"Psikiater?" Pemuda itu bertanya, menatap Bunda dan salah seorang temannya itu tak percaya.
Siang ini, rumahnya kedatangan tamu. Salah seorang teman SMA Bundanya dulu, namanya Tante Rima. Wanita itu mengaku jika bekerja sebagai psikiater.
Raka yakin wanita itu datang bukan untuk berkunjung, melainkan atas undangan Bundanya.
Apa Bundanya itu mengira dirinya gila?
Raka menggeleng tak percaya. Sudah dikatakan sejak beberapa bulan lalu, saat ia baru pulang dari rumah sakit, Raka tak ingin bertemu siapapun. Ia malu dengan kondisinya kini. Dan sekarang, Bundanya itu malah mengundang seorang ahli jiwa. Mempertegas hipotesa orang yang mengatakan jika dirinya gila sejak kecelakaan itu. Mengingat, pemuda itu sering mengamuk atau melamun sendirian. Namun Raka bahkan merasa dirinya baik-baik saja.
Tanpa mengucap sepatah kata lagi, pemuda itu memundurkan kursi rodanya, lantas mendorongnya menjauhi ruang tamu, meninggalkan kedua wanita itu, tanpa memperdulikan seruan Bundanya yang memanggil namanya.
Raka memasuki kamarnya, tanpa menutup pintu. Tak mau membuat Bundanya khawatir seperti kemarin. Ia duduk di depan jendela, menatap taman belakang yang ditumbuhi aneka bunga.
Kedua tangannya yang ada diatas lutut mengepal kuat. Senyum getir tercetak jelas di wajahnya. Belum habis rasa bersalahnya pada sang Ayah karena masalah tadi pagi, kini Bundanya malah menambahi dengan hal seperti ini. Entahlah, Raka merasa dirinya tak pernah diizinkan semesta untuk tenang sehari saja, tanpa memikirkan beban hidup.
"Raka," wanita itu memanggil lirih, berdiri di ambang pintu.
Kakinya perlahan masuk, menatap bagian belakang tubuh putranya dengan nanar. Ia memundurkan sedikit kursi roda Raka, menciptakan ruang antara putranya dengan jendela.
Wanita itu lantas berjongkok di depan putranya. Tangan rentanya bergetar menyentuh kedua tangan Raka yang terkepal. Pandangannya memburam karena air mata, menatap wajah putranya dengan perasaan bersalah.
Perlahan, Raka menurunkan pandangannya. Membalas tatapan Bundanya dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca.
"Raka nggak gila, Bun." lirihnya pilu. Tak pernah menyangka orangtuanya sendiri mengira jika dirinya gila.
"Akhir-akhir ini Raka memang sering ngamuk atau marah-marah ke Bunda, sering melamun sendirian, tapi bukan berarti Raka gila. Raka masih waras, Bun."
Tangan wanita itu terulur, menghapus air mata yang perlahan mengalir di pipi Raka, tanpa peduli dengan pipinya yang kini sudah basah oleh air mata. Hatinya serasa diremas kuat saat Raka menatapnya penuh kekecewaan. Wanita itu tak kuasa menahan tangisnya, ia menghambur untuk memeluk Raka.
Tubuh pemuda itu bergetar, berusaha menahan tangisnya. Tangannya terasa kaku hanya untuk sekedar membalas pelukan Bundanya. Alhasil, kedua tangan itu hanya terkepal di samping tubuh kurusnya.
"Anak Bunda emang nggak gila, Raka baik-baik aja." tutur wanita itu disela-sela isakannya.
"Raka tau tante Rima dateng bukan untuk bertamu, tapi karena Bunda undang kan? Kenapa, Bun?" Pemuda itu menelan ludah, merasakan sesak mengungkung dadanya.
Wanita itu melepas pelukan, menangkup wajah putranya dengan lembut. Kedua bola mata itu masih berkaca-kaca, tapi tak lagi mengeluarkan bulirnya. Raka bersikeras untuk tidak lagi menangis.
Tapi wajah yang tengah menahan tangis itu justru terlihat menyedihkan. Wanita itu tak bisa berlama-lama menatapnya. Ia mengalihkan pandang, pada jari-jarinya yang kini merapikan anak rambut Raka yang berantakan.
"Konsultasi ke psikiater bukan berarti gila Raka. Bunda cuma mau kamu jadi lebih baik. Bunda mau kamu kembali jadi Raka yang dulu, Raka yang ramah, Raka yang penuh senyum. Bunda kangen liat lesung pipimu, Bunda kangen liat matamu yang hilang saat senyum. Raka nggak pernah lagi senyum setulus dulu. Bunda kangen sama sikap Raka yang dulu. Raka emang nggak gila, Bunda tau itu. Raka cuma belum bisa nerima keadaan yang sekarang. Raka masih kejebak di lubang yang gelap. Dan Bunda percaya, Tante Rima bisa nuntun kamu untuk bisa lebih nerima keadaan." wanita itu menjelaskan dengan lembut, berusaha untuk tegar.
Perlahan, pandangannya turun, menatap tepat di netra coklat milik Raka, "Bunda mohon, mau ya ngobrol sama tante Rima?"
Pemuda itu mendesah tertahan. Meraup wajahnya dengan satu tangan. Ia kalah. Tak pernah tega melihat wajah memohon Bundanya. Padahal ia yang merasa kecewa, namun hatinya ikut sakit saat melihat kedua bola mata Bundanya memancarkan pengharapan.
Sudah banyak kekecewaan, ia juga sudah banyak menyusahkan. Kakinya lumpuh, belum bisa membantu apa-apa. Mungkin dengan menyetujuinya, ia bisa membuat Bundanya senang. Maka dengan terpatah-patah, Raka mengangguk, membuat senyum Bundanya terulas.
Tangan Raka bergerak, menghapus air mata di pipi Bundanya. Berusaha menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman, setulus mungkin.
Keduanya lantas beranjak untuk menemui Tante Rima, tak enak hati meninggalkannya terlalu lama. Jantung Raka berdebar, merasa gugup bertemu dengan seorang psikiater. Malu juga pasti.
Tante Rima menyambut keduanya dengan senyum hangat, tak ada tatapan penghakiman, justru Raka merasa di mengerti.
Raka mencium punggung tangan wanita itu. Terlalu fokus pada rasa sakitnya, ia sampai lupa untuk bersikap sopan.