tak kalah cemas.
"Di kunci, Yah. Bunda takut Raka ngelakuin hal yang enggak-enggak." lapornya dengan suara bergetar.
Pria itu mengambil alih. Mencoba membuka pintu kamar Raka, namun tetap tidak bisa. Tangannya bergerak untuk menggedornya, berharap Raka cepat membuka pintu kamar itu.
"Raka, buka pintunya!"
Tak ada jawaban. Justru isakan Raka kini terdengar. Membuat kecemasan suami istri itu semakin memuncak. Bahkan tangis wanita itu pecah, bersaing dengan isakan Raka.
Pria itu berdecak. Ia lantas berlari menuju kamarnya, mencari kunci cadangan. Diobrak-abriknya laci mejanya, mencari benda itu dengan kedua mata yang memerah. Tidak ada. Ia lupa menaruhnya.
Pria itu beralih ke ruang kerjanya. Melakukan hal yang sama pada satu laci ke laci lain. Keringat mengucur dari pelipisnya. Lututnya bergetar. Benar-benar takut. Raka tak pernah seperti ini. Ia takut putranya itu melakukan hal yang tidak-tidak. Mengingat bagaimana perubahan drastis sikap Raka pasca kecelakaan, bagaimana pemuda itu mudah marah dan tersinggung, serta sering melamun sendiri, ia bisa menyimpulkan jika Raka mengalami depresi. Dan biasanya orang depresi bisa melakukan hal diluar batas.
Ia tersenyum lega ketika menemukan kunci cadangan kamar Raka. Pria itu kembali berlari. Ia kembali mencoba membuka pintu itu. Pria itu berdecak kesal ketika kunci itu malah terjatuh karena terlalu tergesa-gesa. Ia lantas mengambilnya, memasukkannya ke lubang kunci lalu memutarnya.
Begitu pintu terbuka, hatinya serasa diremas kuat saat melihat putranya tengah terduduk di samping ranjangnya dengan penampilan yang sangat berantakan. Istrinya langsung berlari, memeluk Raka dengan erat.
Pandangan pria itu tertuju pada sebelah tangan Raka yang mencengkram pecahan gelas. Ia dengan cepat menyambar benda itu. Namun nyatanya Raka mencengkramnya terlalu kuat.
"Raka, lepasin. Tangan kamu luka." ujarnya penuh penekanan sembari menarik jari-jari Raka untuk melepas pecahan gelas itu.
Tangis wanita itu semakin pecah saat melihat darah yang menetes dari tangan Raka. Ia memeluk Raka semakin erat, mengusap punggung pemuda itu dengan lembut.
"Sayang, lepasin. Liat tangan kamu berdarah gitu."
Cengkaraman Raka akhirnya mengendur. Ia membiarkan Ayahnya mengambil alih pecahan gelas itu. Pemuda itu lantas mendongak, menatap Ayahnya dengan pandangan yang memburam oleh air mata.
"Ayah bohong sama Raka." cetusnya dengan suara bergetar.
"Bohong apa?"
"Raka sebenarnya emang nggak akan pernah bisa jalan lagi kan? Dokter pasti nggak ngomong kalo lumpuh ini bisa disembuhin. Ayah bohong biar Raka nggak sedih kan?"
Pria itu meraup wajahnya dengan sebelah tangan. Entah atas dasar apa putranya menuduhnya seperti itu.
"Ayah nggak pernah bohong Raka. Dokter emang bilang kalo lumpuh yang kamu alami ini bisa disembuhin. Bahkan Ayah masih simpen surat hasil lab yang dikasih dokter."
"Tapi kenapa Raka nggak sembuh-sembuh, Yah? Udah dua bulan Raka rutin minum obat dari dokter, terapi juga. Tapi hasilnya nihil. Raka masih nggak bisa jalan. Kaki Raka masih nggak bisa di gerakin." nafas Raka memburu, bersaing dengan isakannya. "Raka nggak berguna, cuma nyusahin Ayah Bunda, persis kayak apa yang mereka bilang. Raka bakal jadi benalu di kehidupan kalian."
"Siapa yang berani bilang kamu nyusahin? Ngomong sama Ayah biar Ayah datengin orangnya." desis pria itu sembari mencengkram bahu Raka pelan.
