Untuk kesekian kalinya, Raka berdecak kesal. Dalam hati, ia merutuki Beni yang menghilang entah kemana. Pemuda itu sudah berjanji untuk menjemputnya di terminal bus Yogyakarta, namun sampai setengah jam menunggu, batang hitung pemuda itu pun belum juga terlihat.
Rasanya begitu menyesal tidak bertanya langsung di mana alamat rumah temannya itu. Raka kemarin mempercayakan semuanya pada Beni, tidak kepikiran jika pemuda itu akan membuatnya menunggu selama ini.
Raka kembali berdecak kesal ketika Beni sama sekali tidak menjawab telponnya. Tak ada satupun pesannya yang di balas. Segala sumpah serapah terucap dalam hati, tertuju pada Beni.
Raka sudah ingin menghubungi Beni kembali, namun urung ketika melihat seorang pemuda yang celingak-celinguk mencari seseorang ditengah keramaian. Itu Beni. Cepat-cepat Raka melambaikan tangannya sembari memanggil, membuat pemuda yang baru melihatnya itu langsung menghampirinya.
"Nunggu lama ya? Sorry deh, kesiangan bangunnya."
Raka mendengus. Namun sudah tak ada lagi tenaga untuk marah-marah. Ia benar-benar lelah. Pasalnya, sepulang kerja, pemuda itu langsung membereskan baju-bajunya, membersihkan diri sejenak dan langsung berangkat menaiki bus agar bisa sampai Yogyakarta pagi-pagi sekali.
Beni yang mengerti langsung membantu pemuda itu membawakan kopernya, lantas mengajaknya untuk beranjak menuju mobilnya. Raka sepertinya butuh istirahat.
Dan benar saja, ketika di dalam mobil, pemuda itu langsung memejamkan matanya, kantuk menyerangnya, karena semalam saat di dalam bus, ia tidak tertidur. Namun Raka tak benar-benar tertidur sekarang. Sejak kecil, pemuda itu tak bisa tertidur di dalam kendaraan.
"Cepetan ya bawa mobilnya, udah capek banget, pengen tidur." Suruh Raka pada Beni.
Pemuda itu mendengus, namun tak ayal mengiyakan.
Beni mengambil rute terjauh menuju rumahnya. Pasalnya, pemuda itu ingin menunjukkan pada Raka dimana dirinya melihat Kejora malam itu.
Sampai di alun-alun kota, Beni menghentikan laju mobilnya, membuat Raka langsung membuka mata, mengira jika mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mengerutkan dahinya dengan bingung. Raka menatap Beni dengan raut meminta penjelasan, membuat pemuda itu tersenyum tipis.
"Disini aku liat Jora." Ujarnya pelan.
Raka mengerjap. Ia terdiam, menatap sekelilingnya dengan linglung. Setelah sadar, pemuda itu cepat-cepat melepas sabuk pengamannya. Belum juga pintu terbuka, Beni sudah menegurnya.
"Mau ngapain?"
"Cari Jora sekarang." Jawab Raka seadanya.
Beni mendengus. Ia langsung menyalakan mesin mobilnya, lantas mengendarainya menjauh dari alun-alun-alun.
"Santai aja lah. Katanya capek, istirahat dulu. Jakarta-Yogyakarta itu jauh. Nanti sore aja aku temenin."
Raka menghela nafas. Benar kata Beni, tubuhnya perlu di istirahatkan sejenak. Ia bersandar di kursi mobil sembari menatap jendela disampingnya, berharap disini ia bisa bertemu dengan adiknya yang menghilang itu.