Pagi-pagi sekali, Kejora sudah terbangun. Senyum manis tersungging di bibir mungilnya, menampakkan lesung pipinya yang dalam. Tak sabar rasanya ingin segera pulang dan berkumpul kembali bersama keluarganya. Rasa rindunya semakin membuncah.
Jari-jari lentiknya bergerak untuk mengambil ponsel disamping bantal. Ia mencari kontak Raka, berniat menelpon pemuda itu dan memberi tahu kabar kepulangannya. Namun jari telunjuknya berhenti di udara, tak jadi menelpon Raka. Akan lebih seru jika ia pulang tanpa memberi tahu, memberi kejutan untuk keluarganya, terutama kakaknya itu.
Kejora memilih membuka instagram. Ia sudah lama tak membuka aplikasi itu. Gadis itu membaca satu persatu direct message yang masuk ke akun pribadi miliknya. Tentu saja pesan paling banyak dikirim oleh Raka dan Sasa, terus menanyakan keberadaannya dan memintanya untuk pulang.
Gadis itu harus menahan sesak ketika membaca satu persatu pesan dari Raka. Pesannya tak jauh berbeda dengan yang dikirimkan lewat SMS. Namun karena Kejora berusaha menanggalkan rasa bencinya, pesan dari Raka kini justru menohok hatinya.
Helaan nafas panjang keluar dari bibir mungilnya. Ia memilih membuka-buka instastory dari orang-orang yang diikutinya. Tak ada yang menarik, namun tetap dilakukannya.
Jari telunjuknya berhenti saat mencapai instastory Raka. Senyumnya luntur seketika, kedua matanya sontak memanas, melihat Raka memposting foto kebersamaannya dengan Ayah Bundanya, beberapa jam yang lalu. Meskipun sudah empat tahun ia tidak tinggal lagi dirumahnya, Kejora tahu foto itu diambil diruang TV.
Raka terlihat baik-baik saja, tidak seperti yang dikatakan Sasa. Mungkinkah sahabatnya itu berbohong? Dan kebersamaan mereka yang terlihat harmonis membuat dada Kejora semakin sesak. Lihat, mereka masih bisa bahagia tanpa kehadirannya. Dan justru sepertinya kepergiaannya tidak berpengaruh apapun pada kehidupan keluarganya itu. Kejora merasa terbuang, tidak dianggap.
Ingatannya terlempar pada kenangan beberapa tahun lalu, ketika ia masih duduk dikelas satu SMP. Kejora pernah mengajak Ayah Bundanya untuk tidur di depan TV. Namun yang didapatkannya justru bentakan dari Ayahnya. Pria itu mengatakan jika dirinya lelah, dan Kejora sebagai anak tak bisa mengerti, malah menuntut ini itu.
Air mata Kejora perlahan turun. Ia menelan ludah. Mempertanyakan ketidakadilan yang dilakukan orangtuanya selama ini. Mungkinkah dirinya hanya anak pungut? Tapi sepertinya tidak mungkin. Wajahnya mirip sekali dengan Raka. Lalu apa yang membuat kedua orangtuanya membeda-bedakan kasih sayang seperti selama ini? Kejora tidak tahu. Pikirannya semakin kacau. Kenangan-kenangan pahit yang dialaminya selama ini kembali terputar dikepalanya seperti kaset rusak.
Kejora yang saat itu baru berusia tiga belas tahun hanya bisa meringkuk di kamarnya dengan air mata yang mengalir di pipi. Ia baru saja dimarahi karena telah merusakkan ponsel miliknya. Kejora sudah menjelaskan jika dirinya tidak sengaja menjatuhkan ponsel itu dikolam, tapi Ayahnya malah terus memarahinya, membanding-bandingkan dengan Raka, mengatakan jika dirinya ceroboh. Kejora sungguh muak. Tak masalah jika dimarahi, tapi ia tak pernah suka jika Ayahnya sudah membawa-bawa nama Raka.
Gadis itu tak memperdulikan ketika Raka memanggil namanya sembari mengetuk pintu. Ia tak menyahut. Kejora mendengus kesal ketika Kakaknya itu justru masuk ke kamarnya sebelum mendapat izin, duduk di pinggir kasur dengan helaan nafas.
"Dek, makan dulu yuk?"
Kejora tak menyahut, masih terus terisak. Muak jika Raka sudah bersikap manis seperti ini.
"Masalah ponsel, nanti biar Mas beliin lagi pake uang tabungan Mas. Sekarang makan dulu ya?" Raka masih berusaha membujuk, tak tega melihat adiknya seperti ini. Kejora hanya menggeleng pelan.
Gadis itu berdecih dalam hati. Memangnya masalah ini sesimpel itu? Kejora juga bisa membeli ponsel dengan uang tabungannya selama ini. Tapi ini masalahnya menyangkut perasaan. Kejora sakit hati dengan perkataan Ayahnya yang terus membanding-bandingkannya dengan Raka. Ia juga muak dengan Raka yang sok baik, membuatnya semakin terlihat jahat.
"Nanti kamu sakit loh kalo nggak mau makan."
Tangan Raka terulur untuk mengusap rambut hitam Kejora, namun segera ditepis dengan kasar oleh gadis itu.
"Nggak usah sok peduli." Kejora berujar ketus.