Raka menelan ludah. Ngeri melihat kilatan emosi yang terpancar jelas di kedua mata Ayahnya. Ia memilih diam. Memaki dirinya sendiri dalam hati. Bisa-bisanya ia keceplosan mengatakan jika ada orang yang bilang dirinya menyusahkan. Sejak dulu mengenal Ayahnya, Raka tahu pria itu tak pernah main-main dengan ucapannya. Ia benar-benar akan mendatangi siapapun yang mengusik keluarganya.
Sang Bunda yang sepertinya tahu jika Raka tak berani menjawab, memilih mencari pengalihan. Ia menyuruh suaminya itu untuk mengambil kotak P3K yang akan digunakan untuk mengobati tangan Raka.
Pria itu mengela nafas, berusaha meredam emosinya. Ia mengusap puncak kepala Raka sebelum berlalu.
"Jangan dengerin omongan orang Raka, karena yang ngerasain semua ini Ayah sama Bunda. Yang tau kamu nyusahin atau enggak itu kami. Dan kami nggak pernah ngerasa kamu nyusahin. Bunda udah pernah bilang, kami justru bersyukur saat Tuhan masih ngasih kamu kesempatan untuk terus bernafas. Bunda nggak bisa bayangin kalo malam itu kamu sampe pergi Raka." lirih sang Bunda setelah kepergian Ayahnya.
"Sampai kapan Raka akan terus kayak gini? Sampai kapan Raka nggak bisa jalan Bunda?"
"Sampai Tuhan puas karena kamu udah berhasil melewati cobaannya. Terus berdoa Raka, sholatnya jangan sampai ditinggalin. Dekatkan diri sama yang diatas. Rayu sang pemilik langit dan bumi ini supaya Dia balikin fungsi kedua kakimu."
Wanita itu menghela nafas. Tangannya bergerak untuk menghapus air mata di pipi Raka. "Tuhan itu nggak pernah ngasih cobaan di atas kemampuan hambanya. Dia ngasih kamu cobaan ini karena yakin kamu kuat ngejalaninnya. Tuhan ingin kamu lebih dekat sama Dia. Bunda juga pernah bilang, saat kita sakit, tiga hal yang ditarik Tuhan kembali, yang pertama nafsu makan, kedua keceriaan wajah, yang terakhir dosanya. Dia bakal ngebalikin semuanya saat kita sehat, kecuali dosa. Anggep ini sebagai sarana penghapus semua dosa kamu Raka."
Raka tertegun sejenak. Ia merasa tertohok, juga merasa berdosa. Semenjak kecelakaan itu, ia meninggalkan kewajibannya sebagai umat muslim. Terus menyalahkan Tuhan atas musibah yang di alaminya. Mengungkit kebaikan yang sudah ia lakukan. Merutuki ketidakadilan ini. Ia melupakan nasihat yang diberikan Bundanya.
Raka sadar, Tuhan bukan menghukumnya, Tuhan hanya ingin mengujinya. Menguji seberapa kuat imannya. Dan dengan bodohnya ia malah menyalahkan Tuhan atas segala kesengsaraan yang ia terima. Seharusnya ia bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, merasakan kasih sayang dari orang-orang di sekelilingnya.
Seharusnya Raka bertahan, bukan menyerah. Keluarganya sudah sedih karena kehilangan Kejora, seharusnya ia menguatkan mereka, bukan malah menambah kesedihan. Benar kata Ayahnya, dirinya laki-laki, calon kepala keluarga, seharusnya ia terlihat lebih kuat, bukan lemah seperti ini. Banyak orang yang sayang padanya, tak seharusnya ia mendengarkan omongan sampah dari orang-orang yang tidak di kenalnya itu.
Air mata Raka kembali merebak. Dengan segala rasa bersalah, ia membalas pelukan Bundanya dengan satu tangan. Membiarkan cairan bening itu terjatuh mengenai pundak sang Bunda.
"Bunda, maafin Raka. Nggak seharusnya Raka kayak gini. Seharusnya Raka bantu Ayah Bunda, bukan malah tenggelam dalam kesedihan Raka sendiri. Maaf akhir-akhir ini Raka sering ngomong kasar sama Bunda, sering cuekin Bunda. Maaf Raka—"
"Ssst." wanita itu menyuruh Raka untuk diam, tak kuasa menahan gejolak dihatinya ketika mendengar suara parau Raka yang terus meminta maaf. Ia mengeratkan pelukannya, mengusap rambut Raka dengan sayang.