22 April, hari yang biasanya dipenuhi kejutan ditahun-tahun sebelumnya. Namun tahun ini berbeda, hanya ada kehampaan. Kejora mengelap meja terakhir dengan pandangan kosong. Pikirannya berkelana kemana-mana. Membayangkan jika dirinya tidak pergi, mungkin hari ini ia bisa merayakan hari ulang tahunnya bersama keluarganya, seperti tahun-tahun sebelumnya.
Bu Nani yang melihat gadis itu tengah melamun langsung mendekat. Kejora memang bekerja di rumah makan miliknya. Beberapa hari ke sana kemari mencari pekerjaan, Bu Nani yang tidak tega akhirnya menawarinya untuk bekerja di tempatnya.
"Jora, kok ngelamun?" Bu Nani menepuk bahu Kejora, membuat gadis itu berjengit kaget.
Ia meringis tidak enak hati, sedikit terkejut melihat meja terakhir yang dilapnya sudah bersih. Gadis itu hanya menggumamkan kata maaf, membuat Bu Nani tersenyum hangat.
"Udah selesai semua kan? Yuk pulang."
Kejora mengangguk pelan. Ia mengembalikan lap di tempatnya kemudian mengambil alih satu plastik dari tangan Bu Nani. Plastik itu berisi makanan yang sudah di bungkus. Hampir sebulan bekerja dengan beliau, Kejora baru mengetahui jika Bu Nani suka berbagi makanan yang tidak habis pada anak-anak jalanan atau para pengemis. Selain baik, wanita paruh baya itu juga dermawan.
Setelah memastikan semua pintu terkunci, keduanya berjalan untuk pulang dengan sesekali memberi sebungkus makanan pada orang-orang yang membutuhkan.
Kejora tersenyum kecil. Ikut bahagia melihat binar mata orang-orang yang di diberinya. Kejora sangat bersyukur. Setidaknya, ia tidak terlantar seperti mereka. Dirinya masih bisa makan setiap hari, ada atap tempatnya berteduh dan beristirahat di tempat yang nyaman.
"Hari ini, nak Nala shift pagi kan? Kok tumben nggak nganter pulang?" Tanya Bu Nani di tengah perjalanan.
"Katanya ada acara keluarga, Bu." Kejora menjawab dengan senyuman yang terulas di bibirnya.
Perihal mengenai permintaan Nala waktu itu, Kejora sudah menerimanya. Tak ada alasan untuk menolak. Dirinya juga menyukai Nala. Pemuda itu baik, dan jangan lupakan jantungnya yang selalu berdetak tak karuan ketika berada di dekat pemuda itu.
Melihat Nala, Kejora bisa mengobati sedikit rindunya pada Raka. Meskipun wajahnya sama sekali tidak mirip, tapi setidaknya Nala memiliki lesung pipi dan tatapan teduh seperti kakaknya.
Entahlah, jika membahas Raka, Kejora bingung dengan perasaannya sendiri. Dulu, ketika dirinya belum pergi sejauh ini, hari-harinya di penuhi kebencian, meskipun rasa rindu menyelinap untuk hadir, itu hanya sebagai pelengkap. Sedang sekarang, kadang Kejora merasa sangat benci, kadang juga merasa sangat rindu. Ia merasa dipermainkan oleh perasaannya sendiri.
Kejora menggeleng pelan, menepis bayang-bayang Raka yang mulai hadir. Biasanya, jika sudah memikirkan kakaknya, Kejora akan sulit untuk tidur.
"Bu, kok Ibu bisa sebaik ini sih? Maksud Jora, di jaman sekarang, susah nemuin orang sebaik Ibu." Ujar Kejora setelah memberi bungkusan makanan terakhir pada salah seorang tukang sampah. Ia berusaha mengalihkan pikirannya agar tidak terus-terusan memikirkan Raka.
Bu Nani tersenyum. Ia menatap Kejora dengan hangat. "Dulu Ibu nggak sebaik ini loh, cuma beberapa tahun lalu, ada kejadian yang bikin mata Ibu kebuka untuk membantu sesama manusia."
