Jay menyeberangi jembatan pertama masa remaja dengan kepala tegak dan selembar kelulusan.
Secara administratif, namanya memang masih tercatat sebagai salah satu siswa yang berhasil menyelesaikan sekolah. Tetapi jika seseorang bertanya kapan terakhir kali ia benar-benar duduk di bangku kelas, Jay sendiri mungkin akan kesulitan mengingatnya.
Semester terakhir lebih banyak dilewatinya di luar gerbang sekolah.
Ketika teman-temannya sibuk memikirkan ujian, buku-buku pelajaran Jay justru semakin jarang terbuka. Pagi hari yang seharusnya dihiasi seragam dan upacara berubah menjadi jalanan, suara mesin, tongkrongan, atau kamar rumahnya yang selalu dipenuhi teman.
Keputusan itu sebenarnya sudah lama tumbuh di kepalanya. Di sekolah benar-benar tidak pernah membuatnya merasa berada di tempat yang tepat.
Sebaliknya, berada di jalanan membuatnya merasa lebih dekat dengan sesuatu yang belum bisa ia jelaskan. Di sana, Jay merasa menjadi dirinya sendiri.
Ayah dan ibunya sudah melewati banyak cara. Kalimat-kalimat teduh yang menyusup pelan ke dalam hatinya. Bahkan doa yang diam-diam dipanjatkan ibunya setelah semua orang tidur pun tidak mampu membuat Jay kembali memutar langkah.
Senyap menyergap tatapan kedua orang tua itu saat menyadari bahwa anak mereka telah memilih jalan seberang, meninggalkan cetak biru masa depan yang mereka tawarkan.
Ibunya masih berusaha. Setiap kali Jay hendak keluar rumah, selalu ada saja yang ingin disampaikan.
Jay lebih banyak menyerahkan responsnya pada gerakan kepala. Kalaupun bersuara, itu hanya berupa satu atau dua patah kata, sebelum akhirnya dia kembali tenggelam dalam keheningan. Bukan karena ia tidak mendengar. Hanya saja, di kepalanya sudah ada jalan lain yang ingin ia coba.
Setelah lulus SMP, ia memutuskan bekerja.
Usianya belum cukup untuk membuat orang-orang menganggapnya sebagai lelaki dewasa. Ijazah SMP di tangannya juga tidak membuka banyak pintu. Ia tidak memiliki keahlian khusus yang bisa dijual dengan mudah, kecuali kemampuan menggambar dan keberaniannya untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tidak membuatnya harus kembali duduk di bangku sekolah.
Namun ada satu hal yang sejak awal tidak ingin ia korbankan. Harga dirinya. Bagi Jay, meminta uang kepada bapak atau ibunya sudah jadi pantangan. Mulai hari itu setiap kepulan asap rokok yang ingin dihisapnya harus dibayar dengan keringat sendiri. Rasa lapar bukan lagi urusan dapur rumah, melainkan teka-teki yang harus dipecahkan oleh isi kepalanya. Bahkan untuk berpergian pun, dia harus memastikan kakinya punya ongkos untuk sampai ke tujuan.