Starlight di Bulan April

ardiin
Chapter #19

19. Pengalihan

"Maaf Kejora, saya nggak suka ya punya karyawan yang plinplan dan nggak konsisten. Kemaren kamu ngundurin diri, dan sekarang kamu ngelamar kerjaan lagi. Kenapa? Kemaren kamu ngundurin diri karena ada kerjaan lain yang gajinya lebih gede dan ternyata tempat itu lagi nggak nerima karyawan makanya kamu ngelamar kesini lagi, gitu?" oceh Bu Rita, pemilik toko kue tempat Kejora bekerja.

Gadis itu menggeleng pelan. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan air matanya.

"Sekali lagi maaf Kejora, saya nggak bisa nerima kamu. Kamu boleh pergi sekarang."

Kejora keluar dengan pandangan yang memburam karena air mata. Bukan masalah penolakannya, tapi kata-katanya yang tajam. Kejora tidak serendah itu sampai meninggalkan pekerjaan lama demi mengejar gaji tinggi. Menurutnya gaji yang sekarang saja sudah cukup. Toh ia tak jadi mendaftar Kedokteran.

Seharusnya jika tidak ingin menerimanya lagi, langsung to the point saja. Tak perlu lah menghina seperti itu. Kejora bukan orang yang gila uang. Memang benar kata Bundanya, orang akan lupa daratan jika sudah memiliki banyak uang. Berkata seenaknya seolah lawan bicaranya tidak akan merasa sakit hati.

Kejora berjalan cepat keluar dari toko itu, mengabaikan tatapan Anna yang ingin tahu. Ia ingin menenangkan diri dulu.

★★★

Gadis itu berjalan di sepanjang trotoar dengan pandangan kosong. Semuanya gara-gara pesan singkat dari Sasa. Harusnya ia tidak gegabah, seharusnya Kejora mencari tahu dulu apakah berita itu benar adanya atau hanya kebohongan semata. Tetapi untungnya Kejora sempat membuka instagram sebelum pulang. Jika saja ia tidak melihat postingan Raka, mungkin sekarang dirinya sudah ada dirumah, menahan malu dan harus menerima kemarahan Ayahnya. Dan sepertinya, Raka ikut andil dalam kelakuan Sasa yang mengatakan jika dirinya kecelakaan. Tak mungkin Sasa mengatakan itu tapi Raka tidak tahu. Mungkin mereka bekerja sama agar Kejora ingin pulang.

Gadis itu berdecih pelan, dirinya tidak sebodoh itu. Tak mudah untuk membohonginya.

Benar kata Rean, seharusnya ia menyelesaikan apa yang sudah ia mulai, tak boleh ada penyesalan. Tak ada yang namanya jalan yang salah. Iya, Kejora harus bertahan. Tak boleh goyah hanya karena omongan pedas dari orang-orang sekitar.

Jika dipikir-pikir, dirinya sering bertengkar dengan sang Ayah hanya karena gadis itu sering membantah. Kejora sering melihat senyum bahagia Ayah Bundanya ketika anak-anaknya berhasil melakukan apa yang mereka suruh. Jika begitu, Kejora akan menuruti keinginan Ayahnya. Ia akan mendaftar jurusan Manajemen jika kuliah nanti. Kejora akan belajar mati-matian agar ia cepat lulus dan menjadi lulusan terbaik, mengalahkan segala prestasi Raka selama ini. Mereka pasti amat bangga padanya.

Gadis itu terserentak kaget ketika merasakan tepukan dibahunya. Ia menoleh, mendapati Nala yang tengah tersenyum manis padanya. Tidak ada kemeja rapi dan jas dokter, pemuda itu mengenakan kaos yang dilapisi jaket hitam dan celana selutut.

"Dipanggilin nggak nyaut ternyata ngelamun sambil nangis." Nala berucap pelan. Pemuda itu mengangsurkan sebuah sapu tangan yang ia ambil dari saku jaketnya.

Kejora membelakak kaget. Ia menyentuh pipinya sendiri. Basah. Tanpa sadar air matanya menetes sejak tadi. Gadis itu segera menerima uluran sapu tangan dari Nala, lantas mengusap pipinya yang basah.

"Air matanya keluar sendiri nih."

Nala tertawa pelan. Tangannya terulur untuk mengacak rambut panjang Kejora. "Ada-ada aja sih."

"Mas Nala nggak kerumah sakit?" tanya Kejora sembari memperhatikan penampilan Nala yang terlihat santai.

Pemuda itu menggeleng pelan, "saya kebagian shift malam. Kamu sendiri nggak ke toko kue?"

"Enggak, aku udah nggak kerja lagi disana, lagi mau nyari kerjaan baru. Tapi sekarang pengen pulang dulu, lagi nggak enak badan."

"Nggak enak badan atau nggak enak hati? Sampe jalan pulang aja lupa." goda Nala disertai kerlingan mata.

Kejora tersadar. Gadis itu mengedarkan pandangannya. Ini bukan jalan menuju kontrakannya. Rupanya saat keluar dari toko tadi, ia malah belok kearah kanan, bukan kiri. Tak terasa ia sudah berjalan sejauh ini. Dan jarak ke kontrakannya malah semakin jauh.

Gadis meringis, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia lupa jika Nala adalah seorang dokter. Tentu saja pemuda itu bisa membedakan mana orang yang benar benar sakit atau hanya berpura-pura.

"Mau ikut saya nggak?"

Lihat selengkapnya