Waktu berjalan cepat bak lesatan anak panah. Kejora yang awalnya kewalahan ketika harus membagi waktu antara kuliah dan kerja, kini sudah terbiasa. Empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk membiasakan diri, jauh dari orangtuanya mengajarinya untuk hidup lebih mandiri.
Kini gadis itu sudah mencapai semester enam masa kuliahnya. Banyak yang berubah tiga tahun terakhir ini. Mulai dari hubungan Anna dan Rean yang kini hanya sebatas teman, sampai Kejora yang sekarang tinggal sendirian di kontrakannya. Ibunda Anna sudah pulang dari luar negeri, membuat gadis itu mau tak mau kembali ke rumahnya, meninggalkan Kejora sendiri. Namun Anna tetap sesekali meluangkan waktu untuk menjenguk Kejora, mengajaknya mengobrol seperti biasa. Kadang ia datang Rean,k kadang juga sendiri. Sesekali, Kejora lah yang berkunjung ke rumah Anna, bertemu dengan ibunda Anna. Meskipun wanitu itu tidak menyambutnya dengan baik, mungkin Kejora yang mirip dengan mendiang anaknya yang membuatnya bersikap seperti itu. Mungkin saja Ibunda Anna merasa bersalah karena tidak ada disaat-saat terakhir Mia, membuatnya selau sedih ketika bertemu Kejora.
Kejora masih bekerja di rumah makan milik Bu Nani. Meskipun gajinya tidak seberapa, yang penting cukup. Setidaknya, ia bisa dekat dengan Nala. Meski begitu, Kejora harus banyak sabar ketika menghadapi sikap ketus Winda. Sudah bertahun-tahun mengenalnya, membuat Kejora tahu jika Winda ternyata pencemburu, apalagi ketika suaminya datang ke rumah makan dan mengobrol dengan Kejora.
Hubungan Kejora dan Nala masih baik-baik saja, awet. Meskipun akhir-akhir ini, Nala sering membahas masalah hubungan yang lebih serius, mengingat usianya yang tak lagi muda, dua puluh enam tahun, yang menurutnya sudah pantas membangun biduk rumah tangga. Namun Kejora selalu membelokkan percakapan jika Nala sudah membahas tentang pernikahan. Masalahnya disini Kejora tidak ingin mendahului kakaknya. Sedang Nala belum tahu masalah yang menimpa Kejora, tentang gadis itu yang kabur dari rumah. Nala hanya mengetahui jika orangtua Kejora ada di Jakarta. Untuk alasan mengapa dia tidak pernah bertemu dengan orangtuanya, Kejora selalu mencari-cari alasan yang menurutnya masuk akal, salah satunya menunggu dirinya selesai kuliah terlebih dahulu. Ia juga memberi alasan bahwa orangtuanya melarangnya untuk pacaran sebelum lulus kuliah, membuat Kejora tidak pernah memperkenalkan Nala pada orangtuanya.
Nala agak sensitif beberapa bulan terakhir ini. Apalagi jika Kejora dekat dengan Rean. Menyulut api cemburu dalam dirinya. Mungkin juga karena Kejora yang seolah tidak mau diajak ke hubungan yang lebih serius, membuatnya uring-uringan. Takut gadis itu direbut oleh laki-laki lain. Untungnya, Kejora selalu berhasil meredam kegundahan Nala, membuat hubungan mereka bisa membaik lagi.
Seperti malam ini, Nala melihat Kejora yang diantar pulang oleh Rean, membuatnya seketika badmood. Kejora tidak kehabisan akal untuk membuat mood Nala membaik lagi, ia mengajak pemuda itu berjalan-jalan di sekitaran alun-alun. Kali ini tempat itu terlihat begitu indah dengan lampu-lampu hias yang terpasang, menyinari gelapnya malam.
Mood Nala perlahan membaik. Ia mulai bisa tersenyum kembali. Mereka berjalan beriringan dengan bergandengan tangan, dengan jaket Nala yang kini terpasang di bahu mungil Kejora. Meskipun jantungnya mesih berdetak tak karuan, setidaknya Kejora tidak segugup ketika Nala memakaikan jaket padanya.
Sudah banyak yang mereka lakukan, mulai dari mencicipi jajanan kaki lima, sampai berkeliling menggunakan sepeda yang disewakan di sana. Kaki Kejora bahkan serasa mau patah, pegal bukan main.
Gadis itu menghentikan langkahnya, menumpukan kedua tangannya di lutut. Ia lantas mendongak, melihat Nala yang kini menatapnya lekat.
"Pegel," adu gadis itu pada sang pacar. Bibirnya mengerucut lucu, membuat Nala begitu gemas.
"Mau di gendong?"
Kedua bola mata Kejora membulat sempurna, ia langsung menggeleng keras sembari mengibaskan tangannya. Tak terbayang olehnya bagaimana jika dirinya di gendong oleh Nala, malu bukan main. Baru membayangkannya saja, jantungnya serasa mau melompat keluar dari tempatnya.
"Mau makan bakso?" Tawar Nala lagi.
"Mau!" Jawab Kejora kelewat antusias.
Nala terkekeh pelan. Ia mengacak dengan gemas puncak kepala Kejora, lantas menggandeng tangan gadis itu untuk menuju kedai bakso yang ada di sebrang jalan.
Wajah Kejora nampak begitu sumringah, membuat Nala menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman manis. Tidak susah membuat gadis itu bahagia.
Namun, tak beberapa lama kemudian, raut wajah Kejora berubah seratus delapan puluh derajat ketika melihat pemandangan di dalam kedai bakso. Ia mengerjap, memastikan matanya tidak salah melihat. Meskipun sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan orang itu, namun gadis itu masih mengenali dengan detail setiap inci wajahnya. Itu Beni, teman dekat Raka. Entah bagaimana bisa pemuda itu ada disini. Karena yang Kejora tahu, Beni berdomisili di Jakarta, bukan Jogja.