Stasiun Baru

Topan We
Chapter #2

Ingin Menjadi Seniman

Jalaluddin adalah nama yang tercetak di rapor sekolah, surat-surat, dan dokumen keluarga.

Di lingkungan keluarganya, nama itu menjelma sebagai kata asing yang hampir tak pernah dipanggil.

Mungkin hanya ayah dan ibunya yang lebih sering memanggilnya Jalaluddin, selainnya tidak. Ia anak kedua dari empat bersaudara.

Kemudi sebuah perusahaan multinasional kini berada di tangan kakaknya sebagai sopir resmi.

Sejak mulai menerima gaji sendiri, cara bicaranya kepada Jay perlahan berubah. Ada nasihat-nasihat praktis yang dulu terdengar seperti ocehan seorang kakak, tetapi belakangan mulai Jay pahami sebagai sesuatu yang lahir dari pengalaman.

Adik laki-lakinya berbeda lagi. Anak itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan komik dan bacaan anime lainnya. Ia bisa duduk cukup lama tanpa mencari keramaian, sementara Jay hampir selalu menemukan alasan untuk keluar rumah.

Di antara mereka, si bungsu adalah yang paling mudah membuat rumah berubah suasana. Usianya baru dua tahun. Tawanya bisa muncul dari segala ruang, sering kali tanpa sebab yang diketahui siapa pun. Kalau sedang menangis, satu rumah ikut sibuk mencarinya.

Jay menghabiskan masa tumbuhnya dengan berakar di tengah-tengah semua kebiasaan itu.

Ia benar-benar tak pernah merasa rumahnya mengekang. Orang tuanya memberinya ruang untuk bermain, pergi bersama teman-teman, bahkan mengejar kegemarannya sendiri. Hanya ada satu perkara yang selalu dikembalikan kepada Jay setiap kali pembicaraan mengenai pergaulan mulai terlalu jauh.

“Berteman boleh sama siapa saja,” kata ayahnya suatu kali. “Tapi harus tahu batas.”

Jay sudah mengenal gelagat ayahnya. Ia tidak perlu menjawab. Ia belum merasa perlu memikirkan kalimat itu sedalam orang dewasa yang mengucapkannya.

Dunia Jay ketika itu memang belum sejauh dunia yang dibayangkan ayahnya. Sekolah masih menjadi kewajiban yang harus dijalani setiap pagi, tetapi dering bel pulang selalu sukses merampas seluruh konsentrasinya, menerbangkan isi kepalanya jauh sebelum menapak rumah.

Nilai-nilai pelajaran tidak banyak membantunya menemukan sesuatu yang ia sukai. Angka-angka di rapor datang setiap semester dengan pola yang hampir sama, cukup untuk membuat orang tuanya tidak terlalu khawatir, tetapi tidak pernah cukup tinggi untuk menjadi bahan kebanggaan terhadapnya.

Deretan angka yang pas-pasan itu gagal menambatkan jangkar penyesalan di dalam pikiran Jay.

Lihat selengkapnya