Kabut yang sejak pagi menggantung di atas kebun perlahan menipis ketika matahari naik, meninggalkan embun pada daun-daun karet dan jalan tanah yang masih lembap oleh sisa hujan malam, sementara dari kejauhan suara mesin motor mulai bersahutan dengan ayam dan burung yang sejak subuh mengisi halaman-halaman rumah.
Hana melepas embusan napas yang panjang. Seragam SMP yang dikenakannya sudah disetrika rapi. Untaian rambutnya tersimpul rapi di belakang tanpa hiasan. Segala yang melekat di tubuhnya terkesan pas dan tidak mencolok.
Baru saja ia melangkah keluar menyeberangi pelataran, ada kehangatan di parasnya yang membuat siapa pun langsung mengenalinya.
Ia memang tumbuh di kampung. Namun, setiap kali Hana berdiri di antara mereka, ada sesuatu yang membuat orang sering menebak-nebak asalnya.
Kulitnya bersih, matanya bening dan selalu tampak seperti sedang memperhatikan sesuatu yang berada sedikit lebih jauh dari apa yang terlihat di hadapannya.
Kendaraan roda dua berkelir hitam itu telah menunggu untuk dinyalakan.
Bagi mayoritas perempuan muda di sana, status kepemilikan roda dua pribadi adalah hal yang sangat tidak lumrah.
Terlebih bagi seorang siswi SMP yang setiap pagi mengendarainya ke sekolah.
Hana memasang helm.
“Bapak, Hana berangkat dulu,”
Suara langkah kaki terdengar sebelum akhirnya Pak Hotib muncul dari dalam rumah.
Sulit sekali mendapati guratan senyum di wajah lelaki itu. Wajahnya selalu membawa kesan serius, bahkan ketika sedang berbicara kepada anak sendiri.
“Hati-hati di jalan. Kalau hujan, tunggu reda. Jangan dipaksakan.”
“Iya, Pak.”
Dari teras rumah, lambaian tangan ibu dan Aang mengiringi deru motor Hana yang mulai menjauh.
Bagi Pak Hotib, punggung anaknya yang kian menjauh tidak sekadar pergi belajar, melainkan sedang menjemput mimpi yang letaknya entah di mana.
Lelaki itu tak sudi membiarkan label anak kampung menjadi batu sandungan bagi mimpi-mimpi Hana.
Ia ingin anak itu melihat dunia yang selama ini tidak pernah sempat ia lihat sendiri.
Di beberapa tempat, pohon karet berdiri berjajar dengan batang-batang yang telah lama dikenalnya. Anak-anak sekolah yang berjalan kaki sesekali melambaikan tangan ketika motornya melaju.