Starlight di Bulan April

ardiin
Chapter #16

16. Kekhawatiran

"Bunda kangen banget sama Jora." gumam wanita itu dengan air mata yang perlahan turun. Ia amat merindukan putrinya. Ia menyesal karena telah membiarkan Kejora pindah ke Malang. Seharusnya jika Kejora tidak pindah, mungkin gadis itu masih akan bersama mereka hingga kini. Wanita itu mencemaskan kehidupan Kejora diluar sana. Ia tak tahu apakah putrinya itu sudah makan atau belum, malam ini tidur dimana, atau kesulitan apa yang tengah dihadapi Kejora. Ia benar-benar merasa gagal menjadi seorang Ibu. 

Raka merasa semakin bersalah ketika melihat Bundanya menangis. Tangannya terulur untuk menghapus air mata di pipi wanita itu. Setelahnya, Raka memeluknya dengan sangat erat. 

"Bunda, maafin Raka. Gara-gara Raka Jora pergi."

Wanita itu menggeleng pelan. Ia balas memeluk Raka erat. Membayangkan jika anak dalam pelukannya itu adalah Kejora. 

"Bukan salah kamu, tapi salah Ayah Bunda. Nggak seharusnya kami banding-bandingin kalian, harusnya kami turutin apa mau Kejora. Justru karena kami dia benci kamu. Maafin Ayah Bunda ya." ujar wanita itu sembari mengecup puncak kepala Raka. Sedang Raka hanya mengangguk, tak tahu harus membalas apa. 

Wanita itu juga menjelaskan jika ia tak pernah membeda-bedaakn kasih sayang. Mereka amat bangga pada Kejora. Namun memilih diam dan tidak menyuarakan rasa bangganya agar anaknya tidak tinggi hati dan cepat berpuas diri. Kejora salah saat ia berpendapat jika orangtuanya tak pernah membangga-banggakannya di depan teman-teman orangtuanya. Justru mereka sering membanggakan Kejora, tentu saja tanpa sepengetahuan gadis itu. Hal itu juga dilakukannya pada Raka. Makanya Raka baru tahu jika kedua orangtuanya sering membanggakannya saat Kejora menyuarakan apa yang dirasanya. 

Malam itu, keduanya menangis bersama, sama-sama merindukan Kejora. Gadis yang sekarang keberadaannya tidak diketahui. 

Sedang sang Ayah yang kini duduk di ujung kasur hanya bisa menunduk. Menahan gejolak di hatinya agar tidak ikut menangis. Dirinya juga amat merindukan Kejora. Ia menyesal telah memaksa Kejora menuruti semua keinginannya.

Pria itu memiliki gengsi yang tinggi. Pantang baginya jika di bantah. Ia malah akan semakin menekan orang yang membantahnya, seperti anak perempuannya. Itulah sebabnya Kejora sungguh merasa tertekan. Dan siapa sangka, gengsinya yang teramat tinggi itulah yang malah menghancurkan keluarganya. 

Pria itu menghela nafas. Tangannya bergerak untuk menyentuh kaki Raka. Tak ada reaksi dari pemuda itu. Jelas saja, kaki Raka mati rasa, tak akan bisa merasakan sentuhan. Malam ini, ia mencemaskan keadaan kedua anaknya. Ia mencemaskan keadaan Kejora diluar sana, juga mencemaskan Raka yang bisa saja akan mengulangi kejadian tadi. 

"Ah, Bun, gimana kalo malam ini kita tidur disini?" cetus pria itu memberi ide, mengantisipasi. 

Wanita itu menoleh. Saat mengerti apa maksud suaminya, ia mengangguk. "Boleh."

"Enggak." jawab Raka cepat. Ia menatap Ayahnya penuh protes. "Raka udah besar, malu kalo tidur sama Ayah Bunda."

"Yaudah." pria itu mengedikkan bahunya, lantas beranjak untuk keluar kamar. 

Raka mengerjap, menatap arah berlalu Ayahnya dengan kening berkerut. Tumben. Bisanya pria itu kekeh dengan kemauannya. Tidak biasanya ia menerima penolakan begitu saja. Mungkinkah ia sudah berubah?

Masih banyak tanya dalam benak Raka, ia dibuat terbelalak dengan kelakuan Ayahnya. Pria itu kembali memasuki kamarnya dengan karpet yang langsung digelar disamping tempat tidur Raka. Ia juga memindahkan bantal, guling, dan selimut dari kamarnya ke kamar Raka. 

Raka berdecak malas, tahu apa maksud Ayahnya. "Yah, Raka nggak akan ngelakuin itu lagi."

"Ngelakuin apa? Orang Ayah mau ngajak Bunda tidur disini. AC kamar Ayah mati." dalihnya pura-pura tidak tahu. Padahal sebenarnya ia ingin menjaga Raka, takut-takut pemuda itu melakukan hal yang tidak diinginkan. 

Raka hanya melengos, tahu jika Ayahnya berbohong. Raka juga tahu jika mereka mengkhawatirkannya. Pemuda itu menghela nafas, melirik Ayahnya yang kini membaringkan diri diatas karpet dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut. 

Pemuda itu lantas mendongak, menatap wajah Bundanya yang sayu. Wanita itu rupanya tengah menahan kantuk. Raka jadi tidak tega, Bundanya pasti lelah. 

"Raka ngantuk, Bun." ujarnya pelan. 

Wanita itu menunduk, lantas tersenyum lembut. 

"Yaudah sekarang tidur, udah malem juga kan." 

Raka mengangguk pelan. Pemuda itu membaringkan tubuhnya dikasur. Bundanya membantu meluruskan kakinya, kemudian menarik selimut sebatas dada. Ia mengecup kening Raka sebelum ikut berbaring disamping suaminya. 

Pemuda itu tersenyum kecil. Merasa beruntung memiliki orangtua seperti mereka. Ia berjanji dalam hati untuk tidak lagi memikirkan dirinya sendiri. Sudah cukup ia menyusahkan mereka. Kini gilirannya membahagiakan. Langkah pertama yang harus dilakukannya adalah terus berlatih jalan dan meminum obat dari dokter agar cepat sembuh. 

Sedang di waktu yang sama, beberapa ratus kilometer dari tempat Raka, Kejora tengah duduk di pinggir kasurnya dengan terus menutup telinga, mengabaikan ponselnya yang terus berdering menampilkan nama Sasa. Air mata membasahi pipinya. Sedang Anna dan Rean yang juga ada disitu, hanya mengusap bahunya, berusaha menenangkan. Hari ini Kejora bolos, tidak bekerja. Semenjak mendapat jawaban dari Sasa atas pertanyaannya, gadis itu terus menangis, mengkhawatirkan kondisi kakaknya. 

"Kata Sasa Mas Raka nggak baik-baik aja, aku khawatir Mbak." ujar gadis itu parau. 

Lihat selengkapnya