Kedua mata Jay mendadak beringsut terbuka, terlempar kembali ke realitas untuk menatap langit-langit kamarnya yang suram.
Hal seperti itu jarang terjadi kecuali ada pekerjaan yang mengharuskannya berangkat pagi. Biasanya, kalau tidak sedang mendapat jadwal menarik truk, ia baru membuka mata ketika cahaya matahari sudah menembus celah-celah jendela merambat ke dalam kamar. Namun pagi itu berbeda. Sejak semalam, pikirannya sudah dipenuhi satu tujuan yang membuat tidur terasa seperti gangguan kecil yang harus segera dilewati.
Di sudut kamar, kaus Baduy Rock N' Roll sudah tergantung sejak malam. Celana yang akan dipakainya tergeletak di atas kursi. Sebuah bungkus rokok dimasukkan ke saku, kemudian dikeluarkan lagi untuk memastikan isinya masih cukup. Jay menghitung uang yang disimpannya beberapa minggu terakhir, lalu memasukkannya kembali ke dompet dengan hati-hati.
Sialnya, uang itu sudah bersekutu dengan rencana lain, ingin membeli sebuah BB second.
Bukan semata karena benda itu sedang digandrungi anak-anak muda di sekitarnya, tetapi karena dengan telepon itu ia bisa lebih leluasa berkirim pesan dengan Hana tanpa harus terus-menerus meminjam BB milik Fahmi.
Setiap malam, ia menghitung sisa peluh dari aspal hari itu, kini tumpukan nya hampir setinggi angka yang selama ini mengikat mimpinya.
Tetapi akhirnya rencana membeli BB bisa menunggu. Tetapi untuk Burgerkill tidak.
Rencana konser yang sudah sebulan meracuni kepala mereka mendadak jadi godaan yang mustahil ditolak.
Bagi Jay, perjalanan menuju Tangerang saja sudah merupakan bagian dari kesenangan.
Ia membiarkan Rohman, Deri, dan Dani menerka-nerka, tanpa pernah membocorkan bahwa rupiah di sakunya sudah sanggup membeli BB second.
Kalau mereka tahu, mungkin pembicaraan tentang perjalanan hari itu akan berubah menjadi urusan ongkos, makan, atau mungkin bisa saja mencari kendaraan umum yang lebih pasti.
Sejurus kemudian, pertigaan itu kembali riuh oleh kehadiran mereka, sebuah dermaga aspal yang biasa melepas mereka pergi.
Keempat pemuda berseragam kaos Baduy Rock N' Roll itu tegak berdiri, menciptakan pemandangan anarki yang mendobrak keheningan pagi.
Logo komunitas itu terpampang di dada mereka, motif tenun Baduy yang dipadukan dengan tengkorak dan gitar listrik.
Komunitas tersebut mereka bentuk dua tahun sebelumnya dari kegemaran yang sama terhadap musik cadas. Anggotanya tersebar di beberapa desa sekitar, tetapi pagi itu hanya mereka berempat yang benar-benar berangkat.
Dani merogoh saku celananya.
“Bawa rokok enggak?”
Jay mengeluarkan sebungkus rokok murah yang sudah sedikit penyok karena tersimpan di saku.
“Setengah bungkus. Sisanya buat di jalan.”
Deri tertawa.
“Kalau di jalan sudah habis bagaimana?”
“Cari lagi.”