Stasiun Baru

Topan We
Chapter #1

Sendal Jepit Bandung

Tahun 2012

Tampaknya layar android belum menjadi benda yang benar-benar membuat orang terus menundukkan kepala. Belum ada kebiasaan memotret hampir di setiap sudut jalan, belum ada peta digital yang tinggal disentuh ketika seseorang tersesat. Mereka masih cukup bertanya kepada orang di pinggiran jalan, menunggu tumpangan berjam-jam, lalu menganggap sampai di tempat tujuan saja sebagai sebuah keberuntungan.

Jay masih duduk di kelas tiga SMP ketika itu. Ia bukan anak yang namanya sering disebut guru di depan kelas. Nilai-nilainya biasa saja, begitu pula minatnya terhadap pelajaran. Ada hal-hal yang lebih mudah membuatnya bersemangat daripada buku-buku sekolah. Jalanan yang belum pernah ia lewati, musik yang belum pernah didengar secara langsung, dan ajakan teman yang datang tanpa banyak pertimbangan.

Sejak kecil, Jay seperti punya kebiasaan untuk pergi sebelum benar-benar tahu akan ke mana. Sahabatnya sudah mengenali gelagat orang ini.

Kalau Jay muncul dengan kaus band metal, celana seadanya, dan wajah yang kelihatan begitu bersemangat untuk ukuran seseorang yang tidak punya rencana jelas, biasanya tidak lama kemudian akan terdengar sebuah ajakan.

Ayo Berangkat!

Ke mana?

Entahlah. Yang terpenting melangkah saja dulu.

Rumah Jay perlahan berubah menjadi tempat singgah bagi anak-anak dengan kebiasaan serupa. Teman lama akan datang membawa cerita baru. Teman baru datang memperkenalkan musik dari bermacam aliran. Diantara mereka ada yang duduk di teras, selonjoran di ruang tengah, ada juga yang sibuk memutar lagu dari ponsel sambil berdebat tentang band mana yang paling keras.

Di sanalah rencana-rencana perjalanan sering lahir dengan modal yang nyaris tidak ada. Mereka membicarakan kota-kota yang belum pernah mereka datangi, konser yang tidak ingin mereka lewatkan, tempat wisata yang ingin mereka kunjungi, seolah dunia begitu dekat dan hanya menunggu mereka untuk melaju melintasinya.

Uang sering menjadi perkara belakangan. Kalau tidak punya uang, mereka mencari tumpangan. Tak punya tempat menginap, mereka akan mencari kenalan. Jika lapar, mereka mencari cara. Mereka menyebutnya sebagai menjelajah dunia dengan cara meng-gembel. Dan bagi Jay, itu sudah lebih dari cukup.

Di suatu pagi, ia tidak masuk sekolah. Keputusan tersebut tidak membutuhkan waktu lama untuk dibuat. Sejak beberapa hari sebelumnya, Bandung sudah memenuhi isi kepalanya. Sebuah band metal lokal yang sangat ia idamkan akan tampil di sana keesokan harinya. Bagi yang lain mungkin itu hanya sebuah konser. Tetapi baginya, perjalanan menuju konser itu sendiri sudah merupakan bagian dari pertunjukan. Ia mesti berangkat. Hanya itu.

Tidak ada perhitungan panjang mengenai ongkos. Tidak ada daftar kebutuhan yang harus dibawa. Bahkan tidak ada kepastian bagaimana ia akan pulang nanti.

Di saku celananya hanya ada uang lima belas ribu rupiah. Jay meraba saku itu sekali sebelum berangkat.

Rohman tiba dengan semangat yang serupa. Seperti sahabatnya, ia juga tidak membawa banyak bekal. Hanya kaus yang melekat di tubuhnya, dan sebuah bendera kecil Slank ikut terselip di antara barang-barang yang dibawanya. Bendera itu sudah menjadi bagian dari dirinya, selalu dan mesti ada setiap kali mereka pergi.

Jay mengenakan kaus hitam bergambar band metal favoritnya. Sepatu yang dipakainya sudah mulai kehilangan bentuk. Bagian tertentu pada permukaannya tampak lecet, terlalu sering diajak berjalan tanpa pernah diberi kesempatan untuk beristirahat.

Mereka berdiri diantara kepulan debu yang sedari tadi disambar beberapa kendaraan roda empat. Namun tak ada kendaraan dengan bak terbuka yang mau memberikan tumpangan. Lima menit, sepuluh menit, bahkan hampir satu jam.

Sesekali Jay melambaikan tangan ketika kendaraan melintas, lalu menurunkannya kembali saat kendaraan itu terus melaju.

Hampir setengah putus asa, akhirnya laju sebuah truk melambat di hadapan mereka. Sopirnya membuka kaca dan menepuk ringan pintu mobilnya. Jay dan Rohman segera menaiki tangga kecil di samping pintu.

Bak truk menjadi tempat duduk paling nyaman bagi para penumpang gratis. Angin memukul wajah sepanjang perjalanan, membawa debu dan asap kendaraan. Juga bau jalanan yang panjang. Mereka tidak memperdulikan semua itu.

Kini Bandung semakin dekat. Sekitar delapan jam berlalu, kota itu akhirnya menyambut mereka dengan udara yang begitu menusuk kulit.

Jay turun dari kendaraan dengan kaki kesemutan. Sehingga ia sedikit terguling saat menapak tanah. Dan pakaiannya kini sudah tidak serapi ketika berangkat. Ia memandangi sekelilingnya. Bandung tidak persis seperti yang dibayangkannya, tetapi justru karena itu kota tersebut terasa nyata.

Mereka kini sampai ditujuan. Dan bagi dua remaja yang berpergian hanya dengan modal tekad, uang lima belas ribu rupiah saja, sampai di sebuah kota yang jauh sudah terasa seperti kemenangan kecil. Lalu mereka memutuskan melanjutkan perjalanan ke Lembang.

Lihat selengkapnya