Ponsel Jay bergetar ketika ia baru saja mematikan mesin truk. Satu pesan masuk dari Hana.
“Kamu dimana?”
Jay membaca pesan itu sambil berdiri di samping bak truk yang masih dipenuhi sisa pasir. Ia mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi.
Jay:
“Baru selesai kerja.”
Balasan Hana datang tidak lama kemudian. Hana:
“Mau ke sini enggak?”
Jay memandanginya entah itu penawaran atau sekadar pertanyaan Mungkin pertanyaan yang belakangan mulai cukup untuk membuatnya mengubah rencana. Ia memasukkan ponsel ke saku.
“Mau balik?” tanya sopir dari dalam kabin.
Jay mengangkat bahu.
“Ke Balong dulu.”
(Balong adalah tempat dimana Hana tinggal di kost sana)
Sopir itu hanya mengangkat tangan, lalu menyalakan rokok. Jay mengambil kaus bersih dari tas kecilnya. Ia berganti pakaian di balik pintu dump truk sebelum berjalan menuju gang yang sudah beberapa bulan terakhir ia datangi. Hana sudah berada di dekat pagar ketika suara kendaraan berhenti di ujung gang. Tidak menggunakan seragam. Hanya kaus lengan panjang dan celana rumah. Rambutnya diikat seadanya.
Hana membiarkan Jay mendekat sampai jarak mereka tinggal beberapa langkah.
“Lama,” katanya.
“Baru juga datang.”
“Dari tadi.”
Jay melihat jam di hp nya.
“Lima menitan.”
“Lima menit itu lama."
“Buset. Ya udah. Maaf.”
Hana membuka pagar secukupnya, lalu memberi isyarat dengan tangannya.
“Masuk duluan.”
Jay berhenti.
“Di depan ada orang.”
“Udah masuk aja.”
Jay melirik ke arah rumah kost. Gang terlihat sepi.
“Yakin?”
"Iya. Udah buruan."
Jay memasukkan ponselnya ke saku, lalu melewati pagar.
Hana meletakkan buku yang sedang dibacanya ke samping. Jay memilih duduk di dekat meja, masih sedikit kikuk dengan keadaan yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Jay duduk di lantai.
“Buku kamu berantakan amat. Lagi ada tugas?”
Hana membereskan satu per satu buku yang terbuka di atas meja.
“Harusnya.”
“Terus?”
“Nanti aja.”
“Ulangan?”
“Bukan.”
Hana berhenti membolak-balik halaman.
“Biar kelihatan rajin.”
Jay memalingkan muka sambil mengusap hidungnya. Hana kembali menunduk pada bukunya, tetapi sudut bibirnya belum kembali lurus.
Di luar, suara motor sesekali melewati gang. Dari kamar sebelah terdengar suara televisi. Selebihnya hanya bunyi kipas angin yang berputar lambat. Jay mengambil sebuah pulpen dari meja.
“Ini punya kamu?”
“Iya.”
“Kaya masih baru?”
“Udah lama."
“Kayaknya enggak pernah dipake.”
Hana merebut pulpen itu dari tangannya.
“Jangan diutak-atik.”
Jay menemukan sesuatu diantara tumpukan buku Hana.
“Ini pin dapat darimana?”
“Dari temen.”