"Kejadian apa?" Tanya Kejora penasaran. Ia mulai tertarik dengan cerita wanita paruh baya itu.
"Dulu waktu Winda masih SMA, dia ikut study tour ke Jakarta. Waktu Bus yang dia naikin berhenti sebentar di pom bensin, Winda turun karena pengen buang air kecil. Padahal dia udah bilang sama guru, sama temen satu kursinya juga. Tapi nggak tau kenapa, si Winda di tinggal. Dia nangis nggak tau gimana mau pulang. Nggak berani juga minta tolong. Dia cuma bisa duduk di pinggir jalan, berharap busnya balik lagi. Terus beberapa jam kemudian, ada Ibu-ibu sama anak laki-lakinya nyamperin dia, nanya dia kenapa. Winda jelasin semuanya sambil nangis. Akhirnya mereka berdua pesenin travel untuk Winda. Winda bisa pulang karena dianter travel itu sampe depan rumah. Untung ada mereka berdua, Ibu nggak bisa bayangin kalo sampe kehilangan Winda. Meskipun Ibu punya Widya, tapi Ibu tetap nggak mau kehilangan Winda. Setiap anak itu pasti berharga untuk orangtuanya. Sekeras apapun mereka sama anaknya, mereka tetep sayang. Nggak ada yang namanya orangtuanya pilih kasih, mungkin cuma perasaan anaknya aja."
Kejora terdiam. Merasa tertohok dengan kata-kata Bu Nani. Wanita itu seperti menyindirnya, meskipun Kejora yakin niatnya tidak begitu. Karena Bu Nani sama sekali tidak tahu masalah keluarganya.
Kedua matanya memanas, ia langsung teringat Ayah Bundanya. Mungkinkah selama ini hanya perasaannya saja yang merasa dianaktirikan? Mungkinkah mereka menyayanginya sama seperti mereka menyayangi Raka? Mungkinkah setiap bentakan Ayahnya merupakan bentuk dari kasih sayang beliau terhadapnya? Mungkinkah dirinya sama berharganya dengan Raka?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Membuat dadanya kian sesak. Kejora merindukan mereka, amat merindukan Ayah Bundanya.
"Ibu nggak bisa bales kebaikan mereka karena nggak tau mereka siapa. Tapi semenjak kejadian itu, Ibu jadi mikir, jaman sekarang, susah nyari orang-orang yang baik, tapi kenapa nggak kita mulai dari diri sendiri dulu kan?"
Bu Nani tersenyum hangat, Kejora membalasnya tipis. Gadis itu lantas mendongak, berusaha menahan laju air matanya agar tidak menetes.
Tak terasa mereka sudah dekat dengan kontrakan Kejora. Rasa sedih gadis itu berganti bingung ketika melihat lampu kontrakannya padam. Mereka sudah bayar listrik, biasanya juga Anna sudah pulang. Lalu mengapa padam? Mungkinkah Anna langsung pergi dengan Rean sepulang kerja?
"Kok lampunya mati, Jora?" Tanya Bu Nani tak kalah bingung.
"Mungkin Mbak Anna belum pulang, Bu."
Bu Nani hanya mengangguk pelan kemudian pamit untuk pulang.
Kejora langsung mendekati kontrakannya. Ia menurunkan handle pintu, berusaha membukanya. Terkunci. Benar, sepertinya Anna langsung pergi bersama Rean. Gadis itu berdecak pelan, ia merogoh tasnya, mencari kunci yang dibawanya.
Begitu pintu terbuka, lampu langsung menyala. Gadis itu mematung di tempat melihat pemandangan di depannya.
Anna berdiri paling depan, memegang sebuah kue ulang tahun berukuran besar. Ada Rean, Nala, Winda, Widya dan seorang anak laki-laki yang terlihat seusia dengan Widya. Kejora sama sekali tidak mengenalnya.
Mereka semua kompak menyanyikan lagu selamat ulang tahun, membuat tangis yang sejak tadi ditahannya langsung pecah. Air matanya mengalir tanpa isakan. Ia membekap mulutnya sendiri, tak percaya akan mendapat kejutan seperti ini.