Stasiun Baru

Topan We
Chapter #3

Omelan Emak

Jam dinding di ruang tengah berdentang tiga kali. Suara itu terdengar seperti penanda dini hari, tetapi matahari sudah cukup tinggi untuk menumpahkan cahaya ke halaman. Jarum jam menunjuk pukul setengah sebelas pagi. Tirai ruang tengah hanya tertutup separuh. Dari celah kainnya, cahaya masuk dalam garis-garis panjang, jatuh ke lantai, lalu memperlihatkan butiran debu yang bergerak pelan di udara. Rumah masih menyimpan sisa malam yang belum sepenuhnya pergi.

Kamar paling depan menjadi tempat semua anak itu berkumpul.

Bau tubuh remaja yang belum mandi bercampur dengan sisa asap rokok, bungkus makanan cepat saji, dan parfum maskulin murah yang semalam disemprotkan terlalu banyak. Udara terasa pengap meskipun kipas angin tua di sudut ruangan masih berputar dengan suara berderit setiap kali kepalanya bergerak.

Di atas kasur yang nyaris tidak menyisakan ruang kosong, empat anak laki-laki masih pulas.

Jay berada di sisi paling pojok. Kaus yang dikenakannya terangkat sedikit, memperlihatkan pinggangnya yang kurus. Satu lengannya tergeletak di atas bantal, sementara tubuhnya tenggelam dalam tidur yang terlalu panjang.

Di sebelahnya, Deri memeluk bantal dengan kedua tangan. Wajahnya setengah tertutup kain, seolah benda itu adalah satu-satunya orang yang bersedia mendengarkan semua khayalan yang dibawanya sampai pagi.

Lantai lebih berantakan lagi. Botol-botol soda kosong tergeletak di dekat kaki kasur. Bungkus keripik terbuka di bawah meja. Sebuah headset terjuntai dari sisi kursi, kabelnya kusut dan tidak jelas siapa pemiliknya. Di dekat pintu, Dani dan Rohman tidur dengan kaki saling bersilangan.

Tidak ada seorang pun yang tampak terganggu dengan keadaan kamar itu.

Bagi mereka, ruangan tersebut sudah lebih menyerupai markas bandit daripada kamar tidur.

Dan, belakangan ini, kasur itu menjadi tempat paling nyaman menuju Ashar.

Derap langkah kaki dari luar bergegas mendekat, lalu sunyi tepat di depan pintu.

Pintu kamar dibuka paksa.

“Hey... udah jam berapa ini?”

Suara ibu Jay memecah udara pengap dalam sekejap.

Empat tubuh di atas dan sekitar kasur bergerak hampir bersamaan, tetapi tidak ada yang benar-benar bangun. Jay membuka sebelah matanya dengan pandangan yang masih kabur. Begitu menyadari siapa yang berdiri di pintu, tangannya refleks menarik selimut lebih tinggi.

Lihat selengkapnya