Halaman kecil usaha cucian mobil bapak Jay riuh oleh lengkingan mesin steam yang memekakkan telinga.
Asap putih tipis naik dari selang tekanan tinggi yang bergerak lincah di tangan bapak Jay, sementara air bercampur sabun mengalir deras ke selokan kecil yang mengiris bagian depan bengkel. Sore itu langit tampak menguning, meninggalkan panas yang belum benar-benar pergi.
Sebuah mobil pick-up berhenti di depan gerbang. Catnya kusam, namun baknya penuh bekas noda hitam pekat yang mengering, mengeluarkan bau karet yang kuat. Aroma khas yang hanya dikenal oleh orang-orang yang hidup dari kebun dan pabrik karet.
Setiap goresan dan karat pada mobil pick-up itu adalah rekam jejak bertahun-tahun keringat Pak Hotib dalam merintis usahanya di kampung.
Di garasinya kini terparkir satu pick-up keluaran terbaru yang masih kinclong. Namun, untuk urusan angkut barang berat yang berisiko menggores bodi, ia sengaja mengistirahatkan mobil baru itu dan tetap mengandalkan si tua pelayan setianya.
Pak Hotib turun dari mobil sembari menepuk celananya yang terkena serpihan getah.
“Steam, Kang!” sapanya lantang.
“Masukin aja!” jawab bapak Jay sembari menarik selang.
“Wah, tebal banget ini. Baru beres ngirim ya?”
“Iya, baru pulang,” jawab pak Hotib, menghela napas panjang.
"Kaya nya banyak hari ini?"
“Satu ton kurang sedikit doang. Alhamdulillah lumayan. Harganya lagi bagus.”
Bapak Jay menyalakan mesin steam. Sesekali ia batuk kecil.
"Bantu modal nih, pak bos,"