Pagi sekali, Jay sudah sampai di bengkel Mas Jono dekat rumahnya.
Tempat itu lebih mirip halaman luas yang perlahan berubah menjadi rumah bagi kendaraan-kendaraan besar, truk tronton yang bagian mesinnya terbuka, bak-bak pasir yang menunggu diperbaiki, ban-ban bekas yang disandarkan di dinding, serta perkakas yang hampir selalu berpindah tangan.
Jay memang bukan kenek tetap. Namun tiga bulan terakhir membuat keberadaannya di sana nyaris tidak lagi dipertanyakan.
Setiap ada truk yang hendak berangkat, namanya tak pernah absen dipanggil. Tangannya selalu sibuk bekerja, memastikan setiap armada bersih dan layak jalan sebelum roda-rodanya berputar.
Dari situlah ia mendapatkan uang yang tak seberapa, tetapi selalu merasa cukup untuk makan siang, rokok, atau beberapa liter beras yang sesekali dibawanya pulang ketika persediaan di dapur mulai menipis. Ia tidak keberatan. Ada kepuasan tertentu setiap kali melihat ibunya menerima beras yang dibelinya sendiri.
Selebihnya, hidup berjalan seperti biasa. Hanya ada satu hal yang diam-diam berubah.
Sejak seorang gadis berseragam SMP melintas di hadapannya, sepasang mata Jay seperti menemukan kiblat baru.
Setiap kali tangannya sibuk bekerja, fokusnya justru kerap tersesat ke arah jalan raya.
Begitu sayup suara motor tertangkap telinga, dia akan menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu kembali sibuk sedetik kemudian.
Ia sendiri tidak pernah mengerti mengapa wajah gadis itu sesekali muncul di sela-sela pekerjaan seperti potongan lagu yang terdengar dari radio tetangga, dikenali nadanya, tetapi tidak dimengerti maksudnya.
Tepat sepekan berlalu, dan pagi itu Jay sudah menampakkan diri jauh sebelum jam biasanya.
Sore nanti, ada satu armada truk yang sudah dijadwalkan untuk mengangkut muatan pasir.
Sisa perjalanan kemarin meninggalkan debu tebal di bagian moncong truk. Jay pun segera meraih kain lap basah dan mulai membersihkan kaca yang buram itu.
Di bawah langit pagi yang belum terlalu terik, hawa sejuk masih terasa di kulit ketika sayup-sayup suara motor mulai terdengar dari arah ujung jalan. Tangannya berhenti.