Starlight di Bulan April

ardiin
Chapter #23

23. Kunjungan

Pikir Kejora, berkunjung ke rumah pacarnya adalah suatu hal yang menegangkan, apalagi harus berhadapan dengan orangtuanya. 

Seperti malam ini, Nala mengundangnya untuk datang kerumahnya, ikut merayakan hari anniversary pernikahan Mama Papanya. Meskipun Kejora sudah pernah bertemu dengan kedua orangtua Nala saat acara pertunangan sepupunya, tetapi tetap saja rasa gugup itu ada. Kejora takut melakukan kesalahan yang akan membuat mereka tak setuju Nala berhubungan dengannya. Sifat overtinking-nya memang sudah mendarah daging.

Namun ketakutan dan rasa gugup itu musnah ketika mereka mulai berbincang-bincang. Ada Bagas, Mita, dan Leo juga. Anak kecil itu masih mengingatnya. Leo langsung berlari memeluk Kejora saat gadis itu baru saja memasuki rumah. Hal itu membuat Lili—Ibunda Nala—semakin menyukai Kejora.

Tidak ada alasan untuk tidak menyukai Kejora. Gadis itu baik, penyayang, dan sopan. Sifat Kejora yang bisa menjadi pendengar yang baik membuatnya bisa cepat akrab dengan Lili, mengingat wanita paruh baya itu senang sekali bercerita, dan Kejora tidak pernah menyelanya. Gadis manis itu selalu menyimak dengan baik, entah dirinya suka dengan pembahasannya atau tidak.

Banyak yang mereka bicarakan, mulai dari kehidupan rumah tangga Lili dan Mita, cerita masa kecil Nala, sampai kesibukan Kejora yang harus kuliah sambil kerja. 

Gadis itu begitu senang ketika Ibunda Nala memujinya dan mengatakan jika beliau amat bangga dengannya yang bisa hidup mandiri. Dalam hati, Kejora begitu berharap Ayah dan Bundanya juga merasakan hal yang sama, bangga dengannya yang bisa hidup mandiri.

Merasakan hangatnya keluarga Nala, membuatnya mengingat keluarganya sendiri. Sebenarnya, jika tidak sedang dimarahi atau dibanding-bandingkan, keluarga mereka cukup hangat. Sifat Kejora yang selalu menjadi pendengar yang baik itu menurun dari Bundanya. Sang Bunda juga akan dengan senang hati mendengar curhatan anak-anaknya, membuat Kejora merasa nyaman jika berdiskusi dengan beliau, meskipun kadang ia kesal saat sang Bunda menasihatinya saat dirinya bertengkar dengan sang Ayah.

Kejora rindu mendengar suara lembut Bundanya yang selalu mengingatkannya untuk selalu berbuat baik di manapun ia berada, ia juga merindukan setiap kemarahan sang Ayah yang dulu sering ia terima. Kejora merindukan mereka, amat merindukan mereka. Rasa rindunya tak pernah hilang di telan waktu.

"Lah, Leo tidur Jora?" Tanya Bagas saat melihat putranya tidur dalam pangkuan Kejora. Pria itu baru saja datang dari luar karena membeli sate yang diinginkan istrinya. Mita tengah mengandung anak kedua mereka.

Semua pasang mata kini menoleh kearah Bagas yang sekarang tengah menyerahkan sebuah kantung plastik yang berisi sate pada istrinya.

"Iya nih, ngantuk dia denger neneknya ngedongeng." Jawab Nala yang mengundang tawa dari semua orang yang ada di sana.

Mamanya memukul lengannya pelan, menatapnya dengan sorot geli. " Kamu nih, Mama lagi cerita ya bukan ngedongeng."

"Pindahin ke kamar Mit, kasian Joranya pegel."

Mita mengangguk, menjalankan perintah suaminya. Ia mengambil alih Leo dari pangkuan Kejora, lantas membawanya ke sebuah kamar di lantai atas.

Setelah kepergian mereka, Kejora menoleh kearah Nala. Pemuda itu tengah memperhatikan Mama dan kakaknya yang tengah mengobrol. Gadis itu bergerak dengan gelisah, berharap Nala menoleh kearahnya. Ini sudah malam dan Kejora ingin pulang.

Beruntungnya, tak beberapa lama kemudian, Nala menoleh kearahnya. Kejora memberi kode, mengisyaratkan jika dirinya ingin pulang. 

Nala yang peka hanya mengangguk, ia lantas menoleh kearah Mamanya.

"Ma, Nala mau anter Jora pulang dulu ya." Izin Nala sembari berdiri.

Atensi wanita itu beralih pada Kejora, menatap Kejora dengan binar yang meredup.

"Jora mau pulang?"

"Iya Tan, udah malem." Jawab Kejora kikuk, tak enak hati melihat ekspresi Lili yang sepertinya berat melepasnya.

"Padahal Tante masih banyak yang mau diceritain. Tapi ya udah kalo Jora mau pulang, kapan-kapan main lagi ya Jora." Wanita mengulas senyum diakhir kalimatnya.

Kejora mengiyakan. Nala pergi sebentar ke kamarnya untuk mengambil jaket.

Lihat selengkapnya