Stasiun Baru

Topan We
Chapter #23

Terus Mengelak

“Semalam kamu tidur jam berapa?”

Pertanyaan itu muncul begitu saja ketika Hana sedang menyisir rambut di depan cermin. Ia berhenti sebentar.

“Enggak tahu. Ketiduran.”

Teman sebelah kamarnya masih sibuk mencari sesuatu di dalam tas.

“Kirain kamu keluar.”

“Keluar sebentar.”

“Ke mana?”

Hana meletakkan sisir.

“Beli minum.”

Begitu ringkas kalimat itu keluar, seolah-olah lidahnya sudah punya jalan pintas sendiri. Ada kengerian halus yang terlambat ia rasakan, menyadari bahwa dalam beberapa minggu ini, ia semakin karib memendam kebenaran di balik jawaban-jawaban palsu yang kini menumpuk di sudut kepalanya.

Kebungkaman temannya menjadi penutup bagi obrolan semalam, membiarkan fajar mengambil alih ritme yang baru. Riuh kos-kosan kembali berdenyut lewat deburan air dan benturan pintu kamar mandi yang dibuka-tutup bergantian, bersahutan dengan langkah kaki yang tergesa memburu waktu di sepanjang selasar

Pagi bergulir lewat dengung air keran dari lantai atas dan suara remaja sebelah rumah yang sedang berkejaran dengan materi hapalan sekolahnya. Di dalam kamarnya, Hana baru saja mengancingkan ritsleting tas saat gawai di dekatnya mendadak bergetar lambat.

Jay :

“Udah bangun?”

Hana membalas sambil berdiri di depan pintu.

“Udah.”

Ia memasukkan ponselnya ke saku, lalu menepuk permukaannya pelan seolah sedang menenangkan badai di dalam sana. Selesai sudah. Cara malam kemarin berakhir adalah sepotong memori yang sengaja ia telan bulat-bulat, tanpa niat untuk memuntahkannya kembali menjadi sebuah cerita.

-----

Begitu kakinya menapak di lantai rumah pagi itu, rangkaian dusta penenang telah tersusun rapi di kepala, ia tidur nyenyak semalam, tak melangkah ke mana pun. Namun, skenario itu mendadak retak saat ia menyeret langkah ke dapur, penampilannya yang kacau dengan rambut mencuat acak dan sepasang mata merah yang bengkak seketika membuat pisau ibunya berhenti berdenting di atas talenan.

“Semalam pulang jam berapa?”

Jay mengambil gelas dari rak.

“Enggak malam.”

“Jam berapa?”

Jay menuangkan air.

“Jam sebelasan.”

Ibunya tidak langsung menjawab. Pisau di tangannya kembali bergerak di atas talenan.

“Besok kerja?”

“Iya.”

“Udah gajihan?”

Tangan Jay berhenti di atas gelas.

“Ada.”

“Berapa?”

Jay menoleh. Ibunya tidak sedang mengulurkan tangan. Tidak pula memasang wajah orang yang hendak meminta sesuatu.

Ia hanya melanjutkan pekerjaan di depannya.

“Kenapa emang?”

“Enggak kenapa-kenapa.”

Jay menarik dompet dari saku.

Ia menghitung lembaran uang yang tersisa.

“Segini.”

Ibunya melirik sekilas.

Lihat selengkapnya