Stasiun Baru

Topan We
Chapter #16

Fase Baru

Di ruang tamu, dua koper besar berdiri kaku seperti sepasang penjaga yang siap merenggutnya dari kenyamanan rumah. Sebuah tas punggung bersandar pasrah pada dinding, sementara di dekat pintu, sekotak kardus berisi aroma tajam buku-buku baru dan tumpukan alat tulis mendekam dalam diam. Sudut itu seolah merangkum seluruh babak baru yang sebentar lagi harus ia mulai.

Bahkan sebelum kokok ayam pertama membelah kesunyian di subuh ini, Ibu Hana sudah menjelma bayang-bayang yang tak bisa diam, jemarinya gemetar memeriksa detail demi detail, enggan membiarkan barang sekecil apa pun tertinggal di belakang.

Sesekali ia mengingatkan Hana hanya untuk memastikan hal-hal sepele, kaus kaki, alat mandi, sampai barang-barang makeup yang diselipkan ke dalam tas.

Sofa itu seolah mengecil saat Hana menyudut di ujungnya, menyapu setiap lekuk ruang tamu dengan tatapan yang sarat akan emosi. Ada binar gembira yang berkelindan dengan rasa gugup, namun di dasar hatinya, kabut ketakutan perlahan mulai menebal.

Hari ini menandai babak baru hidupnya sebagai penghuni kota, sebuah kamar kos di dekat SMA negeri impian kini resmi menjadi tempat barunya. Keputusan itu diambil demi memangkas jarak perjalanan dari rumahnya, sebuah bentangan jarak yang memakan waktu hampir satu jam setiap harinya.

Keputusan bapak dan ibunya sudah bulat: sepetak kamar indekos adalah ruang yang harus Hana huni. Di sana, ia diharapkan mampu menautkan fokus pada lembar-lembar buku, menyelamatkan energinya dari rengkuhan jalanan yang melelahkan, sekaligus belajar mandiri.

Pak Hotib melangkah keluar dari kamar dalam balutan kemeja rapi dan celana kain yang jatuh dengan sempurna. Gurat wajahnya masih sekaku biasa, namun di balik topeng ketegasan itu, ada binar kebanggaan yang berpendar halus dari sepasang matanya.

Langkah anak perempuannya menembus gerbang SMA negeri favorit di kota adalah sebuah lompatan besar. Gerbang itu tidak hanya terbuka untuk masa depan Hana, tetapi juga menjadi panggung yang menyepuh nama keluarga mereka.

“Jangan lupa, jaga diri baik-baik,” kata Pak Hotib sambil membantu mengangkat koper ke mobil pick up. “Di kota itu macam-macam orang. Bapak enggak selalu bisa ada buat ngawasin kamu.”

Hana mengangguk. “Iya, Pak.”

Ibunya menimpali dengan suara lebih lembut, “Kalau ada apa-apa, langsung telepon. Jangan dipendem sendiri.”

Hana duduk di bangku depan, memandangi jalan yang makin lama makin ramai. Dalam hatinya, ia tahu, hidupnya akan benar-benar berpindah ke fase baru.

Tempatnya menetap nanti tersembunyi di balik lekuk gang kecil yang letaknya selemparan batu dari sekolah. Sebuah bangunan dua tingkat berarsitektur sederhana, dengan gerbang besi mendekap erat bagian depannya, selalu terkunci. Kost khusus putri.

Lihat selengkapnya