Kelopak mata Jay terbuka tepat saat langit di luar jendelanya masih berwarna kelabu pudar, mendahului alarm yang belum sempat berbunyi.
Lembaran uang di depan mata bukan sekadar target, melainkan tiket utama untuk menggerakkan roda rencana besar yang sudah ia susun rapi di balik kepala. Datang ke Clavo Premio Filter Konser 30 tahun Slank di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Jay sengaja menyerahkan kembali tubuhnya pada kerasnya rutinitas kenek yang menguras tenaga. Baginya, rasa remuk di badan hari ini adalah ongkos wajib untuk membeli malam yang akan mengubah segalanya.
Konser Slank bukan sekadar tontonan. Bagi Jay dan teman-temannya, itu adalah perayaan hidup.
Rekaman masa muda mereka yang tersimpan dalam pita kaset usang dan folder MP3 bajakan, kini akan segera mewujud nyata dalam gemerlap lampu sorot yang megah.
Sayangnya, kilau impian itu meredup di mata Hana. Sisa malam sebelum keberangkatan justru mereka habiskan dengan saling melempar argumen dingin lewat ketikan SMS yang kaku.
Hana: "Kamu yakin mau ke Jakarta nebeng-nebeng gitu?"
Jay: "Yakin. Ini konser Slank, Yank."
Hana: "Kamu kerja capek-capek, terus mau nge-BM segala. Kenapa harus maksa?"
Jay: "Ini bukan paksaan. Ini udah rencana saya dari lama."
Keheningan dari seberang sana terasa mencekik. Jay tahu Hana sedang muak membayangkan Jay nekat melakoni hidup ala backpacker ekstrem, tidur di sembarang tempat, menjadi penumpang gelap dan pulang hanya membawa punggung yang pegal serta dompet kosong melompong.