Kunci motor itu meluncur lepas dari jemari Jay, menghantam permukaan meja dua kali dengan bunyi nyaring sebelum bergeming di sisi bungkus rokok yang nyaris kosong.
Malam bergulir tanpa riak bagi orang-orang di rumah, namun Jay tahu ada yang berbeda sejak sore tadi, ia pulang membawa sebuah beban tak berwujud yang menolak untuk diletakkan di mana pun.
Ia bertumpu di pinggiran kursi, memburu waktu untuk menyesap sebatang kretek. Gulungan asap pertama bahkan belum sempat mengurai di udara ketika bayangan sang kakak mendadak melintas.
“Belum mandi?”
“Nanti.”
Malam kian melarutkan segalanya, kecuali Jay yang masih tertahan di tempat semula. Di jemarinya, sebatang rokok telah mati menjadi abu panjang, menjadi satu-satunya penanda berapa lama ia telah melamun di sana.
Ia menjentikkan ujungnya ke asbak, lalu mengambil ponsel.
Nama Hana terpampang di baris teratas, diam membisu tanpa ada satu pun notifikasi baru. Demi mengusir sunyi yang mendesak, Jay akhirnya menyerah dan mengetuk ruang obrolan lama mereka, mencari sisa-sisa kehangatan di sana.
Ibu jarinya perlahan menggulirkan waktu ke belakang, melewati tumpukan obrolan yang sudah basi. Di satu titik, gerakannya membeku. Matanya tertuju pada satu pesan yang paling membekas.
“Aku kangen.”
Jay membaca kalimat itu sekali lagi.
Kemudian layar dimatikan.
-----
Matahari terbit membawa kembali bising dunia yang tidak peduli pada malam melelahkan Jay. Truk-truk besar sudah menunggu untuk dijejali muatan, dan tumpukan pasir hari itu terasa dua kali lipat lebih berat untuk ia pindahkan.
Jay masih terpaku di sisi lambung truk ketika seruan seorang rekan kerja membuyarkan lamunannya, memintanya mengoper alat bongkar.
“Yang itu dulu!” teriak temannya lagi.
Jay mengerjapkan mata, mencoba menyatukan kembali fokusnya yang tercecer sebelum melempar pandang ke arah benda yang ditunjuk.
“Yang belakang?”
“Iya.”
Kecekatan yang biasa Jay pamerkan menguap entah ke mana. Alih-alih langsung menyambar barang yang ditunjuk, ia melakukan gerakan memutar, merogoh saku, menjepit sebatang rokok di mulut, dan membiarkan asapnya mengepul tipis sebelum akhirnya tangannya menyentuh perkakas besi itu. Jay menenteng dongkrak.
Kejadian di gazebo beberapa hari lalu telah meninggalkan bekas luka yang tak terlihat, mengubah cara Jay mencerna setiap perintah.
Tangannya memang masih patuh menyekop pasir dan melakoni rutinitas tanpa cela, tetapi kepalanya tidak lagi sekosong dulu. Kini, setiap kali roda truk berputar, Jay mulai menuntut jawaban. Berapa upah yang sepadan untuk risikonya, ke lubang mana barang-barang ini bermuara, dan untuk siapa sebenarnya ia sedang memeras keringat.
Suara Pak Hotib yang mempertanyakan masa depannya sesekali masih menyelinap di antara bising deru truk, namun Jay memilih bungkam. Ia tidak lagi tertarik mengumbar janji manis dari mulutnya. Suatu hari nanti, ia bersumpah akan membawa pulang sebuah jawaban nyata yang tak bisa didebat oleh siapa pun.
-----
Hana pun mulai menemukan rumusnya sendiri untuk mematahkan kepatuhan. Saat sang bapak menodongnya dengan pertanyaan ketus perihal jam kepulangannya yang molor, tidak ada lagi kepanikan untuk merangkai kebohongan.
“Tadi di sekolah.”
“Sampe Magrib?”
“Biasanya juga sampe sore. Kan ada tugas.”
Pak Hotib menutup teleponnya.
Sepanjang hari, ponsel Hana membisu tanpa satu pun panggilan masuk. Setibanya di kamar, ia mengempaskan tas ke meja, mengeluarkan buku, lalu menjatuhkan diri di kursi. Gadis itu meletakkan ponselnya tepat dalam jangkauan jemari, menghitung waktu dalam hening hingga beberapa menit berlalu, dan sebuah binar cahaya mendadak menyembur dari layar yang menyala.
Jay:
“Udah sampai?”
Hana:
“Udah.”
Jay:
“Kamu dimarahin?”
Hana hanya menarik napas dalam-dalam.