Starlight di Bulan April

ardiin
Chapter #20

20. Nala, oh Nala!

"Kok tadi di jawab iya sih, Mas?" tanya Kejora ketika mereka berjalan menuju sebuah bangku dengan tangan masing-masing yang memegang es krim.

Kejora merutuki bibirnya yang tidak bisa di rem, lancang bertanya seperti itu. Wajahnya sontak memerah ketika Nala menoleh dengan seulas senyum.

"Leo emang anak pertamanya kakak saya kan?"

Wajah Kejora semakin merona. Rasanya, Kejora ingin menghilang saat itu juga. Malu rasanya. Tapi ibu-ibu tadi memang mengira mereka adalah orangtua Leo kan? Disini, entah dirinya terlalu percaya diri atau memang Nala yang tidak peka.

Sialan memang Nala. Pemuda itu terus mengajaknya mengobrol seolah-olah tak terjadi apa-apa diantara mereka. Tidak tahu apa jika Kejora merasa sangat canggung.

Dan lebih sialnya, Leo malah berlari-lari menghampiri anak-anak sebayanya yang tidak jauh dari mereka, meninggalkan Nala dan Kejora berdua. Awalnya, Kejora sudah ingin beranjak untuk menyusul Leo. Namun Nala mencekal tangannya, menyuruhnya untuk tetap duduk, membiarkan Leo bermain bersama teman-temannya selama masih dalam pantauan mereka.

"Kamu sama Rean pacaran?" tanya Nala tiba-tiba.

"Hah?" Kejora menoleh bingung, menatap Nala dengan sebelah alis terangkat. "Kata siapa?"

Nala terkekeh pelan, mengacak rambut Kejora dengan gemas. "Saya nanya Jora, bukan nebak. Kalian keliatan deket, pernah sekali saya liat kalian makan berdua di kedai bakso deket kampus saya dulu. Jugaan waktu kita chatan, setiap kali saya nanya lagi dimana dan sama siapa, pasti nama Rean kamu sebut."

Wajah Kejora merona, jantungnya berpacu lebih cepat. Mendengar pertanyaan Nala, Kejora jadi teringat ucapan Anna tempo hari. Ketika Anna bercerita tentang gebetan barunya, gadis itu memberi tahu jika seseorang sudah menanyakan pertanyaan seperti Nala tadi, itu berarti seseorang itu ingin mengetahui statusnya, masih jomblo atau sudah memiliki pacar. Kemungkinan besar, seseorang itu menyukainya.

"Cuma temen." jawab Kejora kikuk.

"Kalo dia suka sama kamu?"

Dahi Kejora berkerut samar, "nggak mungkin lah. Rean itu pacar Mbak Anna."

Nala mengangguk pelan, senyum tipis terulas di bibirnya. "Memang Anna atau yang lain nggak marah liat kalian sedeket itu?"

"Yang lain?" cicit gadis itu pelan, seperti bisikan. Wajahnya semakin memerah ketika mengerti maksud Nala. Yang lain itu maksudnya pacar Kejora kan? Tuhkan, sudah mengarah ke situ, persis seperti yang dikatakan Anna.

Tapi Kejora tidak ingin terlalu percaya diri dulu, barangkali Nala bertanya seperti itu hanya untuk membunuh kesunyian diantara mereka, mencari topik obrolan yang menarik.

"Nggak ada sih, Mbak Anna sendiri kan selalu ikut. Kebetulan aja kemaren waktu makan dia lagi nggak enak badan. Lagipula, Mbak Anna bukan tipe orang cemburuan." Kejora menggigit bibir bawahnya, berharap Nala mengerti jika dirinya tidak memiliki kekasih tanpa harus bertanya lagi.

Nala kembali mengangguk dengan seulas senyum. Mulutnya sudah terbuka untuk kembali bersuara, namum dering ponselnya mengintrupsi. Pemuda itu berdecak pelan. Ia merogoh saku celananya, mengambil benda pipih itu. Nama kakaknya tertera dilayar sebagai penelpon. Tanpa membuang waktu, Nala menggeser layarnya ke atas untuk mengangkat panggilan itu.

"Kenapa, Mas?" tanya Nala setelah mendekatkan benda pipih itu kedepan telinga.

Kejora terdiam. Melirik Nala sekilas. Ia memilih memperhatikan Leo yang sedang bermain bersama teman-temannya. Namun pikirannya berkelana kemana-mana. Tentang pekerjaan yang belum didapatnya, tentang pertanyaan Nala yang ambigu, tentang keluarganya yang tak tahu apakah masih peduli padanya atau tidak.

Gadis itu menghela nafas pelan. Entah kenapa hidupnya jadi serumit ini. Kejora seolah berjalan di sebuah labirin. Dan saat ini dirinya seperti tersesat, tidak tahu jalan keluar.

Ia kembali menoleh ketika Nala mengakhiri sambungan telponnya. Pemuda itu melirik jam tangannya lantas bangkit berdiri.

"Pulang yuk, Papanya Leo udah nyariin." ajak Nala sembari mengulurkan tangannya.

Kejora menggigit bibir. Bingung harus bagaimana. Ragu menguasai apakah ia harus menyambut uluran tangan itu atau tidak. Malu, tapi jika tidak, kasian Nala. Pemuda itu yang justru malu nantinya.

Akhirnya perlahan, Kejora mengangkat tangannya, manautkannya dengan tangan Nala.

Pemuda itu terserentak, ia tidak sadar jika tadi sudah mengulurkan tangan. Keduanya nampak salah tingkah.

Kejora sudah ingin menarik tangannya lagi, namun Nala buru-buru menguncinya dalam genggaman.

Lihat selengkapnya