“Besok kamu jadi kesini?”
Jay baru saja menyeka sisa makan malamnya ketika sebuah kedipan lampu di layar ponsel yang sedari tadi tak lepas dari jemarinya.
Kehidupan di ruang depan bergulir lewat celoteh televisi dan batuk rejan bapak yang khas, tetapi dunia Jay mendadak menyusut, hanya menyisakan sebaris pesan yang kini ia baca ulang dengan napas tertahan.
“Kalau jadi?”
Balasan Hana datang tidak lama.
“Cuma pengen ketemu.”
Jay mundur selangkah sampai permukaan dinding yang kaku menahan punggungnya.
“Bukannya kemarin baru ketemu?”
“Kan kemarin.”
“Terus?”
“Ya enggak terus-terus. Kalau kamu sibuk enggak usah.”
Rentetan kata di layar itu memaksa jemari Jay naik, menyapu wajahnya yang mendadak terasa lelah. Layar ponselnya dibiarkan meredup tanpa balasan, bukan karena ia kehilangan kata-kata, melainkan karena kebenaran yang ingin ia kirimkan terlampau ringkas untuk sebuah situasi yang serumit ini.
“Aku juga pengen.”
Setelah itu percakapan mereka beralih ke hal-hal kecil.
-----
Jarum jam merayap mendekati angka sembilan ketika Jay akhirnya menapakkan kaki di sana. Truk sewaan yang menemaninya seharian telah mendekam aman di dalam garasi. Ia turun tepat di remang-remang sebuah warung, yang papan kayunya masih terbuka separuh meski sebagian besar lampunya sudah dimatikan.
Malam kian larut dan jalanan perlahan melengang. Jay berjalan dengan tas kecil yang menyampir pasrah di bahunya, menyongsong Hana yang rupanya telah lama menunggu di mulut gang. Saat tatapan mereka bertemu, ada kesepakatan bisu yang tercipta.
Kepul uap dari mangkuk mi dan cangkir kopi mencuat dari balik etalase warung seberang jalan yang masih terjaga. Jay dan Hana bergeser ke sana, menenggelamkan diri pada bangku panjang yang melempar pandangan mereka lurus ke arah jalanan.
“Kamu belum makan?” tanya Hana.
“Udah.”
“Bohong.”
“Serius.”
Hana menunjuk wajahnya.
“Kalau udah makan, kenapa lesu?”
Jay mengusap pipinya.
“Emang iya?”
“Banget.”
Mereka memutuskan untuk berbagi sepiring kehangatan di bawah temaram warung, ditemani dua gelas minuman yang mulai berembun. Kalimat demi kalimat meluncur tanpa muara yang jelas, berkejaran dengan bising motor yang sesekali lewat atau teriakan lirih pedagang malam.
Pertemuan mereka malam itu tandas bersama sepiring makanan yang habis tak bersisa, tepat saat dunia di luar warung mulai melambat menyongsong pukul sepuluh.
“Kamu pulang?” tanya Hana.
Jay melihat jam di ponselnya.
“Harusnya.”
“Terus?”
Jay hanya membalas dengan seulas angkatan bahu yang samar, disambut kebungkaman nya Hana yang enggan memecah senyap. Langkah kaki mereka kembali berayun menyusuri aspal menuju mulut gang kost. Di kanan kiri jalan, satu per satu teras rumah mulai tenggelam dalam gulita seiring gelapnya lampu depan.
Di sela bising knalpot jalan besar yang menelan riuh siaran langsung sepak bola dari dalam rumah tetangga, Hana menghentikan langkahnya tepat di ambang gerbang kost, membalikkan badan dengan ragu.