Stasiun Baru

Topan We
Chapter #17

Semakin Dekat

“Besok kamu kerja lagi?”

Jay membaca SMS itu sambil duduk di bak truk yang baru saja selesai dibersihkan. Tangannya masih basah. Ia mengusap layar ponsel dengan ujung kaus sebelum membalas.

“Belum tahu.”

Layar ponselnya kembali menyala.

“Kalau jadi, kabarin.”

Jay tersenyum.

"Kenapa?”

“Enggak kenapa-kenapa.”

“Kalau enggak narik?”

“Ya enggak apa-apa.”

Jay membaca percakapan itu sekali lagi. Ada sesuatu yang membuatnya ingin tertawa, meski tidak ada satu pun kalimat Hana yang terdengar lucu.

“Kalau aku enggak kesana?”

Hana baru membalas setelah beberapa saat.

“Ya udah enggak apa-apa.”

Jay mengetik.

“Berarti enggak kangen?”

Layar ponselnya kembali diam. Salah satu pekerja di dekatnya menepuk bak truk.

“Jay! Turun. Bantuin ambil air dulu!”

“Iya!”

Ponsel itu kembali ke saku celananya. Jay turun dari bak truk.

---

Lama-lama, pertemuan itu seperti menemukan jalannya sendiri. Jay tidak selalu datang dengan rencana. Ada kalanya pekerjaan mengantarnya ke kota. Ada kalanya kabar kiriman baru diterima setelah truk siap berangkat. Selebihnya, Jay hanya perlu melihat jalan yang sudah dikenalnya untuk tahu ke mana harus berhenti. Tetapi kalau ada kesempatan, ia selalu mencari celah untuk bertemu dengan kekasihnya. Lama-kelamaan, kedatangan itu tak lagi terasa asing bagi Hana. Begitu melihat sosok Jay di ujung gang, Hana hanya perlu memastikan keadaan sekitar sebelum membuka pagar. Ia hanya perlu melihat sebentar, lalu buru-buru memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka.

“Dari mana?”

“Dari proyek.”

“Udah makan?”

“Belum.”

Napas Hana keluar pelan.

“Kenapa belum?”

“Lupa.”

“Makan aja bisa lupa”

“Kan ada kamu.”

“Maksudnya?”

“Ya ingetin.”

Pandangan Hana tertahan di wajahnya sebelum akhirnya beralih.

“Basi tau.”

Jay membalasnya dengan tawa. Mereka berjalan ke warung kecil di dekat gang.

Sore itu berjalan sebagaimana biasanya. Dua gelas minuman, beberapa gorengan, lalu obrolan yang berpindah dari sekolah Hana ke pekerjaan Jay. Cerita Hana beralih pada salah seorang gurunya yang menurutnya terlalu galak. Jay membalas dengan cerita tentang sopir yang sepanjang perjalanan tidak berhenti mengomel gara-gara jalanan macet. Nama teman-teman mereka sesekali ikut terselip dalam obrolan. Selebihnya, pertanyaan sederhana seperti sudah makan atau belum sudah cukup membuat percakapan terus berjalan.

Tetapi sekarang mereka tidak lagi membutuhkan alasan untuk berbicara.

---

Pada sore lain, Jay kembali muncul di sekitar kost. Ia datang membawa sebuah kantong plastik hitam. Dari kursi di depan kost, Hana menangkap sosoknya lebih dulu.

“Apa itu?”

Jay mengangkat kantong tersebut.

“Buat kamu.”

Hana mengambilnya.

“Apaan?”

“Buka aja.”

Di dalamnya ada dua bungkus makanan dan sebuah minuman kemasan. Mata Hana beralih kepadanya.

Lihat selengkapnya