Starlight di Bulan April

ardiin
Chapter #22

22. Perkembangan

Hari berganti hari,bulan dan tahun ikut ambil bagian. Tanpa terasa sudah setahun lebih Kejora pergi. Kini kesehatan Raka mulai membaik. Meskipun masih diselimuti kesedihan, pemuda itu tidak pernah menunjukkannya terang-terangan di depan orangtuanya. 

Tante Rima juga banyak membantu. Kini Raka lebih bisa memaknai arti hidup sesungguhnya. Ia tak lagi malu jika bertemu orang lain. Bahkan teman-temannya sering berkunjung, menemaninya, terutama Beni.

Seperti sore ini, Beni datang berkunjung. Pemuda itu bercerita banyak, tentang pekerjaan barunya. Beni memang sudah lulus sekitar tiga bulan yang lalu. Berbeda dengan Raka yang belum melanjutkan skripsinya.

Raka berusaha terlihat ikut senang, membuang jauh-jauh perasaan irinya. Mengingat kembali perkataan Tante Rima, bahwa tidak semua bunga mekar secara bersamaan. Mereka membutuhkan waktu yang berbeda-beda.

Keduanya kini berada di ruang tamu, dengan sebuah buku tentang psikologi yang ada di pangkuan Raka. Akhir-akhir ini Raka memang sedang gencar-gencarnya membaca buku soal psikologi, hal itu membantunya untuk lebih memaknai arti hidup dan sekalian mengisi waktu luangnya agar tidak dihabiskan dengan melamun seperti dulu, saat ia belum bertemu Tante Rima.

Namun fokus Raka tak lagi terarah pada buku di pangkuannya, melainkan pada Beni yang sesekali mengutak-atik ponselnya lalu memperhatikan pajangan yang tergantung di dinding.

"Kalo aku cetak foto ini, bagusnya di pajang dimana ya?" Beni bergumam lirih, mengetuk-ngetuk dagunya seolah sedang berfikir.

Terbentuk kerutan di dahi Raka, pemuda itu sama sekali tak mengerti. "Foto apa sih?"

Beni menyeringai. Ia tak menjawab pertanyaan Raka, memilih mengutak-atik ponselnya lagi. Setelah menemukan apa yang dicarinya, pemuda itu menunjukkannya pada Raka tanpa sepatah katapun. Seringaiannya masih tercetak jelas di bibirnya.

Kedua bola mata Raka kontan membulat melihat sebuah foto yang terpampang jelas di layar ponsel Beni. Itu foto dirinya saat sedang kritis. Terlihat dari kedua matanya yang masih memejam dengan beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya.

Tujuh tahun lebih mengenal Beni, Raka tahu jika temannya itu memiliki kebiasaan memotret apa saja yang menurutnya penting, tetapi tidak penting menurutnya orang lain. Bahkan Beni sudah memiliki beberapa flashdisk yang berisi foto-foto yang diambilnya sejak dulu. Pemuda itu pemegang prinsip bahwa setiap momen itu berharga dan harus di abadikan. Meskipun terkesan kurang kerjaan, kadang juga kebiasaannya itu membantu. Seperti saat ia lulus SMA, foto-foto yang diambilnya mampu di jadikan sebagai pengingat kenangan yang sudah berlalu.

"Hapus nggak?"

Raka sudah berniat untuk merebut ponsel itu, namun Beni lebih dulu menyembunyikannya di balik punggung, ia berpindah ke sofa yang berbeda untuk menjauhi Raka.

"Janganlah. Setiap—"

"Setiap momen itu berharga dan wajib diabadikan?" Potong Raka cepat, ia mendengus ketika melihat Beni yang tertawa karena dirinya hafal prinsipnya. 

Perlahan, Raka mulai menumpukan berat badannya pada kedua kaki. Ya, Raka mulai berdiri, berjalan tertatih-tatih menghampiri Beni.

Tawa Beni kontan terhenti. Ia mematung, memperhatikan Raka tanpa kedip. Kedua matanya terus mengikuti setiap gerakan Raka yang masih terlihat kaku sampai pemuda itu menjatuhkan diri disampingnya.

Barulah Beni mengerjap. Tatapan terkejut dan tak percaya terpancar jelas di kedua matanya.

"Udah bisa jalan?"

Raka tersenyum kikuk. Terasa risih dipandang seperti itu. Beni menatapnya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Pemuda itu hanya bisa mengangguk pelan, bingung harus merespon apa.

"Sejak kapan?"

"Sekitar dua minggu yang lalu sih udah mulai bisa berdiri, terus belajar jalan pelan-pelan."

Beni bertepuk tangan heboh, layaknya anak kecil yang baru menang undian. "Perlu dirayain nih, Ka. Harus di adain syukuran."

Raka mendengus, lantas memutar bola mata malas. "Ayah sama Bunda aja belum tau."

"Lah, kok gitu?"

Lihat selengkapnya